Minat Baca Masyarakat

28 Maret 2022. Hal. 18

KEMAJUAN teknologi informasi di era digital memberikan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun kemajuan teknologi memunculkan fenomena menurunnya minat baca masyarakat, terutama terhadap buku.

Hal tersebut disampaikan pusatakawan Universitas Ciputra Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya, Minggu (27/3). Menurutnya, minat baca masyarakat terutama anak-anak ini sudah terlihat turun sejak sebelum pandemi Covid-19. “Memang sudah turun tapi masih ada yang suka ke taman baca maupun pinjam buku ke perpustakaan. Nah sejak ada pandemi ini, minat baca semakin turun. Anak-anak lebih suka rebahan sambil mainan gadget. Sayangnya anak-anak ini lihat gadget itu bukan untuk membaca informasi, tapi mereka lebih suka main game, lihat film atau main media sosial,” katanya.

Chrisyandi mengatakan, minat membaca terhadap komik juga turun apalagi dengan buku-buku yang penerbitannya tahun tua. Menurutnya, biasanya anak-anak akan membaca buku ketika akan mengerjakan tugas. “Biasanya dijadikan bahan literasi atau skripsi,” ungkapnya.

Untuk mengubah fenomena ini, sebenarnya adalah peran orang tua. Ini bisa dengan cara memberikan anak-anak buku bacaan yang menarik. “Kemudian memberikan hadiah buku ketika anak berhasil mendapatkan prestasi. Misalnya aja buku cerita berseri,” katanya.

Berdasarkan hasil riset pusat penelitian kebijakan pendidikan dan kebudayaan Balitbang Kemendikbudristek 2019, indeks aktivitas literasi membaca di Jawa Timur masih rendah, yakni 33,19 atau urutan ke-26 dari 34 provinsi di Indonesia. Kemendikbudristek juga mencatat indeks aktivitas literasi membaca nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah.

Sedangkan pada indeks provinsi sebanyak sembilan provinsi masuk dalam kategori sedang, 24 provinsi masuk dalam kategori rendah, dan satu provinsi masuk dalam kategori sangat rendah. Artinya, baik secara nasional maupun provinsi tidak ada yang masuk kategori tinggi.

Terpisah, Pj Sekdaprov Wahid Wahyudi mengajak semua pihak agar menjadikan gerakan literasi sebagai gerakan bersama. Pasalnya, gerakan literasi memiliki benang merah dengan minat baca dan menjadi penentu keberhasilan sektor pendidikan.

Sementara sektor pendidikan merupakan satu-satunya cara yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. “Oleh sebab itu, saya menajak agar segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan dan peningkatan SDM harus menjadi prioritas. Karena itu peningkatan minat baca, peningkatan literasi menjadi gerakan bersama,” terangnya. (mus/nur)