Moment of Truth Presiden Jokowi. Bisnis Indonesia. 27 April 2015.Hal.2

Oleh Dewa Gde Satrya (Dosen IHTB-UC)

Peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) telah berlangsung di Jakarta dan Bandung pada 19-24 April 2015. Jalannya acara dan materi acara telah berjalan sukses, sesuai dengan yang direncanakan.

Ada tiga dokumen yang disepakati dan ditandatangani bersama pada konferensi tingkat tinggi tersebut yaitu Pesan Bandung 2015, Deklarasi Penguatan Kemitraan Strategis Asia dan Afrika, dan Deklarasi Mengenai Palestina.

Kesuksesan acara dapat diprediksi dari tingkat persiapan yang dilakukan. Tiga aspek penting perhelatan 60 tahun KAA, yakni aspek acara, logistik dan pengamanan acara yang dijadikan satu dengan 10 tahun New Asia Africa Partnership Strategic (NAPS) itu, telah menjadi kunci sukses Indonesia sebagai tuan rumah.

Karena itu, pantaslah jika ajang internasional prestisisus pertama di masa Presiden Jokowi ini akan menjadi moment of truth bagi kepemimpinannya untuk menjadi tuan rumah yang baik, sekaligus berhasil dari segi materi acara. Event dengan tema Perkuatan Kerja Sama Negara Selatan-Selatan ini dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat peran dan keberadaan Indonesia di kawasan maupun internasional.

Di sisi pariwisata, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, dua kegiatan utama dalam peringatan 60 tahun KAA 2015 yakni core event dan side event. Sebagai core event antara lain pertemuan tingkat pejabat senior atau senior official meeting (SOM), serta ministerial meeting dan leaders meeting. Pada pertemuan SOM sejumlah kepala negara atau kepala pemerintahan antara lain RRT, Pakistan, Bangladesh, Kamboja, Malaysia serta sekitar 80 utusan dari negara peserta tercatat menghadiri konferensi ini.

Selain core event, kegiatan utama lainnya sebagai side event antara lain promosi pariwisata, Adia Afrika Carnival, forum diskusi parliamentary, pameran dan workshop Kerja sama Selatan-Selatan Triangular (KSST), Indonesia Heritage Exhibition, Pameran Koleksi Dokumentasi KAA, New Asia Youth Conference 2015, Asia Africam Business Summit (AABS), Working Lunch SIDS, serta penampilan grup band Slank.

BUNG KARNO

Berkaitan dengan peristiwa bersejarah tersebut, tak lepas dari peran dan jasa Bung Karno. Jika Bung Karno memiliki nama besar di dunia pada masanya, dapat disebutkan berbagai kiprahnya dalam pergaulan global. Kecerdasan Bung Karno tidak semata-mata jago lobi dan berbahasa asing, tetapi tepat melakukan positioning dan membangun sinergi dengan bangsa-bangsa di dunia.

Pada masa Bung Karno, Indonesia sebagai negara baru mutlak membutuhkan pergaulan global guna mendapat pengakuan yang sejajar di antara bangsa-bangsa. Pilihan Bung Karno melakukan ‘kinerja kebudayaan’ untuk merangkul bangsa-bangsa dapat dilihat melalui event internasional yang dihelat di Indonesia. Sebut misalnya Ganefo, KTT Asia Afrika dan KTT Non Blok yang melegenda dan tertancap kuat dalam sejarah negara-negara kecil yang kontra dengan kekuatan blok barat, merupakan ‘warisan monumental’ presiden pertama negeri ini.

KAA adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memproleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dulu Burma), Sri Lanka (dulu Ceylon), India dan Pakistan dan dikoordinasikan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerja sama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Sovier, atau negara imperialis lainnya.

