SWA.Muhammad Imran_Technopreneur di bidang big data.20 Juli-2 Agustus 2017.Hal 88 001-page-001

 

Menjadi eksekutif kunci di tiga perusahaan mungkin mungkin hal lumrah bagi seorang eksekutif kawakan. Namun, itu merupakan hal istimewa bila disandang oleh seorang anak muda. Itulah jabatan yang di pikul Muhammad Imran, pria berusia 34 tahun yang merupakan CEO Data Driven Asia, sekaligus CMO Evotek dan CMO Alogaritma. Imaran memang bukan sekedar eksekutif, tapi juga pemilik ketiga perusahaan itu. Ketiganya bergerak di bidang IT, khususnya big data, yang secara keseluruhan memperkerjakan 50 orang.

“Saya adalah lulusan Jurusan Elektronika dan instrumentasi dari Universitas Gadjah Mada,” ujar Imran, mengawali cerita. Lantaran kesibukannya mengelola tiga perusahaan tersebut, entrepreneur muda ini mengaku jam tidurnya setiap harinya hanya 3-4 jam.

Menurut Imran, kecintaannya terhadap hal – hal yang menyangkut data sudah dimuali saat ia duduk di bangku SD. Pada saat Bank Summa di likuidasi pemerintah, Ia ingat dirinya sudah isa berpikir bagaimana bank yang merupakan gudangnya uang bisa dilikuidasi. Dari situ, di bantu aahnya, ia mulai belajar memahami cara kerja bank, prinsip – prinsip bank, apa itu NPL, dsb, “itu tidak di paksa orang tua, memang dorongan diri sendiri saja,” katanya.

Imran memulai kariernya sebagai konsultan di Telkom pada 2011. Lepas dari Telkom ia bekerja di lembaga internasional. Tantangan baru yang diterimanya adalah menjadi analisis TI di Bank Dunia (World Bank). Dari sana, ia kemudian memperdalam keahliannya dengan bekerja sebagai analisis big data di Unicef Innovation Labs.

Setelah berkarier di berbagai tempat, ia sempat menimang – nimang peluang untuk mengisi posisi vice president di salah satu bank lokal. Namun, standar gaji yang di perolehnya ketika bekerja di Bank Dunia dan Unicef sudah terlampau tinggi. “ karena timpangnya gaji terseut, saya akhirnya memilih menjadi entrepreneur,” ujar Imran.

Selepas karierna di Unicef, imran pun mendirkan perusahaan bernama Data Driven Asia (DDA) pada tahun 2015. Bidangnya tidak jauh – jauh dari keahliannya, yaitu konsultasi data analystics. DDA akan mengolah data yang tersedia untuk para kliennya. Dan, untu perusahaan yang menjadi kliennya, DDA membuatkan perangkat business intelligence dashboard yang akan menghasilkan data modeling dan insight (inormasi dari pemahaman) bagi perusahaan. “Ibaratnya kami sebagai tukang jahit data,” kata Imran.

Sejumlah lembaga besar telah menjadi klien DDA, antara lain Bank Mandiri, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementrian Perindustrian, Debindo, Jaarta Post, dan aCommerce, serta beberapa perusahaan startup.

Untuk KKP, misalnya, DDA menyediakan solusi yang dapat mempercepat pelaporan adanya illegal fishing. Sebelumnya pelaporan illegal fishing hanya dilakukan oleh petugas KKP, tetapi sekarang masyarakat (nelayan atau warga umumnya) bisa ikut melaporkan. “Selama belasan tahun ke belakang. Pelaporan mengenai illegal fishing biasanya membutuhkan waktu 3-4 minggu, saat ini bisa dalam hitungan menit,” katanya.

Selain DDA , Imran pun mendirikan Evotek, yang juga bergerak di bidang big data. Bereda dari DDA yang berperan sebagai “penjahit data”, Evotek memiliki produk yang bisa langsung digunakan, dengan tenologi business intelligence (BI). Produk Evotek adalah FUSE, semacam “all-in one solution” sebagai siste operasi untuk perusahaan, yang mencakup fitur data administration, account & access management, business process management, decision support module, dan reporting module.

Salah satu perusahaan penggunan FUSE adalah BCA. Imran menjelaskan contoh cara kerja FUSE. Apabila seseorang ingin mengajukan kartu kredit BCA yang sebelumnya telah mengunakan kartu kredit bank lainnya, CA harus tahu rekam jeja pengguna kart kredit tersebut. BCA menggunakan engine dari Evotek untuk melaukan BI checking buat menentukan apakah permohonan seseorang bisa disetujui atau tidak. “Jadi, semaam otomatisasi BI checking supaya bank bisa bekerja lebih cepat,” ungkapnya. Klien Evotek memang paling banyak dari sektor perankan, anatara lain BCA, Bank Mandiri, BNI, Bank Permata, CIM Niaga, BTN, Standard Chartered, Bank Mega, dan Bank Danamon.

Satu perusahaan Imtran lainnya, Algoritma, membidangi pusat pelatihan. Targetnya adalah menghasilkan orang – orang yang terampil di bidang data sciene. Algoritma beroperasi sejak Februari 2017, tetapi baru di luncurkan secara resmi pada Juni 2017. Lemaga pelatihan ini di perkuat oleh 14 mentor yang merupakan para data scientist. “Di Evotek dan Algoritma, sata bermitra dengan teman,” ungkapnya.

Meskipun enggan menyeutkan omset tiga perusahaan tersebut, Imran mengklaim performa ketiganya telatif baik. Malah, ia mengaku pertumbuhan bisnisnya bisa mencapai 60%.

Kecintaannya terhadap hal – hal yang menyangkut data sudah dimulai saat ia duduk di bangku SD, pada saat Bank Summa dilikuidasi pemerintah. Muhammad Imran.

Sumber:  SWA. 20 Juli – 2 Agustus 2017. Hal. 88