Tinggal di daerah langganan banjir akibat luapan Sungai Citarum, Mimid Suamid (44), warga Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tidak patah semangat. Dari keterbatasan, muncul kreativitas menginspirasi orang di sekitarnya.

Cornelius Helmy

Sejak setahun terakhir, ada yang berbeda di Desa Majalaya, sekitar 30 kilometer dari Kota Bandung. Di beberapa ujung gang sempit dan tembok rumah warga terpampang alat ukur setinggi 2 meter dihitung dari dasar Sungai Citarum. Bentuknya seperti penggaris raksasa, dibuat menggunakan cat semprot.

“Alat ukur ini dibuat jadi patokan genangan banjir Citarum. Citarum berjarak sekitar 50 meter dari sini,” kata Mimid, awal Januari 2018.

Mimid mengatakan, cetakannya pelat tipis buatan peneliti Institur Teknologi Bandung. Ditempelkan di dinding lantas disemprot cat. Jejaknya seperti mural. Mimid dan rekannya di Majalaya, Riki Waskita, biasa jadi “seniman”-nya.

Mimid mengatakan, sejauh ini sudah membuat 20 alat ukur tinggi muka air. Warga Rancabali dan Paseh, tetangga Majalaya, juga minta dibuatkan mural indikator yang sama.

Banjir seperti rutinitas di Majalaya setiap musim hujan. Berada di lintasan Sungai Citarum, limpasan air ke jalan dan rumah warga kerap terjadi. Jejak lumpur setinggi 1 meter hingga 1,5 meter masih menempel di dinding rumah.

“Sebelum ada alat ini, jejak lumpur itu kerap jadi patokan tinggi banjir,” katanya.

Otak-atik

Saat menjelaskan keunggulan indikator tinggi banjir itu, rekannya sesame penggiat mitigasi bencana, Riki Waskita, mengatakan, Mimid berperan besar menginspirasi pembuatan alat ukur itu. Sekitar dua tahun lalu, Mimid sudah membuatnya meski menggunakan cetakan dari kertas di depan rumahnya.

“Rumahnya dekat jalan utama yang kerap terendam banjir,” kata Riki.

Tinggal di sana, pengamatan mata Mimid jadi andalan. Rumah Mimid hanya berjarak 50 meter dari bibir Sungai Citarum. Akibat sedimentasi sejak dari hulunya di Situ Cisanti, 30 kilometer dari Majalaya, banjir terjadi setiap tahun. Sampah rumah tangga dan erosi tanah dari hulu ikut memicunya.

“Banyak yang bertanya melalui pesan singkat tentang tinggi banjir. Awalnya hanya bilang setinggi mata kaki atau betis. Lama-lama membingungkan. Tinggi kaki manusia tidak sama,” katanya tertawa.

Mimid lantas berinovasi, menerapkan hobi otak-atiknya. Dia memasang tiang besi di depan rumahnya. Indikator ukur air pertamanya dicetak di sana. Dia mengakui, ukurannya tidak terlalu akurat, tetapi cukup jadi informasi awal bagi warga.

“Kalau dibandingkan alat ukur yang sekarang, mah, jauh, cetakan buatan saya sangat sederhana. Yang pasti inovasi lain terus mengalir setelahnya,” kata Mimid merendah.

Salah satu yang unik adalah ketika Mimid membuat perahu berukuran 2 meter x 0,5 meter. Bahannya sampah sytrofoam yang dipungut dari Citarum.

Di sisi kanan dan kiri, dia memasang cadik dari bambu tidak terpakai untuk menjaga keseimbangan. Di ujung cadik, Mimid menempelkan botol minuman kemasan yang juga dibuang sembarangan ke sungai sebagai pelampung.

Mimid mengatakan, perahu itu sangat berguna saat banjir. Bentuknya yang langsing leluasa menjelajahi labirin sempit Majalaya. Hasilnya, dia leluasa memantau atau memberi logistik warga terdampak banjir yang terjebak di rumah.

Repotnya warga membersihkan rumah dari endapan lumpur pasca banjir juga dipecahkan. Dia membuat lubang saluran pembuangan untuk lumpur yang terlanjur masuk. Sementara, untuk pencegahan, dia memasang tanggul sederhana dari papan bekas.

“Papan itu dipasang buka tutup di depan pintu dan pagar rumah dan masjid. Sebagai penutup celah-celah kecil antara papan dan tembok rumah atau pagar digunakan lilin malam atau lumpur,” ujarnya.