Sebanyak 30 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat untuk mengonsultasikan dengan mereka tentang keputusan-keputusan yang memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran mereka mengenai ketegangan antara Republik Rakyat China dan Amerika Serikat; keinginan mereka untuk membentangkan fondasi bagi hubungan yang damai antara Tiongkok denga mereka dan pihak Barat; penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Prancis di Afrika Utara dan kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair; dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat.

Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang “pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerja sama dunia”. Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru. Sejarah mencatat, konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.

MICE PRESIDEN SBY

          ‘Model’ yang dikembangkan Bung Karno tampaknya juga ditiru oleh para penerusnya, mulai Soeharto hingga SBY. Presiden keenam Indonesia ini dapat dikatakan yang paling rajin melakukan pertemuan internasional di Indonesia. Melalui kementerian terkait, di bawah kepemipinan SBY telah terjadi ratusan pertemuan berskala internasional, baik pertemuan pemerintahan maupun bisnis.

MICE atau meeting, incentive, conference, event and exhibition, kian berkibar pada masa SBY. Banyak meeting dan acara internasional yang menempatkan Indonesia sebagai tuan rumah. Dua di antaranya, konferensi tingkat tinggi Asia-Pasific Economic Cooperation (APEC) dengan tema Ketahanan Asia Pasifik sebagai Mesin pendorong Pertumbuhan Ekonomi Dunia, dan ajang ratu kecantikan Miss World.

Dari sisi infrastruktur, Bali yang saat itu menjadi tuan rumah perhelatan tersebut terus berbenah, bandara, jalan tol di atas permukaan laut dan underpass di Bali sebagai tempat penyelenggaraan, adalah infrastruktur yang dibangun menyertai perhelatan KTT APEC.

10 kota besar di Indonesia selain Bali juga menjadi tuan rumah berbagai pertemuan APEC pada Oktober 2013 lalu. Selain event puncak, banyak acara dan pertemuan internasional di bidang music, seni pertunjunkan, ataupun seminar yang substansinya serius serta pertemuan tingkat menteri atau pejabat tinggi yang dilakukan di seluruh Indonesia. Sebanyak 10 kota tersebut adalah Lombok, Medan, Palembang, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Manado, Makassar, Semarang, dan Surabaya.

Lompatan pertumbuhan industry MICE sebagai salah satu pendukung industri pariwisata di Indonesia memang semakin terasa sejak tahun 2011. Kala itu Indonesia sebagai ketua ASEAN menjadi tuan rumah lebih dari 600 perhelatan internasional sepanjang tahun 2011-2013, selain juga penyelenggaraan East Asia dan ASEAN Summit. Presiden SBY saat itu juga mengingatkan agar para menteri mencarikan tempat lokasi meeting selain Jakarta dan Bali untuk mengenalkan berbagai destinasi wisata Tanag Air kepada dunia.

Penyelenggaraan even MICE berskala internasional di Indonesia memperkuat positioning dan branding Indonesia sebagai tujuan wisata MICE tingkat dunia. Dalam pariwisata, MICE merupakan produk unggulan karena kegiatan itu menghasilkan devisa dan pendapatan daerah lebih besar dibandingkan pengeluaran wisatawan biasa yang datang ke Indonesia.

Wisatawan MICE pada umumnya mempunyai pengeluaran (spend of money) yang tinggi dan lama tinggal (length of stay) lebih panjang. Sehingga, secara keseluruhan waktu dan pengeluaran mereka lebih besar. Dalam KTT UNFCCC di Bali beberapa tahun lalu misalnya, ada sejumlah kegiatan pendukung, baik berupa side event maupun parallel event.

Indonesia di era Bung Karno hingga SBY telah membuktikan keberhasilannya menjadi tuan rumah even internasional dan berdampak bagi kebaikan peradaban. Kini, Presiden Jokowi melalui momen perayaan 60 tahun KAA ini telah membuat catatan sejarah baru menjadi tuan rumah event internasional. Selamat.

Sumber: Bisnis-Indonesia.-27-April-2015.Hal_.2