958037f0-e005-0133-42dc-0e89da4c2bc1

Movie Time at UC Library kembali hadir pada Jumat (19/5) lalu dan kali ini menayangkan film berjudul “Freedom Writers”, film yang dibintangi pemenang piala Oscar Hilary Swank ini diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang guru dalam membangkitkan kembali semangat anak-anak didiknya untuk kembali belajar dan terlepas dari rasa intoleran, rasisme, radikalisme, dan saling curiga yang sudah sangat melekat dalam hidup mereka.

Di acara yang dimulai pkl. 13.00 wib di Library Lounge ini menceritakan tentang seorang guru idealis berpendidikan tinggi bernama Erin Gruwell (Hilary Swank) yang datang ke Woodrow Wilson High School, Long Beach, California sebagai guru Bahasa Inggris untuk kelas khusus anak-anak korban perkelahian antargeng rasial. Banyak sekali kasus rasisme yang terjadi di sekolah ini. Di lain sisi, Erin adalah guru yang sangat bersemangat dalam mengajar dan Erin memiliki sebuah misi yang sangat mulia, ia ingin memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak bermasalah yang bahkan guru yang lebih berpengalaman pun enggan mengajar mereka.

Tapi kenyataan tidak selalu seperti yang dipikirkan. Di hari pertama Erin mengajar, ia baru menyadari bahwa perang antargeng yang terjadi di kota tersebut juga terbawa sampai ke dalam kelas. Di dalam kelas mereka duduk berkelompok menurut ras masing-masing. Tak ada seorang pun yang mau duduk di kelompok ras yang berbeda. Kesalahpahaman kecil yang terjadi di dalam kelas bisa memicu perkelahian antar ras.

Erin ingin sekali membuat para muridnya menjadi lebih baik, salah satu inovasi yang ia lakukan adalah dengan membuat sebuah permainan kreatif yang dapat menyatukan perbedaan-perbedaan mereka. Alhasil ternyata dalam keberagaman dan perselisihan, mereka masih memiliki banyak persamaan walaupun kisah sedih menghiasinya. Selain itu Erin juga memberikan mereka jurnal kosong dan meminta mereka setiap hari menulis apapun yang ada di hati dan pikiran mereka di jurnal tersebut, menceritakan kisah mereka sendiri, entah itu tentang masa lalu, masa kini, ataupun masa depan. Cara Erin berhasil, dan jurnal harian dari para murid-muridnya setiap hari kembali pada Erin dengan tulisan mereka tentang apa yang mereka alami dan mereka pikirkan setiap hari. Dari jurnal harian itu yang ditulis, Erin paham bahwa dia harus membuat para muridnya sadar bahwa perang antargeng yang mereka alami bukanlah segalanya di dunia. Erin berusaha membuat para muridnya sadar bahwa dengan pendidikan mereka akan bisa mencapai kehidupan yang lebih baik.

Untuk memotivasi para siswanya, Erin berencana memberi mereka banyak buku bacaan yang ternyata sangat kurang di sekolah itu. Tapi pihak sekolah benar-benar tak mengijinkan hal tersebut, pihak sekolah malah menyarankan untuk membuat anak-anak itu disiplin dan taat aturan yang sudah dibuat. Tidak patah arang, Erin memutuskan untuk mengorbankan waktu luangnya untuk bekerja sambilan demi membeli buku-buku bacaan yang berguna bagi para muridnya. Hasilnya, semangat belajar murid-muridnya kembali muncul.

Erin mencoba memperbaiki motivasi setiap siswa untuk menjadi yang lebih baik, bahkan ketika ada 1 siswa yang gagal mendapat nilai baik, Erin mengajaknya berbicara 4 mata dan memotivasinya untuk memperbaiki nilainya. Cerita Holocaust dalam buku “The Diary of Anne Frank” menjadi cerita yang sangat personal menggugah masing-masing siswa, bahkan Erin sampai mengundang para korban-korban Holocaust untuk berbagi cerita kepada para siswa tentang pengalamannya hidupnya yang membuat para siswa tercengang, sadar bahwa kehidupan mereka jauh lebih mudah dibanding para korban tersebut.

collage
Suasana Movie Time @ UC Library pada Jumat (19/5) lalu.