Akan tetapi, akibat selalu dihajar luapan banjir, lama-kelamaan tanggul itu lekas usang. Dia lantas memodifikasinya setahun terakhir.

Papan penahan air dilapisi pelat logam tipis antikarat. Di bagian belakang papan dipasang lis karet pengganti malam dan lumpur untuk mencegah air masuk. Empat baut baja dipasang di ujung papan untuk menambah daya rekat.

“Baut sengaja ditambahkan kuping dari besi kecil. Tujuannya memudahkan buka tutup baut saat banjir tiba-tiba datang dengan cepat. Tinggal putar dengan tangan, sudah rekat. Sudah ada 100 orang Majalaya yang menggunakannya,” katanya.

Mimid mengatakan, idenya ia gelontorkan begitu saja kepada warga, tanpa imbalan. Sejak awal, dia tak berniat mencari rupiah. Mimid ingin warga semakin tangguh hidup di daerah rawan bencana. Mimid juga tak mencari sanjungan. Dia tidak mempersoalkannya karena bukan itu yang utama.

“Berbagi bahagia, tak lupa bencana,” ujarnya yang membuka usaha warung kelontong di rumahnya.

Meski begitu, Mimid mengakui pernah khilaf di awal kreativitasnya mekar, sekitar lima tahun lalu. Saat itu, inovasi pertamanya, pengeras suara rusak yang ia perbaiki, cukup ampuh sebagai alat peringatan banjir bagi warga. Namun, ia kecewa keesokan harinya. Mimid tidak disebutkan salah satu media massa sebagai sosok di balik keberhasilan mitigasi banjir itu.

“Untungnya, saya cepat ingat pesan orangtua. Saya harus jadi manusia berguna bagi orang lain tanpa berharap pujian. Harus ikhlas,” katanya.

Pesan itu pula yang membuatnya setia saat sebagian orang meragukan inovasinya. Ia tak ambil pusing, tetap mengikuti kata hatinya. Mimid justru berhasil meyakinkan mereka yang ragu untuk ikut menerapkan inovasi itu dan merasakan manfaatnya.

Tak berhenti

Siang semakin terik saat ia mengambil segelas air dan sebungkus teh celup. Bukan untuk diminum melepas dahaga, dia hendak bereksperimen menguji kualitas air tanah di Majalaya.

“Kalau nanti dalam air teh tidak ada endapan, artinya airnya layak digunakan, minim pencemaran. Sederhananya begitu,” katanya.

Sekitar sejam kemudian, air teh dalam gelas itu tidak menyisakan endapan. Hanya air teh berwarna coklat ada di dalam gelas. “Memang belum ada penelitian lebih lanjut, tetapi setidaknya aman untuk memasak atau aktivitas warga lainnya,” kata Mimid.

Mimid lantas mengajak melihat bak penampung air Masjid Hidayatul Muttaqin Majalaya. Ada wadah penyaringan buatan Mimid di atas bak itu. Ukuran wadah itu 1 meter persegi. Di dalamnya berisi kerikil, pasir, dan busa yang disusun bertingkat.

“Air yang sudah disaring lantas disalurkan lagi pada alat penjernih air sederhana buatan yang sudah dimodifikasi peneliti ITB. Kebetulan saya juga sudah menerapkannya di rumah,” katanya.

Penyaring air itu merupakan inovasi paling mutakhir yang diterapkan Mimid pada 2017. Inisiatifnya berawal dari curhatan warga tentang keruhnya air untuk wudu di masjid. Diduga akibat tanah lempung Majalaya.

Untuk membuktikkan keadaan itu, Mimid memasukkan tangannya ke dalam bak penyaringan. Endapan kental berwarna coklat ia perlihatkan dalam genggamannya.

“Karena keterbatasan sumber air, ada juga warga yang menggunakan untuk diminum. Namun, saya belum merekomendasikannya karena masih harus diuji kualitas airnya,” katanya.

Ke depan, Mimid belum ingin berhenti. Dengan segala keterbatasan, ia ingin terus berbagi bahagia dengan warga lain tanpa melupakan potensi bencana di Majalaya.

“Saling berbagi bisa mewujudkan apa saja,” katanya.

Mimid Suamid

Lahir: Bandung, 20 Mei 1973

Pendidikan: STM Wirakarya Bandung (lulus 1992)

 

Sumber: Kompas, 11 Januari 2018