Motor Pustaka Si Penambal Ban.Kompas.27 Januari 2016.Hal.16

Mungkin hanya Sugeng Hariyono (32), tukang tambal ban yang disapa “Pak Guru”. Sapaan itu semacam bentuk penghormatan dari warga kampung yang setiap sore menantinya untuk meminjam buku secara gratis. Ya, di sela-sela pekerjaannya sebagai tukang tambal ban, Sugeng menjalankan perpustakaan keliling di atas sepeda motor butut.

OLEH VINA OKTAVIA

 

Saat anak-anak di Desa Lebungnala, Kabupateb Lampung Selatan, asyik mengaji di masjid, Sugeng memarkir sepeda motor GL Max tahun 1986 di halaman rumah warga. Begitu selesai mengaji, anak-anak langsung berhamburan menghampirinya. Mereka menyerbu “rak buku” berupa tas besar yang Sugeng letakkan di jok motornya.

Dia membiarkan anak-anak mengacak-acak tempat buku yang ia rancang mirip tas pegawai pos. “Lebih baik buku ini diacak-acak dan dibaca daripada hanya ditata rapi, tapi tidak ada yang baca,” kata Sugeng, Kamis (14/1). Dia sebut sepeda motor dengan tas berisi buku itu sebagai perpustakaan keliling.

Dengan telaten, lulusan Diploma II Ilmu Perpustakaan Universitas Pokjar, Ponorogo, Jawa Timur, itu mencatat judul buku yang dipinjam setiap anak. Mereka boleh meminjam buku sebanyak-banyaknya untuk dibaca dan dikembalikan pekan depannya.

Seusai menemani anak-anak membaca serta melayani peminjaman buku, Sugeng berkeliling ke gang-gang lain. Anak-anak yang hafal jadwal kedatangannya sudah menunggu di depan rumah. Mereka siap mengembalikan buku lama dan meminjam buku baru.

 

Modal Tekad

Kecintaan Sugeng pada buku sudah muncul sejak kecil saat ia tinggal di Ponorogo. Namun, ia kerap tidak dapat memuaskan hobi membaca. Maklum, di kampung tidak banyak tersedia buku.

“Saya hanya dapat meminjam buku dari perpustakaan sekolah. Itu pun tak bisa di bawa pulang. Saya tidak ingin mereka (anak-anak yang dijumpai Sugeng di Lampung) mengalami nasib seperti saya,” katanya.

Kenangan masa kecil itulah yang menggerakkan pemuda tersebut untuk mengenalkan buku kepada anak-anak di sudut kampung di Lampung yang menjadi daerah perantauannya. Pertanyaan dari seorang tetangga pada suatu sore dua tahun lalu kian mengusik nuraninya.

“Perpustakaan itu apa, Mas?” ujar Sugeng mengenang. Saat itu, ia bertanya kepada seorang warga dimana alamat perpustakaan terdekat. Di luar dugaannya, orang itu bahkan tak paham arti perpustakaan.

“Mendengar jawaban itu, saya semakin yakin harus berbuat sesuatu di desa ini. Saya memulainya dengan memperkenalkan buku,” ujarnya.

Namun, usaha itu bukan soal mudah bagi Sugeng yang sehari-hari bekerja sebagai tukang tambal ban. Pendapatannya tidak menentu. Jika ramai pelanggan, ia bisa mendapatkan uang Rp 40.000 sehari. Jika sebaliknya, ia bisa saja tidak mendapatkan uang sama sekali. Dengan pendapatan sekecil itu, jangankan menyisihkan uang untuk membeli buku, membayar uang sewa rumah dan usaha saja ia tak mampu.

Selama beberapa waktu, ia menumpang usaha tambal ban di bengkel milik slaah satu warga yang membuka usaha reparasi sepeda motor. Ia juga diizinkan untuk tinggal di kios milik warga yang baik hati itu.

Belakangan, kios itu disewa orang sehingga Sugeng harus angkat kaki. Ia terpaksa tinggal di bekas kandang burung merpati yang sudah dibersihkan. Sebenarnya ada sanak keluarga di Lampung, tetapi ia ingin mandiri.

Impiannya memperkenalkan buku kepada anak-anak seperti jauh panggang dari api. Namun, kalau sudah punya tekad, pasti ada jalan. Sugeng menabung beberapa lama hingga terkumpul uang Rp 500.000. Dana tersebut untuk membeli sepeda motor bekas dari tukang rongsokan. Ia merancang sendiri tas besar sebagai rak buku, lalu membeli 60 buku bekas untuk koleksi awal perpustakaan kelilingnya.

Setelah semuanya beres, setiap sore, Sugeng meluangkan tiga jam waktunya untuk menemui anak-anak. Kini, sepeda motor yang menemaninya berkeliling kampung untuk meminjamkan buku ia beri nama “Motor Pustaka”.

