SURABAYA, Jawa Pos – Terinspirasi dari kemenangan national costume Miss Universe dari Myanmar, desainer Embran Nawawi mencoba mengusung busana daerah menjadi lebih menawan. Sebab, kemenangan best costume tersebut ternyata membawa konsep busana yang sangat kental dengan daerah di negara tersebut. Dari situ, Embran mengusung busana Madura yang cukup ikonik. Yakni, Sakera dan Marlena.

Embran menjelaskan bahwa busana tersebut biasa dikenal lewat acara budaya televisi. “Sampai yang busana prianya ini akrab dikenal busananya tukang sate,” ujarnya. Namun, meski begitu, busana dari Madura tersebut juga sempat dipakai Miss Grand Indonesia di ajang internasional. Sementara itu, busana yang perempuan lebih akrab dikenal dengan busana tukang rujak dalam beberapa peran sketsa drama.

Dengan konsep yang sangat akrab dengan budaya Indonesia itu, desainer yang juga seorang dosen fashion di beberapa kampus di Surabaya itu berkreasi dengan busana Marlena yang berkonsep kebaya merah dengan batik yang juga merah. “Di sini saya mengubahnya pun tanpa mengurangi esensi dari gaya khas Marlena. Hanya dengan permainan style-nya,” terangnya.

Batik merah untuk bawahannya dibuat mengembang dan berekor. Sementara itu, bagian kebayanya dibuat dengan style yang lebih modem untuk memberikan kesan gaya berbusana masa kini. Detailnya, dia lebih bermain dengan aksesoris emas dari kepala hingga kaki.

Untuk Sakera, Embran mengganti bahan material dari yang kebanyakan dipakai si Sakera. “Pesak atau jaket sederhana yang warna hitam itu saya ganti dengan kemeja transparan dengan bahan lace,” jelasnya. Sementara itu, bagian kaus merah putih di dalamnya tetap sama. Outer yang transparan itu pun akhirnya memberikan poin tersendiri sehingga kaus merah putih itu terlihat lewat transparannya kemeja.

Untuk bagian celana, konsep kombor tetap dipertahankannya. Yang berbeda, Embran hanya menambahkan kain batik yang serupa dengan batik Marlena. Kemudian masuk ke detailnya, dia mengubah sabuk yang mulanya seperti sabuk jampang dengan obi berwarna hitam putih.

Lewat kreasi tersebut, dia berharap pakaian-pakaian tradisional yang kesannya sangat ketinggalan zaman bisa terus diingat. Sebab, hanya dengan beberapa modifikasi dan kreativitas, baju tradisional itu pun bisa menjadi fashionable dan menjadi perwakilan sebuah daerah untuk. mengenalkan budaya lewat ajang-ajang pageant. (ama/c12/tia)

 

Sumber: Jawa Pos. 24 Mei 2021. Hal.24