Sumber : https://insight.kontan.co.id/news/momentum-wisata-liburan-lebaran

Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 8 Tahun 2023 tentang Cuti Bersama Pegawai Aparatur Sipil Negara tahun 2023 menetapkan cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1444 H pada 19 April sampai 25 April 2023, Tentunya masa liburan panjang Lebaran ini memiliki keterkaitan dengan pariwisata.

Memaknai perayaan Hari Raya Tdul Fitri ini dengan kelekatannya pada ekspresi publik melalui kegiatan berwisata, kepariwisataan perlu semakin dibawa ke ranah-ranah idealitas. Kepariwisataan tak lain untuk semakin menyeruakan ke permukaan kebaikan-kebaikannya bagi umat manusia.

Undang-undang Nomor 10/2009 tentang Kepariwisataan meng- amanatkan bahwa pariwisata me- miliki 10 tujuan: meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya. Selain itu, tujuan dari pengembangan pariwisata adalah untuk memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta Tanah Air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, serta mempererat persahabatan antar bangsa.

Idealisme kepariwisataan lainnya juga tersirat setiap kali Hari Pariwisata Dunia dirayakan pada 27 September. Tujuan dari peringatan tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran bahwa. pariwisata sangat vital bagi peradaban dunia yang berdampak pada kehidupan sosial, budaya, ckonomi serta politik.

Tema World Tourism Day (WTD) berganti setiap tahun seiring keprihatinan peradaban, di antaranya perempuan (2007), sport and tourism (2004), tourism and transport (2005), tourism enriches (2006), perubahan iklim (2008), dan tahun ini, WTD ke-30 yang dipusatkan di Ghana, Afrika, mengangkat tema Tourism-Celebrating Diversity.

Lebaran=berwisata

Keberagaman merupakan salah satu daya pacu di balik kepariwisataan dan dapat mendorong semua negara untuk berbagi kebersamaan yang menguntungkan, dengan membangun ikatan yang lebih kuat satu sama lain. Tidak diragukan lagi bahwa pariwisata merupakan sarana atau katalisator untuk membangun pemahaman, mendorong inklusi sosial, dan meningkatkan kelayakan standar hidup.

Lantas di manakah letak motivasi dan hakekat turisme yang ideal di liburan Lebaran ini di be- nak publik?

Hemat penulis, korelasi penting antara peringatan suci Lebaran di satu sisi, dan turisme sebagai dampak liburan Lebaran terletak pada beberapa segi.

Pertama, ekspresi ‘kemenangan’ seusai berpuasa satu bulan. Ungkapan syukur atas ‘kemenangan’ itu melahirkan jiwa yang merdeka dan bebas dalam arti postif. Hal yang esensial dalam kebebasan dan kemerdekaan itulah yang merupakan dimensi yang masif dalam pariwisata.

Orang dapat berwisata hanyalah dengan syarat kemerdekaan dan kebebasan yang dimiliki bangsa- nya. Di negeri kita, hikmah penting kemerdekaan dan kebebasan dari rasa takut dan terancam dimaknai dengan mendeklarasikan diri sebagai destinasi wisata internasional.

Kedua, menjadi daya spiritual yang lebih berdenyut di ranah pe- layan publik (pemerintah). Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf) RI tiada hentinya mendorong upaya-upaya demi kenyamanan masyarakat berwisata selama liburan panjang Lebaran ini.

Upaya itu tak lain untuk meningkatkan daya saing pariwisata dalam negeri yang selanjutnya berdampak pada mentalitas masyarakat untuk mengasosiasikan dan mengaktualisasikan ungkapan rasa syukur atas hari raya Idul Fitri dengan berwisata di negeri sendiri.

Secara garis besar tugas pemerintah di bidang kepariwisataan menekankan pada tiga langkah strategis. Pertama, menjadi tuan rumah yang baik (be a good host). Kedua, memperlakukan wisat- awan secara baik (treat your guest property). Ketiga, membangun sebuah rumah yang nyaman bagi wisatawan (building a home sweet home).

Riset Mark Plus & Co merumuskan dan merancang sebuah model “Platform Pemasaran Daerah” dan “Strategic Place Triangle”. Mengacu dari riset tersebut, ada tiga perubahan mendasar dalam tata kelola pemerintahan.

Pertama, tuntutan bagi pemerintah daerah untuk mentransformasi diri dari bureaucratic-monopolistic-government ke entrepreneurial-competitive government. Perubahan ini akan memaksa pemerintah daerah untuk mentransformasi diri dari bureaucratic-monopolistic-government ke entrepreneurial-competitive government.

Kedua, mengharuskan mereka bermetamorfosis diri dari pemerintah daerah yang “cuek-bebal” menjadi pemerintahan daerah yang berorientasi pelanggan (customer-driven government) dan bertanggungjawab (accountable government) terhadap seluruh stakeholdernya secara seimbang. Dan ketiga, mendorong pemerintah daerah mengevolusi diri dari pemerintah yang hanya memiliki local orientation menjadi pemerintah yang meniliki global-cosmopolitan orieatation.

Ketiga, wisata lebaran juga sepantasnyalah memiliki nilai sosial, lebih-lebih keterkaitannya dengan energi positif selama berpuasa. Berwisata seharusnya tidak sekedar mengumbar kesenangan personal tanpa melihat atau mempertimbangkan efek sosial yang muncul. Jika demikian, berwisata selama Lebaran ini pilihlah akomodasi (penginapan), tempat makan, transportasi serta destinasi- destinasi wisata yang pro-poor dan pro-job.

Riilnya, perlu ada keberanian kita untuk menilih tidur tidak di hotel-hotel mewah, melainkan di penginapan-penginapan yang disediakan warga di sekitar lokasi wisata (local homestay), makan makanan lokal yang khas dan mengundang selera dengan harga ‘yang sangat terjangkau, serta tempat-tempat wisata di mana uang yang beredar langsung masuk ke banyak kantong.

Dengan demikian, peningkatan turisme selama liburan Lebaran ini berdampak strategis untuk menggiatkan warga menggali peluang-peluang mendapatkan uang secara kreatif di bidang pariwisata. Pengangguran pun perlahan terserap ke sektor-sektor kerja yang disediakan secara massal oleh masyarakat selaku wisatawan domestik. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H.