
Mencintai Fotografi gara-gara Kamera Ayah
Hobi bagi mereka tidak sekadar hobi. Dijalani sejak masih sekolah, puluhan tahun kemudian, hobi tersebut sudah jadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Direktur Ciputra Group D. Agung Krisprimandoyo dan Rektor Universitas Ciputra Ir Yohannes Somawiharja Msc.
BAGI D. Agung Krisprimandoyo memasuki usia 50 tahun ke atas menjadi titik baru untuk merealisasikan sesuatu. Sejak kecil, dia mengaku menggemari fotografi gara-gara kamera sang ayah. Kini dia sering mendapatkan tawaran untuk sharing ilmu fotografi. Bahkan, direktur Ciputra Group itu sudah meluncurkan sejumlah buku soal fotografi dan beberapa kali melakukan pameran hasil karyanya.
“Ayah itu kan dokter gigi spesialis ortho, nah dulu jadi sering motret gigi. Pakai kamera roll gitu. Kan sisanya masih banyak. Itu biasanya dibuat mainan sama anak-anaknya,” ceritanya saat ditemui di CitraLand Office kemarin (8/1).
Dari situ, Pimo – panggilan akrab D.Agung Krisprimandoyo – menjadi akrab dengan kamera. Memasuki usia sekolah pun, dia masih sering sharing dengan teman-temannya soal kamera. “Tapi, dulu itu fotografi kayak hobi mahal ya. Selain kameranya mahal, roll perlu beli dulu. Terus nyuci-nya juga butuh uang lagi. Sampai situ akhirnya berhenti karena emang butuh uang yang ekstra,” jelasnya.
Namun, setelah dia berada di dunia kerja, era digital mulai memasuki kehidupannya. Teknologi mulai maju dan mudah dijangkaunya. Jenis kamera mulai banyak. “Akhirnya passion soal foto tumbuh lagi meskipun dulu awal-awal yang difoto cuma perkembangan anak,” tuturnya.
Pria yang mengambil S-3 di Jurusan Ilmu Ekonomi Unair itu kini setiap tahun selalu meluangkan waktu untuk hunting foto. Baik di dalam negeri maupun luar negeri. “Kadang sama keluarga, kadang juga sendiri. Pokoknya kalau ada kesempatan untuk memotret, pasti saya jepret,” jelasnya. Keliling ke luar negri juga menjadi pelengkap hobinya untuk memotret hal-hal baru.
Mulai landscape, human interest, hingga culture. Dia juga bercerita tentang masa kecilnya yang suka membaca komik. Ada sebuah komik karya Mark Twain yang bercerita tentang keliling dunia dengan menggunakan balon udara. “Itu juga menjadi salah satu alasan saya sekarang keliling terus ke luar negeri,” tuturnya. Kelilng dunia sambil membidik keindahan di setiap sudutnya kini menjadi hobi yang ditekuni.
Bahkan, saking seriusnya dengan hobi tersebut, ayah dua anak itu mengaku sudah mendapatkan tiga gelar di dunia fotografi. “Kalau soal hobi ini, saya memang serius. Kalau ditanya pernah punya prestasi ya ada. Gelar di fotografi juga ada,” ungkapnya. Sebab bagi dia, setelah bekerja keras dalam pekerjaan yang sesungguhnya, dia mengimbanginya dengan play hard juga. “Pokoknya prinsipnya work hard play hard. Kalau mau senang-senang ya kerja keras yang benar,” ucapnya.
Dalam waktu dekat ini pun, Pimo mempersiapkan peluncuran buku ketiganya pada 18 Januari mendatang. Judulnya My Flat World. Seminggu sebelum peluncuran buku yang berisi hasil memotretnya sejak 10 -15 tahun terakhir, dia juga menggelar pameran foto. “Jadi, di buku ini ada 100 foto. Dari situ, dipilih 30 foto oleh curator saya dan saya cetak untuk pameran pada 13-19 Januari nanti di Ciputra World Surabaya,” jelasnya. (ama/c20/tia)
Memasak Jadi Obat Stress
REKTOR Universitas Ciputra (UC) Ir Yohannes Somawiharja MSc bersemangat saat ditemui kemarin (8/1). Dia bercerita mengenai kegemaran masaknya di sela-sela kesibukan menjabat rektor. Menurut Yohannes, hobi itu mampu mengusir rasa stresnya. Selain masak, dia kerap mengoleksi kain batik dari berbagai daerah.
Pria 60 tahun tersebut mengatakan, kegemaran memasaknya diturunkan sang ayah. Dulu, ayahnya gemar memasak untuk diberikan kepada saudara atau teman-temannya. “Saya sering jadi kernetnya, bantu-bantu motong-motong dan ngaduk-ngaduk masakan,” tuturnya, lantas tertawa. Mulai dari situlah, ilmu memasaknya berkembang.
Yohannes juga mengoleksi berbagai buku masakan. Tiap berkunjung ke luar negeri, dia menyempatkan diri membeli buku masakan. “Koleksinya mungkin ada seratus kebih sekarang,” kata pria asal Temanggung itu.
Melalui buku-buku tersebut dia kerap mengeksplorasi berbagai masakan Indonesia dan dunia. Namun, jenis masakan favoritnya adalah masakan Jawa, Tiongkok, Italia, Thailand, dan Korea. Setelah membaca, Yohannes mengimprovasi resepnya. “Karena lidah saya terbiasa maskan Jawa, biasanya saya menambahkan cita rasa Jawa, apa pun jenis masakannya,” kata Yohannes.
Dia bahkan sering dimanfaatkan teman-temannya semas kuliah di The Ohio State University, Amerika Serikat, untuk memasak dalam berbagai acara. Pria berkacamata itu memasaknya sendiri, tanpa dibantu siapa pun. “Pernah saya memotong daging beku 30 kilogram dalam semalam untuk acara besoknya,” ucap ayah dua anak tersebut.
Menurut Yohannes, memasak adalah obat di kala stress. Sekali-kali dia juga memasak di rumahnya. Selain dimakan bersama keluarga, dia membagi-bagikan hasil masakan ke rekan-rekan kerjanya di kampus. “Baru saja kemarin nyicipin masakan Pak Yo, enak banget,” tutur humas UC Erlita Tantri.
Di sela-sela bercerita, Yohannes juga menunjukkan beberapa peralatan dapur yang dia beli saat berkunjungke berbagai negara. “Saya memang suka koleksi barang-barang dapur unik yang enggak ada di Indonesia,” sambung Yohannes.
Bagi dia, memasak adalah seni. “Proses memilih bahan, memasak, sampai cara menyajikan adalah seni,” imbuh alumnus Teknik Mesin Universitas Kristen Indonesia itu (UKI).
Selain memasak, Yohannes gemar mengoleksi batik. Menrut dia, nilai seni dalam batik sangat tinggi. Bahkan dia sering mengoleksi kain-kain batik dari seluruh Indonesia. Beberapa batik koleksinya bahkan sudah dianggap punah. Yakni, batik asal Jambi. “Banyak orang yang enggak minat motifnya, tapi bagi saya itu sangat gagah ketika dipakai,” tandasnya. (nas/c25/tia)
