Bisnis Indonesia 30 Agustus 2014 hal 13

JAKARTA – Nama Henra Gunawan sebagai seniman besar yang masuk dalam jajaran pelukis berstempel old master, seperti tak pernah jauh dari kehidupan sang ‘begawan properti’ Indonesia, DR. (HC) Ir. Ciputra. Pada 1979, menjadi awal perkenalan pertama kedua mestro ini. Pertemuan tersebut dilanjutkan melalui korespondensi yang cukup intens.

Hubungan antara kolektor dan seniman ini mencapai titik baliknya pada 1983. Di titimangsa kritis, jelas meninggalnya Hendra, pak Ci mengirimkan surat yang berisi, “… dengan demikian, mudah-mudahan saya bisa kelak jadi salah satu kolektor yang cukup banyak dengan lukisan bapak. Sehingga suatu waktu saya dapat dipamerkan atau saya jadikan muesum probadi,”

31 tahun kemuadian, janji yang disampaikan pak Ci ini terwujud. Bangunan Ciputra Artpreneur, di dalamnya didirikan kompleks kesenian Ciputra Artpreneur, yang terdiri dari galeri, museum, dan teater.

Bagaimana awalak kisah kecintaan Pak Ci untuk mengoleksi lukisan karya Hendra Gunawan, dan pendangan terhadap dunia seni di Indonesia sekarang ini? Berikut petikannya :

Apa yang membuat Bapak jatuh cinta pada lukisan Hendra Gunawan?

Warna, Warnanya yang menyolok, dan komposisi, serta makna yang terkandung dalam lukisannya. Dia [Hendra] selalumengangkat tema perjuangan kehidupan manusia. Selalu mengangkat tentang kehidupan. Coba perhatikan dengan detail kulisannya.

Obyek orang selalu digambarkan dalam kondisi bergerak. Entah, berjalan, sedang perang atau apa. Semua yang dilukis mengenai hidup. Ada bermacam caranya kalau you mau tahu [lihatboks]. Cara melukisnya sangat spontan. Jika Hendra ingin melukis maka dia akan merenung selama sebulan. [Jika sudah selesai perenungannya], dia datang seperti orang gila. Satu lukisan berukuran 1 x 2 meter, [dikerjakan] hanya dengan 3 kali datang. Hasil lukisannya tidak menumpuk. Dia kerjakan sekali jadi. Tidak memakai model.

Semua yang dia lihat dia masukan dalam pikiran, dan kemudian dikeluarkan saat melukis. Tidak pakai model. Oleh karena itu, saat berada dalam penjara [menjadi tahanan politik di Kebon Waru, Bandung dari 1965-1978], dia tetap melukis. Orang lain mana bisa.

Cerita menarik tentang Hendra baru keluar dari penjara dan bertandang ke Pasar Seni Ancil [PSA didirikan pada 28 Febuari 1978]. Saat itu, dia masuk ke pasar seni dan melihat deretan kuis yang dibangun permanen sebagai tempat para seniman untuk berkumpul dan berkarya.

Tidak berapa lama dia keluar lagi dan duduk di bawah pohon. Dia menangis haru di bawah pohon. Kenapa dia menangis? Di sinilah sisi dramatisnya. Ketika dia masih di dalam penjara, dia dengar bahwa saya membangun pasar seni.

Dia ingin melihat. Ketika dia melihat, dia teringat masa-masa memikul lukisan [dan menawarkannya] door to door hingga pernah dikejar anjing. Saat dia keluar sudah ada pasar seni. Saya pikir kalah Hendra masih hidup sekarang, dia akan lebih terkejut lagi.

Dia dahulu hidup miskin, dan sekarang lukisannya mahal. Harga lukisannya mencapai Rp 200 miliar per buahnya.

 

Lukisan Hendra berjudul Pangeran Diponegoro Terluka (204 x 495 cm) disebut sebagai salah satu karya terbesar dan fenomenal. Dapat digambarkan latar belakang karya tersebut?

Lukisan ini merupakan salah satu yang akan disumbangkan ke museum di Jawa Tengah. [Pada 1980, Hendra dan istri kedianya, Nuraini pindah ke Ubud, Bali. Selama tinggal di Bali, kondisi kesehatannya mulai menurun. Namun, Hendra bercita-cita untuk menyumbangkan lukisannya yang berukuran besar ke museum di daerah].

