23 Februari 2016. Mulyo Rahardjo tentang Industri Kesehatan_Jamu Bakal Jadi Produk Nasional. Jawa Pos. 23 Februari 2016.Hal.1,15

Industri kesehatan tidak bisa dianggap sebelah mata. Selain lebih tahan gejolak ekonomi, negara akan kuat jika masyarakatnya sehat.

TURBULENSI ekonomi pada pertengahan 2015 menjadi mimpi buruk bagi kalangan pengusaha. Daya beli masyarakat jeblok. Penjualan pun menurun. Namun, itu tidak terlalu dirasakan PT Deltomed Laboratories yang menjadi pelopor obat herbal di tanah air.

Direktur Pengelola Deltomed Mulyo Rahardjo mengatakan, ada banyak alasan obat-obatan yang diproduksinya tidak terlalu kena efek turbulensi ekonomi.

Rakyat Sehat, Ekonomi Kuat

Diantaranya, bahan baku herbal yang digunakan murni dari dalam negeri. Konsumennya juga bangsa sendiri. “Orang selalu butuh sehat. Ekonomi lemah, (penjualan,Red) tidak turun banyak. Ketika ekonomi booming penjualan tidak langsung naik juga,” terangnya.

Itulah mengapa dia menyebut produk dari industri herbal lebih kebal terhadap fluktuasi ekonomi. Bahkan, jika dia bandingakan dengan property yang terpukul akibat perlemahan ekonomi.

Kebutuhan akan kesehatan ditunjukkan dengan tingginya permintaan. Khusus untuk Deltomed yang punya produk andalan Antangin, pertumbuhan konsumen dari 2014 ke 2015 mencapai 16 persen. “Industri farmasi memang masih nomer satu. Tapi pertumbuhan herbal semakin lama makin besar,” katanya.

Itu dibuktikan dengan makin banyaknya perusahaan farmasi yang mengeluarkan formula obat herbal. Perusahaan tersebut umumnya tidak mematikan bisnis obat kimianya. Namun, memberikan alternative kepada masyarakat.

Atas dasar itu, dia melihat prospek ekonomi dari bisnis obat-obatan, terutama herbal, masih akan bagus. Apalagi, bumi Indonesia masih menyediakan bahan baku dengan kualitas jempolan. Selain itu, pemerintah disebutnya sudah menjalankan tugas dengan baik dalam memproteksi jamu luar negeri.

“Ini salah satu industri yang di-protect. Jamu dari luar negeri agak susah masuk ke Indonesia,” katanya. Dukungan pemerintah itu wajar diberikan karena bahan baku industri herbal punya efek pengali yang kuat. Sebab, mendukung ekonomi kerakyatan dari petani lokal.

Lulusan Radford University Business School, Virginia, Amerika Serikat, itu melihat prospek industri herbal sampai 10 tahun ke depan masih terang. Dia tidak mempermasalahkan dengan banyaknya pemain baru obat erbal yang tumbuh. “Kami makin suka. Berarti industrinya, seperti jamu masuk agin, bisa jadi produk nasional,” tuturnya.

Pemerintah juga perlu melihat bahwa tren herbal terus tumbuh sebagai pilihan konsumen. Karena itu, dia berharap pemerintah bisa memberikan dukungan riset sampai ampanye di mancanegara. “Intinya bagaimana agar produk ini diperkenalkan dan menjadi kebanggan nasional,” ujarnya.

Produk Deltomed memang sudah berekspansi ke luar negeri. Namun, banyak negara yang enggan menerima karena ingin agar perusahaan herbal membangun pabrik di negara itu. Dia ingin negara menjalankan perannya untuk membantu agar produk dalam negeri itu bisa diekspor ke berbagai negara.

Dia meyakinkan bahwa produk ekspor dari berbagai produsen herbal tersebut sudah memenuhi standar. Bahkan, para pemain besar yang ada pada saat ini tidak akan berlaku curang terhadap komposisi bahan baku.

(Sumber : Jawa Pos, Selasa 23 Februari 2016)