Saat pertama kali berkeliling kampung pada Maret 2014, ia sempat dikira pedagang asongan. Banyak warga bertanya, berapa uang yang harus dibayar untuk setiap buku yang dipinjam. “Saya bilang gratis, dan itu membuat warga heran,” ujarnya.

Awalnya, Sugeng kesulitan membujuk anak-anak untuk membaca buku. Namun, kedatangannya setiap sore membuat anak-anak di kampung itu  terbiasa membaca buku. Minat mereka untuk membaca dan meminjam buku Sugeng mulai tampak. Setiap keliling, hampir 30 buku yang dibawanya dipinjam. Bahkan, orangtua mereka pun ikut meminjam buku.

Namun, saat minat warga tumbuh, mereka mulai protes karena buku-buku yang Sugeng bawa selalu sama. Mereka bosan kalau harus membaca ulang buku-buku itu.

Sugeng pun mulai mempublikasikan kegiatannya di berbagai media sosial agar mendapat sumbangan buku. Ia sadar, penghasilannya sebagai tukang tambal ban tak cukup untuk membeli banyak buku baru.

“Saya tak ingin semangat membaca anak-anak dan warga sekitar redup karena buku bacaan yang itu-itu saja. Saya pun memutuskan menggalang sumbangan buku lewat akun Facebook,” katanya.

Usaha itu tak sia-sia. Ia banyak menerima sumbangan buku bacaan dari teman-temannya di dunia maya. Bantuan buku juga ia terima dari sejumlah komunitas membaca di sejumlah daerah.

Kini, buku bacaan koleksinya mencapai 1.800 buku. Jangkauan keliling Sugeng pun lebih luas, dari hanya satu desa menjadi empat desa.

Keinginan Sugeng untuk memajukan warga desa tak sekadar memperkenalkan buku. Ia juga membuka kursus komputer gratis bagi remaja di empat desa tersebut.

 

Kapal Pustaka

Balai desa dimanfaatkan sebagai ruang belajar. Warga pun dengan sukarela meminjamkan komputer jinjing yang dimilikinya. Setiap Sabtu malam, ada sekitar 30 anak yang belajar mengoperasikan komputer.

“Saya mengajak beberapa warga yang mahir komputer untuk menjadi mentor. Anak-anak belajar banyak hal, misalnya mendesain gambar dan mengunggah gambar,” katanya.

Sugeng lalu meminta anak asuhnya untuk mempromosikan produk pertanian warga. “Mereka mulai berani mempromosikan jadung dan padi hasil panen orangtuanya masing-masing. Meski belum sukses menggalang langganan lewat internet, setidaknya mereka belajar,” katanya.

Inisiatif Sugeng untuk memperkenalkan buku dan membuka kursus komputer gratis membuat anak-anak kampung bersemangat belajar. Mereka yang semula berencana merantau ke Jakarta setelah lulus sekolah pun optimistis untuk berusaha di kampung sendiri dengan memnafaatkan kemajuan teknologi.

Saat ini, dengan bantuan donatur, Sugeng tengah memesan sebuah kapal kayu. Menurut rencana, kapal itu akan digunakan untuk mengunjungi pulau-pulau kecil di pesisir Lampung, seperti Pulau Harimau dan Pulau Sebesi, dengan “kapal pustaka”.

Sugeng berharap perpustakaan keliling berkembang di setipa desa di Lampung. Untuk mewujudkan mimpi itu, ia bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan mendirikan komunitas relawan membaca 15 menit. Sugeng juga melanjutkan Kuliah Strata 1 Perpustakaan di universitas Terbuka Lampung dengan bantuan donatur. “Saya mengajak relawan berkeliling ke sekolah dasar untuk membacakan cerita di depan kelas. Dengan begitu, anak-anak SD terbiasa dengan buku,” ujarnya.

Di benak anak-anak yang kini gemar membaca buku, Sugeng tak ubahnya seorang guru. Pak guru yang telah mengajarkan mereka tentang asyiknya membaca buku dan belajar. Ia menumbuhkan semangat belajar dan minat baca anak-anak dari sudut kampung.

 

SUGENG HARIYONO

▪ Lahir : Ponorogo, 5 Mei 1983

▪ Pendidikan :

  • SD Negeri 1 Karang Patihan, Ponorogo, Jawa Timur
  • SMP Muhammadiyah 4 Balong, Ponorogo, Jawa Timur
  • SMA Negeri 1 Balong, Ponorogo, Jawa Timur
  • D-2 Ilmu perpustakaan Universitas Pokjar, Ponorogo, Jawa Timur
  • Saat ini menempuh studi S-1 Perpustakaan di Universitas Terbuka Lampung

▪ Orang tua : Saptono dan Katirah

▪ Saudara :

  • Siti Nur Kasanah
  • Tri Yudi Setiawan
  • Ahmad Teguh Santoso

UC Lib-Collect

 Kompas. Rabu. 27 Januari 2016. Hal. 16