Merasa menjadi perempuan pembawa perubahan?
Andien: Dalam beberapa aspek, iya. Perebuhan sekecil apa pun saya rasa bisa punya pengaruh lumayan besar terhadap orang lain.
Intan: Ya. Saya merasa menjadi perempuan yang membawa perbuhan.
Prita: Yang bisa menilai, orang lain ya. Pembaca buku saya, klien saya, mereka yang mengungkapkan hal itu.
Perubahan yang dilakukan?
Andien: Pertama di music. Saat saya mengeluarkan album pertama pada 2000, tidak banyak anak seusia saya dan penyanyi perempuan di Indonesia yang memilih jazz. Lalu pada 2002 saya membuat album bersama Indra Lesmana. Banyak musisi yang berkomentar, album itu kecepatan 10 tahun. Namun, album tersebut membuka gerbang buat musisi atau band jazz yang sekarang ini. Aspek lain, pola hidup sehat dan fashion.
Intan: Perubahan yang saya lakukan berkaitan dengan profesi sekarang yakni penyanyi keroncong. Selama ini keroncong identic dengan music tua yang hanya digemari orang tua. Saya ingin membuat orang-orang lebih aware bahwa keroncong bisa mengikuti perkembangan zaman dan disukai kalangan yang lebih luas. Dalam hal ini, anak muda di generasi saya.
Prita: untuk masyarakat, saya menulis dua buku. Buku pertama sudah memasuki cetakan kedelapan, buku kedua cetakan ketiga. Artinya, lebih dari 10 ribu orang yang membacanya. Dari situ, saya berharap bisa memberikan peruahan. Mungkin belum semua melakukan perubahan, tapi at least mindset-nya sudah berubah.
Bagaimana memulai sesuatu perubahan?
Intan: Dari lingkungan terdekat. Waktu itu lingkungan kampus. Karena masih asing, banyak teman yang meminta saya membawakan lagu keroncong. Dari sana, mereka mulai kenal. Tidak lama, saya mendapat tawaran untuk mengolaborasikan keroncong dengan jazz dalam sebuah event music. Awalnya saya ragu. Pada akhirnya, saya yang yakin keroncong bisa maju dengan cara baru.
Prita: Saya mencari apa yang bisa saya lakukan membantu hidup banyak orang. Jawabannya adalah menjadi financial planner. Saya merintis ZAP Finance sejak 2008. Kenapa membuka sendiri, tidak bergabung dengan kantor konsultan yang sudah ada? Sebab, suami ingin kalau saya bekerja, saya harus mengutamakan keluarga.
Andien: Kalau diluar musik, secara tidak sengaja, saya punya kebutuhan untuk hidup sehat. Saat SMA saya pernah terkena tumor payudara. Pernah juga pas menyanyi, merasa stamina menurun. Jadi, saya punya kebutuhan untuk olahraga. Itu berlangsung sejak 2008. Terus, iseng upload foto sedang berolahraga di media sosial. Ternyata itu menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama. Saya juga kaget, saya piker penyanyi Cuma bisa menginspirasi lewat musik. Ternyata, aspek lain pun bisa.
Modal apa saja yang dibutuhkan untuk membuat perubahan itu?
Andien: Kita baru bisa membawa perubahan ketika speak out, berani menampilakan diri ke luar.
Intan: Modalnya tentu kecintaan pada budaya Indonesia dan keinginan kita untuk menyebarkan kecintaan itu.
Prita: Yang pertama, tidak pernah lelah belajar. Ibarat gelas, kalau sudah merasa penuh dan tidak mau mengisinya lagi, ya mentok sampai di situ. Tapi, kalau ma uterus mengisi dan membaginya kepada orang lain, kita bisa membawa perubahan. Kedua, harus berani speak out. Kalau nggak, tidak ada yang tahu dong.
Apa saja tantangan dalam menbuat perubahan itu? Cara menghadapinya?
Andien: Bicarakan perubahan, artinya bicara diferensiasi. Kultur di sini sulit untuk melakukan perubahan. Kalau ada yang beda, dilihatnya aneh. Ada pengelompokan sosial, kita harus percaya diri dan berani speak out. Perubahan yang positif, lakukan dengan strategi yang benar.
Pria: Literasi keuangan masyarakat kita belum tinggi. Namun, berharap mulai meningkat. Misi terbesar, menjadikan keluarga-keluarga Indonesia sejahtera dengan cara merencanakan keuangan dengan baik. Sejahtera tidak berarti paling kaya, tapi semua kebutuhannya terpenuhi. Indonesia sangat luas, dari Sabang sampai Merauke, kita tidak mungkin mengerjakannya sendiri.
Intan: Kebanyak musisi keroncong senior itu idealis. Mereka sulit sekali percaya bahwa generasi muda bisa ikut melestarikan keroncong. Padahal, kalau search di youtube, kan banyak video keroncong dari anak-anak muda. Tapi, mereka tidak menonton youtube. Jadi, harus pelan-pelan. Mencoba mengajak mereka menonton pertunjukan secara langsung agar bisa melihat sendiri. Sejauh ini, itu cara paling efektif.
Punya pengalaman tidak mengenakkan?
Andien: Awal berkarir (umur 14 tahun), saya sering dianggap nggak bisa menyanyi. Pernah di satu acara, saya “diospek” banget sama senior, diragukan dan diejek. Saya menyanyi sambil menangis. Padahal itu live ditonton orang se-Indonesia. Saat itu rasanya nggak kuat. Tapi saya berusaha bertanggung jawab dengan profesi yang saya pilih.
Prita: Pernah. Ada yang menganggap informasi yang saya sampaikan nggak penting, apalagi disampaikan oleh saya yang masih muda, dianggap kurang pengalaman. Padahal, kalau dilihat, sejak umur 16 tahun saya menjadi investor reksa dana. Saya sudah ngalamin berinvestasi saat masih sekolah, sebagai karyawan, ibu rumah tangga, dan pengusaha.
Intan: Sejauh ini tidak pernah ada diskriminasi. Karena tadi itu, mayoritas penyanyi keroncong itu perempuan. Jadi, tidak ada masalah.
Bangga menjadi perempuan?
Intan: Tentu bangga. Perempuan itu dianugerahi kemampuan multitasking. Bia mengerjakan berbagai hal dalam satu waktu dan masih bisa fokus.
Andien: Saya setuju banget. Perempuan itu multitasking. Saya melihatnnya, di dalam diri laki-laki ada laki-laki, dalam diri perempuan ada perempuan dan laki-laki. Yang juga menyenangkan jadi perempuan, sensitivity yang jarang dimiliki laki-laki. Satu lagi, pilihan bajunya lebih beragam. Hehehe
Prita: Oh iya dong, perempuan itu multitasking. Diberi anugerah bisa mengandung, melahirkan, berbakti kepada suami, dan bermanfaat bagi orang lain. Perannya besar sekali, perempuan itu makhluk yang sangat mulia. Namun, saya bukan yang percaya dengan konsep emansipasi. Posisi perempuan tidak pernah sejajar dengan laki-laki. Tetpi, perempuan bisa berkarya sama dengan laki-laki. Beda dengan emansipasi. (nor/and/c7/any)
Sumber: Jawa Pos, Selasa 21 April 2015