Pada 1983, saya sedang berada di Bali dan teringat  tentang Hendra. Saya berkunjung ke rumahnya. Saat itu, dia sedang berbaring di atas dipan [tempat tidur] dan dibangunkan istrinya. Dia sudah tidak mengenali saya lagi. Tiga hari setelah kedatangan saya ke rumahnya, Hendra meninggal dunia. [Tercatat dari sejumlah lukisan yang dibuat Hendra jelas akhir hayatnya, selain Pengeran Diponegoro Terluka a.l. Ali Sadikin pada Waktu Perang Kemerdekaan, Perang Buleleng, dan Trunyan].

 

Pendangan Anda tentang kisruh orisinalitas lukisan museum OHD untuk dunia seni rupa Indonesia?

Kejadian itu [kasus OHD] adalah tragedi nasional dalam dunia seni lukis. Dari pendapat para ahli, diindikasikan banyak lukisan yang paslu. Dari apa yang saya lihat, dari lukisan Hendra Gunawan yang saya tahu, saya setuju dengan pendapat para ahli. Dalam hidup ini harus clean and clear. Jadi bukan pendapat kita saja yang dipentingkan, tetapi pendapat orang lain. Contohnya saja begini, saya menganggap diri saya tidak korupsi, tetapi siang malam saya bergaul dengan orang jahat. Meskipun saya clear, tetapi saya tidak clear.

Kalau saha OHD, maka saya akan mengeluarkan karya seni yang diindikasikan palsu tersebut dari museum. Saya akan keluarkan. Kenapa saya mempertahankan. Semakin saya mempertahankan maka penggemar akan semakin dongkol.

Semua itu akan berdampak pada anjloknya harga lukisan dari Indonesia. Jatuh. Padahal, OHD menginginkan harga lukisan Indonesia semakin digemari. Kita butuh OHD. Seluruh hidupnya untuk lukisan.

Jika dia segera turunkan lukisan yang dianggap palsu oleh para ahli, maka publik juga lama-lama akan lupa. Orang kan juga bisa khilaf. Namun, kalau orang mengakui kekhilafannya, orang lain akan lupa setelahnya. Di sisi lain, masalah OHD ini berimbas pada perkembangan para seniman muda. Potensi para seniman muda Indonesia sangat bagus, hanya saja terganjal masalah OHD ini.

 

Mengenai pendangan beberapa ahli yang juga sempat meragukan lukisan Hendra Gunawan yang bapak koleksi?

Ya, ada tiga lukisan koleksi saya yang diragukan. Begitu ada keraguan seperti itu, langsung saya simpan. Saya tunggu ada teknologi yang baru untuk memeriksa autentik atau tidaknya koleksi saya ini.

Yang pasti untuk sementara saya tarik dahulu, tidak dipamerkan kepada khalayak. Kalau sudah ketemu cara penilaiannya apakah itu palsu atau tidak, maka akan saya proses. Jika koleksi saya terbukti palsu dan yakin itu palsu, maka akan saya hancurkan atau masukkan ke gudang. Yang pasti kalau satu waktu sudah pasti bahwa lukisan itu palsu, pasti akan saya hancurkan biar berapa mahal harga lukisan itu. Saya berbuka untuk itu.

Saya setuju usulan Deddy Kusuma untuk membentuk Badan Sertifikasi Karya Seni Rupa. Saya setuju sekali. Semua itu sebenarnya tugas pemerintah, karena masyarakat membayar pajak kepada negara. Namun pemerintah sedang disibukkan dengan masalah bahan bakar minyak. Kita tinggu saja kiprah dari pemerintah. Jika tidak, maka kami akan mulai sendiri. Para penggemar lukisan Indonesia, dan asosiasinya harus mulai bergerak.

 

Apakah Bapak sudah merasa puas dengan berdirinya museum ini?

Ya memang sudah bagus dengan berdirinya museum ini. Namun, belum cukup. Semestinya perlu dibangun tiga museum yang seperti ini, karena pelukis Indonesia masih sangat banyak.

Maestronya saja banyak. Ya, tapi [pembuatan museum] itu urusan yang muda-muda, Generasi selanjutnya. Saya sudah cukup membuat yang ini.

Sumber : Bisnis-Indonesia.30-Agustus-2014.Hal.13