Mita Alwi_Menjaga Beningnya Alam Banda.Kompas.26 Juli 2017.Hal 16 001-page-001

Lahir di San Fransisco , California , Amerika Serikat , pada 1986 dan lama tinggal di luar negeri tak membuat Miryanneka Alwi atau Mica Alwi ( 31 ) lupa tanah les llurnya . Cucu tokoh legendaris Bana almarhum Des Alwi , Ini sekarang meneruskan kiprah kakeknya menjaga Banda Naira .

OLEH ALOYSIUS B KURNIAWAN

Ketika masih berumur enam bulan , bayi Mita dibawa orangtuanya pulang ke Banda . Di tanah leluhurnya tersebut , ia di besarkan dan mencecap pendidikan dasar , mulai dari taman kanak – kanak hingga SD kelas VI .

Dua hari sebelum kerusuhan Mei 1998 pecah , Mita diungsikan ke Bali yang situasinya lebih kondusif . Di sana in menghabiskan masa sekolah menengah pertama sampai 2003.

Begitu lulus SMP , Mita pindah lagi ke lain kota Sejak 2003 hingga 2005 , ia pindah sekolah ke sebuah SMA swasta di Jakarta . Setelah lulus 2005 , in memilih kursus dan kuliah ke Lon- don , Inggris . ” Selama tinggal di Lon- don , setiap setahun sekali saya selalu menyempatkan diri pulang ke Ban da , ” ujarnya , beberapa waktu lalu , di halaman Hotel Maulana milik Des Alwi yang kini dikelolanya . Meski lama.

Meski lama tinggal di luar negeri , Mita tetap dekat dengan tanah le – luhurnya . Sejak 2011 , setiap kali pu – lang ke Banda , Mita selalu mengajak anak – anak SD di Banda untuk belajar mencintai lingkungan , belajar bahasa Inggris gratis , membuat kerajinan hingga berlatih musik

Kelompok belajar itu ta namai Warnawarni Kids , la mendirikan ke- lompok ini dengan dana terbatas se- kitar Rp 3 juta yang terkumpul dari donasi teman – teman seniman Mita di Bali . Uang tersebut lalu digunakan Mita untuk merenovasi rumah tun milik kakek buyutnya , Said Raadila ( ayah Des Alwi ) , mendeli cat , kuas akrilik , kertas pensil , bolpoin , dan perlengkapan belajar lainnya .

Agar anak – anak terbiasa membaca , Mita juga mendirikan sebuah per pustakaan anak – anak yang berisi koleksi buku – buku pribadinya . Di per pustakaan anak itu kurang lebih ada 2000 – an judul buku dalam bahasa Inggris dan Indonesia .

Awalnya , kegiatan ini ditentang oleh beberapa orangtua anak – anak karena dicap sebagai aktivitas di luar jalur agama . ” Ada anak – anak yang akhirnya diancam orangtua mereka , kalau tetap ilcut kegiatan , mereka ti dak akan disekolahkan lagi . Kami pun akhirnya menyiasati dengan menjad walkan kegiatan belajar setiap hari Minggu pukul 15.00 setelah habis mengaji dan setiap hari Sabtu pukul 1600 selepas waktu mengaji pula . ” ujarnya .

Ketika pertama kali digelar , jumlah anak yang datang baru sekitar 40 – an anak . Namun , setelah diberi pos ter – poster indah , yang datang ber gabung ke kelompok Warnawarni Kids pun akhirnya mencapai ratusan anak.

Tahun lalu , anak – anak juga diajari bermain musik . Namun , karena be lakangan tidak ada lagi guru musik , pelatihan itu dihentikan

Sejak November 2016 , gedung tempat anak – anak Warnawarni Kids belajar yang merupakan rumah tua peninggalan Belanda mulai bocor atapnya dan retak – retak di beberapa bagian tiangnya . Karena membahyakan bagi anak – anak , kegiatan anak- anak dipindahkan ke sebuah ruangan Hotel Maulana .

Rasa memiliki Banda

Prinsip yang ditanamkan Mita ke- pada anak – anak didiknya adalah ba- gaimana menumbuhkan kecintaan dan rasa memiliki mereka terhadap alam Banda . Karena itulah secara rutin anak – anak selalu diajak me- ngumpulkan sampah – sampah plastik di sekitar pulau dan perairan Banda .

” Sekarang anak – anak sudah ter- biasa mengumpulkan sampah – sam- pah plastik . Sebaliknya , orang – orang tua justru tidak tertib , ” ujar Mita .

Beberapa program kegiatan keber- sihan lingkungan pun dilakukan , mu- lai dari Banda Clean Up Day , ke- rajinan tangan dari sampah plastik , pelajar membuang sampah yang be- nar , dan sebagainya . Trik yang lakukan adalah membuat anak – anak jatuh cinta dengan lingkungan me- reka .

To love is to know me , ” kata Mita Kuncinya adalah jangan sampai anak – anak tidak mempunyai rasa me miliki terhadap alam ini . Karena itu anak – anak selalu diajak untuk me- ngenali ikan – ikan laut Banda , meng- gambar terumbu karang , menggam- bar gunung api dan sebagainya yang merupakan ikon – ikon alam seha- – hari mereka.

Ke depan , Mita berharap agar ke- giatan – kegiatan merawat kebersihan lingkungan Banda yang telah dimulai anak – anak dilirik pula oleh peme- rintah daerah setempat . Menurut dia , selama ini upaya pembangunan yang dilakukan pemda cenderung kurang ramah lingkungan . Semua jalanan di Banda rata – rata diaspal dan ditutup beton . Akibatnya , air hujan pun tidak mudah meresap ke tanah .

Rencana pemda setempat mem- perpanjang landasan bandara di Ban- da dengan cara melakukan reklamasi sepanjang 80 meter juga ditentang- nya . Menurut Mita , yang dilakukan sekarang semestinya adalah pengop jadwal penerbangan ke dan dari Banda yang tidak pernah jelas .

” Yang dibutuhkan sekarang adalah sistem navigasi yang bagus saja , bu kan perpanjangan landasan bandara Pembangunan besar – besaran di Ban da justru akan cepat mengubah pulau ini dan Banda nantinya akan semakin panas , ” katanya .

Semakin panas

Dibanding beberapa tahun lalu menurut Mita , sekarang suhu udara di Banda memang cenderung sema- kin panas . Peningkatan suhu udara ini terjadi seiring dengan makin sedi kitnya tegakan – tegakan pohon .

Saya biarkan pohon – pohon besar tetap tumbuh di Hotel Maulana . Se tiap pohon di hotel ini dulu ditanam opa ( Des Alwi ) sebagai penanda ke lahiran cucu – cucunya , termasuk sa ya , ” ungkap Mita .

Karena perhatiannya terhadap ke lestarian alam Banda , sejak dipercaya keluarga mengelola hotel peninggalan kakeknya , Mita menghindari peng gunaan kebutuhan hotel yang kurang ramah lingkungan , mulai dari tisu , sedotan , hingga minuman kemasan plastik . Semuanya digantikan dengan bahan – bahan yang bisa didaur ulang.

 

Sumber: Kompas.26-Juli-2017.Hal-16