Masyarakat Indonesia umumnya gemar mengobrol melalui aplikasi percakapan dalam gawai mereka. Sayangnya, sebagian besar aplikasi yang dipakai merupakan buatan luar negri. Inilah yang membuat sepasang sahabat, Mochammad Arfan (44) dan Jagad Hariseno (44) lantas gemas.
Bagi mereka, situasi ini menyedihkan. Hampir semua orang, terutama di perkotaan, menggunakan telepon pintar selama berjam-jam dalam sehari. Namun, tidak banyak aplukasi buatan dalam negeri yang ada dalam telepon pintar itu atau bahkan tidak ada.
Padahal, Arfan berpendapat, produk media sosial adalah produk budaya. Berbagai aplikasi media sosial buatan luar negeri yang ada saat ini dirancang dan dilahirkan untuk memenuhi kebutuhan berkomunikasi dengan mengacu budaya di negara asalnya. “Jadinya kita sering kepontal-pontal, tidak siap, dan terhadi gegar budaya,” kata Arfan, Selasa (15/9), di Surabaya.
Misalnya, banyak orang yang terherat masalah hukum karena asal bicara atau nge-twit melalui media Twitter.
Maka Arfan dan Jagad mulai berpikir membuat aplikasi percakapan untuk sistem operasi Android (salah satu sistem operasi telepon pintar) yang sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia. Aplikasi itu harus bisa dipakai dengan nyaman untuk merumpi, berkenalan, dan berbagi file (foto, video, suara, atau bermacam dokumen berbagai jenis).
Suatu waktu pada 2010 di Surabaya, Jawa Timur, mereka berdua iseng membuat aplikasi percakapan. Dengan latar belakang pendidikan di bidang informatika dan elektronika yang mereka miliki, persoalan teknis seputar pembuatan aplikasi untuk gawai tidaklah sulit.
Aplikasi yang mereka inginkan pun segera bisa digunakan. Namun, aplikasi itu belum memiliki nama. Di tengah kebingungan itu, Arfan sedang mengamati kolam ikan yang ada di rumahya dan mendapat ide. Ia pun lantas mengusulkan kepada Jagad supaya aplikasi itu dinamai Catfiz. Nama itu merujuk pada istilah bahasa Inggris “catfish” atau ikan lele.
Lele adalah ikan yang aktif pada malam hari karena termasuk binatang noktrunal (binatang malam), suka berkoloni, dan tangguh. Hal itu cukup menggambarkan aplikasi Catfiz karena pencipatanya suka bekerja larut malam dan aplikasi itu tak berarti jika tidak digunakan banyak orang.
Pada 28 Oktober 2011, Arfan dan Jagad merilis aplikasi Catfiz ini dalam versi alfa atau versi untuk uji coba internal. Beberapa minggu kemudian, mereka terkejut karena aplikasi ini “bocor” dan sudah digunakan oleh sekitar 60.000 orang, baik di Jawa maupun luar Jawa.
Satu tahun kemudian, pada 10 November 2012, mereka berdua merilis aplikasi tersebut dalam versi beta atau versi yang sudah dapat dipakai publik melalui Google Play Store.
Tidak lama kemudian, mereka terkejut lagi karena ternyata dalam waktu setahun aplikasi itu dirilis (sejak versi alfa), aplikasi itu sudah digunakan sekitar 2 juta orang.
Tidak hanya di Indonesia, aplikasi ini juga populer di banyak negara seperti kawasan Timur Tengah (Arab Saudi, Oman, Kuwait, dan Yaman), kawasan Amerika Selatan (Meksiko, Venezuela, dan Brasil), Indoa, serta Eropa (Turki, Jerman, dan Rusia). Bahkan hampir 70 persen lalu lintas data mengalir ke Timur Tengah.
“Gila waktu itu saya gemetar dan berjanji kepada diri sendiri kalau proyek ini harus diseriusi,” kata Arfan.
Menurut dia, bagi sebuah aplikasi lokal, menembus angka 1 juta pengguna dalam satu tahun merupakan prestasi besar. Apalagi sampai digemari di luar negeri.
Padahal mereka awalnya tak pernah berpikir untuk berbisnis membuat aplikasi. Berkat suntikan dana dari beberapa investor, Arfan dan Jagad pun terus mengembangkan Catfiz di bawah PT Duniacatfish Kreatif Media Surabaya yang berkantor di Intiland Tower, Surabaya. Kini, di kantor itu terdapat 20 pegawai yang sebagian besar merupakan programmer. Arfan fokus menangani bisnisnya dan Jagad mengurusi teknis pemrograman.
Saat ini, mereka sudah memiliki server sendiri sehingga keamanan percakapan dalam aplikasi itu lebih terjamin. Semula hanya punya dua server, tetapi kini mereka memiliki sekitar 100 server untuk melatani jutaan pengguna dan masih terus bertambah.
Mengelola bisnis teknologi informasi tak mudah. Carifiz juga sempat terpuruk, kehilangan banyak pengguna. Dari semula tembus di angka 2 juta pengguna, saat ini berkurang sekitar 1,8 juta pengguna. “Ini kesalahan kami tak bisa tak bisa merespons perubahan dengan cepat,” ujar Jagad.
Di dalam platform Android, banyak aplikasi percakapan yang bisa diunduh, terutama aplikasi yang populer, seperti Whatsapp, BBM, Line, kakao Talk, atau Telegram. Beragam aplikasi itu cepat berkembang dan menawarkan banyak bonus untuk menarik pengguna-pengguna baru, hal semacam itu tak dilakukan Catfiz hingga jumlah penggunanya berkurang.
“November ini, kami akan merilis Catfiz versi kedua yang memiliki banyak perubahan,” kata Jagad.
Jagad optimistis Catfiz yang terbaru ini akan mencuri perhatian pengguna telepon pintar. Dibandingkan dengan aplikasi percakapan lainnya, Catfiz terasa lebih luwes karena banyak fitur lain di luar urusan mengobrol. Keuangan yang ditonjolkan aplikasi ini adalah kemampuan bertukar file hingga 50 megabyte (MB). Selain itu, sebuah grup percakapan bisa menampung hingga 2.000 anggota, sementara aplikasi percakapan lain sekitar 100 anggota.
Catfiz juga menggunakan NIC atau kode seperti PIN dalam BBM untuk setiap pengguna. Penggunaan NIC ini untuk mengantisipasi “kelancangan” yang terjadi dalam aplikasi percakapan yang berbasis nomor telepon. Alasannya, tidak banyak orang mau nomor teleponnya diketahui. “Inilah yang kami maksud menyesuaikan karakter masyarakat Indonesia” kata Jagad.
Sumber: Kompas.23-Oktober-2015.Hal_.16

