Mulai Makam Ibu Wali Sanga hingga Yang Berstatus Geopark
20 Januari 2024. Hal 18
Sebelum julukan ikon pariwisata baru di Jawa Timur disematkan, Banyuwangi sudah lama menjadi daerah yang sarat destinasi wisata religi. Tak hanya dikunjungi masyarakat yang ingin pelisir, tapi juga yang berharap berkah.
OBJEK wisata religi di Lingkungan Krajan, Kelurahan/Kecamatan Giri, nyaris tak pernah sepi. Setiap hari selalu ada pengunjung yang datang. Pada momen-momen tertentu, jumlah peziarah yang datang ke sana naik drastis. Terutama pada hari-hari besar Islam.
Seperti itulah suasana di kawasan makan Buyut Sayu Atika. Para peziarah yang datang selalu mengalir. Biasanya, mereka duduk di sekitar makam untuk membaca Alquran dan doa-doa. Tidak heran, lantunan ayat suci selalu bergema di makam tersebut.
Jumali, juru kunci makam Buyut Sayu Atika, mengatakan bahwa meski banyak peziarah yang datang ke makam tersebut, mayoritas peziarah belum terlalu paham siapa sosok Buyut Sayu Atika. “Beliau dikenal sebagai ibunda Sunan Giri. Makam ini yang ditemukan pertama pada 1920. Riwayat Buyut Atika baru diketahui sekitar 1990-an lewat penelitian para budayawan,” ujarnya.
Dia menjelaskan, Buyut Atika merupakan cucu Raja Blambangan Prabu Menak Sembuyu. Atika memiliki nama asli Putri Sekardadu, yang dinikahkan dengan Maulana Ishaq atau Syekh Wali Lanang. “Maulana Ishaq datang ke Blambangan (cikal bakal Banyuwangi) karena diutus Sunan Ampel untuk mengislamkan Blambangan,” imbuh Jumali.
Singkat cerita, Maulana Ishaq diusir dan anak yang dikandung Sekardadu harus dilarung ke laut. Bayi yang dilarung itu ditemukan seorang nakhoda kapal bernama Abu Huroiroh, yang kemudian diserahkan kepada saudagar perempuan bernama Nyai Ageng Pinatih asal Gresik. Bayi itu adalah Sunan Giri.
Destinasi lain yang juga populer adalah Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Kecamatan Tegaldlimo. Kawasan itu menawarkan ragam wisata dengan berbagai tema. Mulai wisata budaya, wisaya konservasi hutan mangrove, hingga pantai-pantainya yang ciamik. Bahkan, kawasan tersebut sudah terdaftar sebagai geopark nasional.
Selain itu, yang juga jadi magnet para pengunjung untuk datang ke TNAP adalah wisata religinya. Wajar, kawasan Alas Purwo disebut-sebut sebagai salah satu tanah tertua di Pulau Jawa. Di sana, ada sejumlah objek yang menjadi jujukan untuk berwisata maupun berwisata religi.
Salah satunya adalah Situs Kawitan di tengah hutan yang dikelilingi perpohonan tinggi menjulang. Lokasinya berdekatan dengan Pura Giri Griya Saloka. Situs ini menjadi tujuan utama kegiatan peribadatan umat Hindu dari berbagai daerah.
Mitosnya, siapa pun yang mengajukan permohonan dan mencari petunjuk di Situs Kawitan bakal dikabulkan. Karena itu, masyarakat dari berbagai lapisan datang dan beritual di sana. “Yang datang ke sini dari berbagai kalangan masyarakat umum serta tidak ada batas antaragama. Mereka bisa memohon supaya diberi petunjuk,” jelas juru kunci Situs Kawitan Mangku Sulemi.
Termasuk ketika musim pemilu, tidak sedikit yang memiliki hajat ingin menjadi pemimpin juga mendatangi Situs Kawitan untuk memohon agar doanya dikabulkan. (ddy/rei/bay/c6/ris)
sumber: Jawa Pos

