Muhammad Fadli_Dunia Baru Setelah Amputasi.Kompas.21 Februari 2017.Hal.16

Muhammad Fadli

Mantan pebalap motor nasional Muhammad Fadli tak sudi terpuruk. Setelah kaki kirinya diamputasi akibat kecelakaan hebat di Sirkuit Internasional Sentul pada 2015, ia menata hidupnya. Ia bersusah payah latihan balap sepeda dengan satu kaki palsu agar bisa kembali ke dunia olahraga yang ia cintai.

OLEH LUSIANA INDRIASARI

Sejak subuh, Kamis (9/2) lalu, Fadli telah bersiap di Sirkuit Sentul Bogor, Jawa Barat, yang telah membesarkan namanya di dunia balap motor selama 15 tahun. Namun, pada pagi yang basah oleh hujan itu, Fadli datang bukan untuk balapan motor, melainkan berlatih sepeda.

Ia mengeluarkan sepedanya dari dalam mobil dan bergegas turun ke lintasan. Beberapa kali ia merapikan pelindung lutut yang berfungsi membebat prostetik (kaki palsu) agar tersambung ke tungkai kirinya yang tak utuh. Sambungan kaki itu sudah kendur karena di lokasi bekas amputasi, otot-otot kaki Fadli mulai mengerucut, suatu kondisi normal setelah amputasi.

Setelah dirasa kaki palsunya kokoh, Fadli mulai menggenjot sepedanya. Awalnya pelan, lalu makin kencang hingga kecepatannya mencapai 40-50 kilometer per jam setelah beberapa putaran. Pagi itu ia siap melibas lintasan dengan jarak tempuh 100 kilometer. Selama satu pekan, setiap hari Fadli harus menyelesaikan jarak minimal 100 kilometer. Target tersebut ditetapkan oleh pelatih Fadli, mantan sprinter sepeda, Puspita Mustika.

“Saya sekarang bisa menempuh 100 kilometer dalam waktu 2-3 jam. Awalnya hanya bisa bersepeda 10-20 kilometer saja,” katanya.

Selama dua minggu terakhir ini, Fadli digembleng oleh sang pelatih memperkuat ketahanan tubuh dan melatih kecepatan. Rangkaian latihan itu dijalani Fadli sebagai persiapan untuk tampil pada Kejuaraan Balap Sepeda Asia (ACC) untuk difabel tanggal 24 Februari mendatang di Bahrain. Ia ditunjuk Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) untuk mewakili Indonesia di nomor 30 kilometer individual time trial.

Fadli berlatih keras agar kaki kirinya punya kekuatan yang sama dengan kaki kanan. Sekarang kemampuan kaki kiri Fadli masih 30-40 persen dibandingkan dengan kaki kanan. Ia yakin, jika memiliki kaki palsu dengan sambungan yang pas, kekuatan mengayuhnya akan meningkat 30 persen.

Saat ini Fadli belum mendapat kaki palsu yang sambungannya pas dengan tungkai kakinya dan nyaman dipakai untuk mengayuh sepeda. Ia juga berharap bisa memakai kaki palsu dengan desain aerodinamik untuk mengurangi gesekan udara sehingga bisa melaju lebih kencang.

Meski fasilitas itu belum ada, Fadli menjalani latihan dengan semangat. “Saya dulu juga memulai balap motor dengan fasilitas apa adanya. Tanpa wearpack (pakaian khusus balap) dan hanya memakai pakaian biasa saja. Namun, saya yakin dengan kerja keras segalanya (fasilitas) akan lebih baik,” ujarnya.

Dunia baru

Balap sepeda menjadi dunia baru Fadli sejak tiga bulan yang lalu. Sebelumnya, Fadli malang melintang di dunia balap motor sejak remaja. Awalnya ia menjadi pebalap liar di Cibinong, Jawa Barat. Setelah itu, ia tampil di trek Kemayoran untuk berpacu scooter tahun 2001. Dari balap scooter, Fadli melompat ke balap motor bebek. Terakhir, ia naik kelas ke balap motor besar 600 cc.

Di lintasan balap, nama Fadli cukup disegani. Ia pernah menjadi juara nasional dan juara di tingkat Asia sejak 2004 di kelas 110 cc. Di kelas yang lebih tinggi, ia juga pernah menjadi juara pada kejuaraan nasional dan Asia. Belakangan, ia terus merintis tampil di kejuaraan internasional yang lebih tinggi.

