Modern Minimalis Cara Freddy H.Istanto. Rumah Ekspresi Cinta. Jawa Pos. 5 Januari 2016. Hal.18

 

Rumah adalah sebuah buah cinta dari kasih keluarga. Rumah juga menyimpan unsur-unsur cinta seperti keindahan, harmoni, kedamaian, dan penghargaan. Itulah alasan ini disebut rumah cinta. Tulisan cinta juga sebagai penanda bahwa konsep ini mirip galeri. Banyak barang antik di dalamnya,” ucap Freddy.

 

Laki-laki 60 tahun itu mendesain sendiri rumahnya. Sang istri tercints Vonny Rumambi, yang dulu berkuliah di jurusan arsitektur turut memberikan ide.

 

Terletak di kawasan Citraland, rumah dengan dua lantai itu masih didominasi desain asli. “saya hanya rombak 40 persen sesuai aturan pengembang,” paparnya.

 

Freddy yang Dekan Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra baru menempati rumah tersebut pada Agustus 2015. Dia tetap menonjolkan karakter sebagai kolektor benda antik. “sejak muda saya hobi hunting barang antik,” ujarnya.

 

Barang antik itu tersebar di berbagai penjuru rumah. Di teras, tamu di sambut patung-patung seperti dwarapala (patung penjaga gerbang atau pintu dalam ajaran Siwa dan Buddha) dan guci.

 

Masuk ke rumah akan terlihat foyer sesuai dengan teori fengsui. Di sebelah kiri, sisi feminim diisi piano yang menggambarkan karir sang istri sebagai guru dan pemilik kursus musik. Di sebelah kanan, sisi maskulin diisi kursi dan meja. Beberapa buku diletakkan yang mencerminkan karir Freddy sebagai akademisi. Di dinding, tergantung lukisan aliran ekspresif berukuran 80 x 120 sentimeter. Gambarnya Kya-Kya Kembang Jepun karya Jansen-jasen.

 

Jalan beberapa langkah ke depan tersuguh patio atau taman kering beralas kayu. ‘kayu sebagai simbol transisi. Karena patio terletak di antara foyer dan ruang keluarga,” ucap Freddy.

 

Di patio terlihat banyak sekali barang koleksi. Mulai meja bekas sembahyang milik mendiang mertua, keris, tempat burung dari Lombok, luasan dari Tibet, Belanda, patung Buddha dari Thailand, kain ulos dari Batak, Setrika lawas dari Kalimantan, hingga guci zaman Kerajaan Majapahit. Semua ditata dengan apik.

 

Sesuai dengan desain rumahnya yang modern minimalis, semua ruangan ditata sesimpel-simpelnya. Di lantai 2, Freddy menyulap sebuah kamar menjadi perpustakaan yang tentu saja juga dihiasi barang-barang antik. Menurut dia, barang antik itu bukan hanya miliknya. Sang istri juga suka mengumpulkan, hanya tidak sebanyak Freddy. “Hiasan yang tidak seberapa antik saya display di luar rumah,” ujarnya.

 

KOMPAK MEMBERSIHKAN KOLEKSI

Ada lagi alasan rumah itu dinamai Rumah Cinta. Hunian tersebut dibeli pada 2014. Saat itu Freddy dan Vonny merayakan ulang tahun pernikahan ke-30. Di tahun itu pula mereka menikahkan putri sulungnya, Patricia Ika Mutiara. Jadi, nuansa cinta pada tahun itu memang sangat mendominasikan keluarga.

 

Sejak 2008 Freddy hanya tinggal bersama istri. Patricia sejak 2003 berada di belanda, sedangkan si bungsu Marcellino Aditya berkuliah di Malaysia. Hidup berdua membuat Freddy dan Vonny semakin kompak. Mereka memilih merawat sedniri semua barang antiknya. “Nah, sekarang mikir kalau mau beli lagi bersih-bersihnya tambah sulit,” jelas Vonny, lantas tertawa.

 

Semua barang koleksi itu biasa dibersihkan seminggu sekali. Untuk patio yang bisa diterjemahkan sebagai taman di dalam rumah, terdapat batu-batu putih sebagai ornamen. Membersihkannya cukup di semprot dengan air.

 

Demikian juga taman di belakang. Ada taman mini yang sebenarnya belum jadi untuk sementara Freddy memenuhi taman tersebut dengan tanaman dan beberapa patung. “nanti rencana mau bikin kolam ikan,” ungkap Freddy yang juga merupakan pendiri Komunitas Surabaya Heritage tersebut.

 

Sumber : Jawa Pos. 5 Januari 2016.