Merayakan Imlek Relakan Momen Berharga. Surya. 8 Februari 2016.Hal.10

Merayakan imlek tidak lengkap rasanya jika tidak bersama keluarga. Tahun ini mungkin agak berbeda lagi bagi Laurensia Kartika cewek berambut pirang ini kesulitan meninggalkan pekerjaannya di Surabaya. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, seminggu sebelum imlek, dia pasti sudah berada di rumah.

 

Tentu saja, dara cantik asli Banyuwangi itu sedih karena harus sendirian, jauh dari keluarga, ketika Tahun Baru Imlek. “Tidak ada hal paling berharga selain bisa kumpul keluarga. Apalagi pas Imlek. Tahun ini, aku harus rela kehilangan momen itu,” tutur mahasiswi jurusan Prodi Interior Arsitektur Universitas Ciputra ini kepada Surya.

 

Laurensia mengungkapkan, bukan berarti pekerjaan lebih penting ketimbang keluarga. Namun jatah cutinya sudah diambil sebelum imlek. Kebetulan, kebijakan di tempat kerjanya, yakni salah satu kafe di Surabaya, tidak mengizinkan dirinya mengambil libur saat perayaan Imlek.

 

“justru tanggal merah harus masuk. Cutiku juga sudah habis saat liburan. Sedih banget,” tambah gadis kelahiran 17 April 1994 ini.

 

Padahal, setiap perayaan Imlek, ada masak-masak besar di rumahnya. Menu makanannya khusus buatan sang mama yang begitu lezat. Sang mama selalu menghidangkan menu rumahan buat makan siang, dan makan malam di malam perayaan imlek.

 

Yang dimasak seperti kue keranjang, mi goreng, dan masih banyak lagi. Itulah kegiatan rutin setiap Imlek. Lalu nyekar (tabur bunga) ke makam, berkunjung ke rumah kakek tertua.

 

Malam sebelum perayaan imlek tiba, berdoa bersama kemudian di hari imlek melakukan perayaan seperti kunjung-kunjung ke rumah saudara terdekat. Biasanya ke rumah nenek yang tak jauh dari rumahnya.

 

Laurensia sangat merindukan suasana kekeluargaan seperti itu. Semua itu harus dia relakan tahun ini. Kini, tidak ada yang dapat lakukan lagi selain memberi kabar kepada keluarga melalui telepon.

 

Bungsu dari dua bersaudara itu juga harus rela ditinggal kakaknya karena bisa pulang ke Banyuwangi untuk merayakan Imlek.

 

SETOR UANG LEBIH DULU

Mendekati Tahun Baru Imlek, bagi beberapa orang masih ada yang percaya hal-hal yang boleh dilakukan, harus dilakukan dan ada juga yang wajib dilakukan. Mahasiswi Uniersitas Ciputra, Melliana Audina mengatakan, tradisi setiap anggota keluarganya adalah setor uang ke bank alias menabung.

 

“menabungnya itu empat hari sebelum Imlek. Untuk menabungnya itu, kita setor ke bank,” tutur mahasiswa Prodi Akunting Semester 6 itu kepada Surya.

 

Sejak masuk kuliah, pemilik nama Shen Wei Fang ini sudah dianjurkan menabung. Praktik menabung bukan berarti harus memiliki uang dari hasil kerja sendiri. Bisa saja, dari hasil menyisihkan uang jajan dari orangtua.

 

Melliana mendapat uang saku per bulan dari orangtua. Dari jumlah yang ada, dia harus mampu menyisihkan sebesar apapun bukan masalah. Asalkan ada untuk menabung,” ungkapnya .

 

Selain menabung, cewek kelahiran 18 oktober 1994 ini wajib mengenakan dresscode, atau baju corak tertentu. Misalnya, dengan warna yang mengandung keberuntungan seperti warna merah, emas.

 

Ketika pagi hari saat Perayaan Imlek, cewek yang suka menggambar ini tidak diperbolehkan bangun kesiangan. Kalau kedapatan bangun siang, dia tidak diizinkan mandi karena akan menghilangkan keberuntungan.

 

Pernah sekali, Melliana bangun kesiangan karena semalaman sibut dengan berbagai acara. “Ya, sudah hanya cuci muka saja, langsung pakai baju. Tapi setelah itu nggak pernah lagi setidaknya bangun pukul 6 pagi, lalu mandi,” paparnya.

 

Beberapa kepercayaan lain yang diyakini oleh sebagian orang, seperti segala utang harus dilunasi. Maksudnya, untuk utang jangka pendek. Tentu saja tidak berarti jika masih menyicil rumah harus segera dilunasi. Utang jangka pendek itu semisal kepada teman dalam jumlah yang tak banyak atau kepada semua anggota keluarga.

 

Melliana sendiri meyakini sewaktu berdoa, percaya dengan hadirnya ruh. Contoh kejadian, saat kelas 6 SD, dia sedikit tidak percaya jika engkong (kakek) akan hadir dan memakan buah yang disajikan.

 

Waktu itu, ada berbagai makanan yang disajikan. Salah satu nya jeruk limau. Ketika kakek selesai makan dengan ditandai lempar koin, Melliana iseng-iseng makan jeruk itu. “rasanya sepoli (hambar),” kenang cewek berambut panjang yang juga Student Union (SU) atau Ketua Angkatan 2013 ini.

 

Sumber : Surya. 8 Februari 2016.