Sayangnya, perjuangan Fadli di lintasan balap motor terhenti akibat kecelakaan hebat pada Asia Road Racing Championship 2015 di Sirkuit Sentul. Ketika sedang merayakan kemenangan di seri kedua, ia ditabrak dari belakang oleh pebalap Thailand, Jakkrit Sawangswat. Akibat tabrakan tersebut, bagian bawah lutut kiri Fadli hancur. Sejak saat itu Fadli bergulat untuk sembuh.

Frustrasi

Pemuda kelahiran Cibinong yang bergabung dengan Astra Honda Racing Team (AHRM) itu menjalani perawatan di Rumah Sakit Pertamedika Sentul selama empat bulan. Luka luar memang sudah sembuh, demikian juga dengan tulangnya yang mulai tersambung. Namun, hingga satu bulan di rumah, Fadli masih merasakan nyeri luar biasa jika kakinya dipakai berjalan. “Semua sarafnya sudah rusak,” ujar Fadli.

Setelah itu, mental Fadli merosot. “Saya sempat frustrasi. Rasa nyeri membuat saya tidak bisa aktif lagi,” kata Fadli. Di tengah rasa frustrasinya, ia membaca kisah atlet di luar negeri yang kehilangan anggota tubuhnya di internet. Ternyata ia masih bisa berkompetisi dan menjadi olimpian di ajang Paralimpik (Olimpiade untuk atlet difabel).

Fadli terinspirasi oleh kisah itu. Ia tidak ingin tersiksa terus oleh rasa nyeri dan frustrasi. Pada satu titik, ia akhirnya memutuskan untuk menjalani amputasi kaki kirinya yang rusak pada Januari 2016. Padahal, saat itu dokter masih berharap kaki kiri Fadli bisa sembuh meski belum tentu pulih seperti sediakala.

Fadli tetap pada pendiriannya. Dia berpikir, jika kaki kirinya yang rusak diamputasi, ia bisa segera menyusun banyak rencana, termasuk aktif kembali di dunia olahraga yang dicintainya.

Tiga bulan setelah amputasi, Fadli mulai mengayuh sepeda. Olahraga sepeda dipilih karena ia sudah biasa bersepeda ketika masih menjadi pebalap motor. Bersepeda jarak jauh adalah cara Fadli untuk meningkatkan ketahanan tubuh.

Dari rumah kecilnya di kawasan Sentul Kecil, Fadli mengayuh sepeda hingga ke permukiman di Bukit Sentul yang berbukit-bukit. Ia mendorong dirinya hingga ke batas yang ia mampu. Fadli mengakui, ia menekuni sepeda agar bisa kembali ke dunia balap motor. Namun, jalan hidup orang bisa berubah setiap saat.

Saat berlatih sepeda, Fadli bertemu dengan orang-orang PB ISSI. Ia kemudian ditawari menjadi atlet paracycling karena PB ISSI belum memiliki atlet difabel balap sepeda. Fadli menimbang-nimbang tawaran tersebut.

Pada satu titik ia berpikir bahwa tawaran itu membuka jalan dan peluang untuk masuk ke dunia baru. “Pada akhirnya saya mesti realistis, selama ini tidak ada pebalap motor yang bisa kembali ke sirkuit setelah amputasi,” kata Fadli.

Ia pun menerima tawaran itu dan menekuni balap sepeda. Untuk memotivasi diri dan sesama difabel, Fadli rajin mengunggah video aktivitasnya bersepeda di media sosial. Ia juga telaten melayani kaum difabel yang ingin “curhat” secara daring.

“Saya selalu memberi semangat bahwa masih banyak hal bisa dilakukan meski kami memiliki keterbatasan,” kata Fadli.

Ia menyadari, tidak banyak difabel di Indonesia yang beruntung seperti dirinya. Ia memiliki kaki palsu sehingga bisa lebih leluasa beraktivitas. Bahkan, ia sekarang bisa berkompetisi lagi di dunia olahraga yang ia cintai.

 

            MUHAMMAD FADLI

  • Lahir: Bogor, 25 Juli 1985
  • Istri: Dyah Asri Astyavi
  • Anak: Muhammad Ali
  • Debut balap: 2001 Scooter race
  • Prestasi:
  • 6th Position Supersport 600 FIM Asian GP 2008
  • 5th Winner Indoprix IP1 2008
  • 3rd Winner Indoprix Ip2 2008
  • Juara Nasional IRS 2010
  • Juara Nasional IRS 2011
  • Juara Nasional IRS 2013 Supersport 600 cc

 

Sumber : Kompas. 21 Februari 2017. Hal. 161.