Nilai Sejarah dan Atraksi Alam di Bukit Kelam
3 Agustus 2024. Hal. 17
Kabupaten Sintang memiliki begitu banyak kekayaan alam dan budaya. Ragam atraksi ciptaan ilahi ada di sana. Membuat kabupaten ini berpotensi besar jadi ikon pariwisata.
“JANGKUNG benar Bukit Kelam.” Itulah kalimat yang diungkapkan Hendra Cipta, wisatawan asal Pontianak. Ungkapan itu memang benar adanya. Dari jarak berkilo-kilo meter, bukit itu memang sudah terlihat. Dari kejauhan terlihat seperti batu besar tinggi menjulang. Hitam kelam dengan puncaknya yang hijau ditumbuhi tanaman.
Dataran tinggi itu memang sudah dikenal seantero Kalimantan Barat (Kalbar). Masyarakat menjulukinya Bukit Kelam.
Bukit tersebut memiliki ketinggian mencapai 1.002 meter di atas permukaan laut (MDPL). Panjangnya belum diketahui dengan pasti, diperkirakan 2-3 kilometer. Satu ujungnya berada di Desa Kebong dan ujung lainnya berada entah di mana. Yang pasti luas areanya mencapai 520 hektare.
Bukit itu merupakan formasi batu monolit, batu yang tersusun secara alami karena proses erosi yang terjadi ratusan, bahkan ribuan tahun. Namun, banyak spekulasi soal asal muasal dari batu itu.
Satu versi menyebut batu tersebut merupakan meteor. Alasannya, kontur tanah di sekitar batu yang bergelombang. Namun, versi lainnya membawa nilai-nilai keluhuran tertentu dalam sebuah cerita. Ratusan tahun lalu seorang dayak sakti bernama Bujang Beji membawa batu itu untuk menyumbat Sungai Melawi. “Itu mitos yang berkembang di masyarakat,” ujar Hendra.
Bujang ingin menyumbat sungai karena merasa iri dengan saudaranya yang terus menghasilkan ikan yang begitu banyak. Namun, langit pun menentukan takdir yang berbeda. Kaki Bujang Beji terkena duri dan batunya terlepas dari genggaman. “Yang membuat batu itu tertancap di tanah dan tidak lagi bisa diangkat,” paparnya.
Terlepas dari sejarah terbentuknya, Bukit Kelam harus diakui memiliki potensi wisata yang luar biasa besar. Buktinya, bukit tersebut telah menyandang status kawasan taman wisata alam (TWA). Wajar, disana terdpat beragam potensi, dari air terjun, jalur tracking, hingga climbing.
Bahkan, terdapat tanaman endemik di Bukit Kelam bernama kantong semar. Tanaman yang begitu unik dengan daunnya yang seperti jambul dan memiliki kantong yang tergantung. Dari kantong itulah tanaman tersebut membuat cairan yang menarik perhatian serangga. Bila masuk ke kantongnya, hap. serangga dilahap.
Sayang, sejauh ini geliat pengembangan kawasan tersebut memang belum terlalu terasa. Meski demikian, tak sedikit yang sudah menangkap potensi besar Bukit Kelam.
Terbukti, di sana sudah ada dua restoran yang dibangun dengan memanfaatkan pemandangan Bukit Kelam. Salah satu restoran bahlan menyediakan pemancingan yang bisa dinikmati sembari memandang Bukit Kelam. “Setidaknya bisa buat foto-foto,” ujar wisatawan lain bernama Indira. (idr/cl2/ris)
Istana Al Mukarramah, Pusat Aktivitas Warga
Salah satu ikon di Sintang adalah Istana Al Mukarramah. Sesuai dengan namanya, bangunan ini memang memiliki nilai sejarah tinggi yang berkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Sintang.
Meski bangunan itu berlabel istana dan masuk kategori cagar budaya, nuansa egaliter benar-benar terasa. Istana tersebut benar-benar bak milik masyarakat. Buktinya, setiap hari hiruk pikuk berbagai kegiatan masyarakat terasa.
Di teras kerajaan, tergeletak tas-tas anak sekolah. Di halaman depannya, belasan anak sedang berlatih silat. Di setiap pojok istana terlihat setiap orang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Istana ini memiliki desain yang menggabungkan gaya rumah panjang suku Dayak dengan arsitektur gaya kolonial. Beberapa versi menyebut istana ini diarsiteki seorang kebangsaan Belanda. Warnanya kuning cerah dengan kombinasi hijau. Dengan atap yang berwarna coklat kehitaman.
Posisi istana ini juga sangat strategis. Berada di pinggir pertemuan dua sungai, yakni Sungai Melawi dan Sungai Kapuas. Di depan istana terdapat beberapa garsu pandang yang bisa digunakan untuk menikmati keindahan sungai.
Di sana juga terdapat Masjid Sultan Nata atau Jamik Sintang. Posisinya tepat di samping istana dan hanya dipisahkan sebuah jalan. Masjid itu dibangun pada 10 Mei 1672, tepat saat penobatan Sultan Nata sebagai raja Kerajaan Sintang.
Sungguh kombinasi wisata yang apik. Masjid, kerajaan, dan sungai. Bila sedikit dikemas, tentunya ciamik. Apalagi, di sepanjang pinggiran sungai tumbuh geliat perekonomian warga. “Kalau menikmati pemandangan Sintang, ya di sini,” jelas Arif Kurnia, salah seorang warga Sintang.
Menurut dia, masyarakat biasa berolahraga di halaman istana. Nongkrong di pinggiran sungai dan saat waktunya salat tinggal ke Masjid Jamik. “Jadi, semua aktivitas di sini sangat lengkap,” terangnya.
Karena itu, sayang jika kombinasi wisata air, sejarah, dan religi ini tidak diorkestrasi menjadi sebuah daya tarik wisata unggulan. (idr/c14/ris)

