Minta Izin dan Buat Kesepakatan untuk Hargai Privasi Anak

20 Oktober 2024. Hal. 17

Memeriksa ponsel anak remaja boleh saja. Namun, tetap hargai privasi anak. Cegah paparan negatif internet dengan bangun kelekatan dan komunikasi yang terbuka.

Menjadi orang tua di era digital yang segala sesuatunya semakin mudah diakses memiliki tantangan lebih. Tanggung jawab ortu untuk memastikan anak terhindar dari paparan konten negatif dunia maya seperti cyberbullying, cybercrime, dan pornografi.

“Boleh-boleh saja melakukan pengawasan dengan cara mengecek ponsel anak, tapi jangan sampai membuat anak risih. Apalagi anak yang mulai pubertas, dia mungkin akan merasa privasinya terganggu,” ujar Tyas Anastasya Pratiwi SPsi MPsi Psikolog.

Lantas, bagaimana pengawasan yang tidak mengganggu privasi anak? Tyas menyebut pentingnya membangun kelekatan. Tidak ada kata terlambat untuk memulai pendekatan dengan anak jika sebelumnya tidak
dilakukan.

Caranya dengan mengaktifkan kembali komunikasi yang sehat, kemudian bangun kepercayaan anak. “Kita buka diskusi dengan anak tentang literasi digital hingga anak paham konsekuensinya. Jadi mengarahkan, tidak langsung membatasi, jelas psikolog klinis di Biro Psikologi Lestari, Nginden, Surabaya, itu.

Cara itu dinilai lebih efektif dibandingkan
harus tiap hari mengecek ponsel anak. Belum lagi jika anak mengunci ponselnya, ortu akan kesulitan. Jika memang harus mengecek ponsel, sebaiknya ortu izin atau membuat kesepakatan dengan anak.
“Boleh jujur ke anak kenapa kok pengen mengecek ponselnya. Ortu bisa sampaikan kekhawatirannya, negosiasikan yang bisa dilakukan,” sambungnya.

Terkadang cukup tricky memang. Misalnya, ada yang anak sembunyikan dengan dihapus-hapus terlebih dulu. Lain halnya jika sudah terbangun kelekatan. Anak akan lebih terbuka. Ortu pun perlu menunjukkan keterbukaan sebagaimana yang diterapkan Fitri Amalia dan suami kepada kedua anak remajanya, Leon, 17, dan Lexa, 13.
“Di depan anak, saya dan suami tunjukkan saling pinjam HP, saling tahu password. Anak-anak juga tahu password kami, begitu pun sebaliknya, tapi tetap ada aturan minta izin jika mau pinjam,” beber istri M. Hayat tersebut.

Sesekali dia mengintip saat ada notif masuk. Namun, Amel -sapaannya- tidak bertindak lebih jauh. Dia tak ingin putra-putrinya tidak nyaman dan men ganggap ortunya kepo. “Yang penting, kita bangun bonding yang kuat sama anak. Sering sharing, jadi pendengar yang baik saat anak bercerita, diskusi penuh empati tanpa menghakimi. Tanpa diminta, anak akan nyaman dan terbuka dengan sendirinya,” tutur Amel.

Sebisa mungkin dia dan suami menjadi role model untuk anak-anak mereka. Sebab, sejatinya anak meniru kebiasaan ortunya. Jika ingin anak menggunakan HP untuk hal positif, ortu juga demikian. “Misal dipakai mengaji, melihat kajian, untuk menambah ilmu, itu semua kami sengaja perlihatkan ke anak agar mereka tahu ortu menggunakan HP untuk apa saja,” lanjutnya. (lai/c7/nor)