
Menikmati kopi nusantara di Roemah Kopi, Cofee by Gouw di Pasar Lama, Tangerang
Menjelang siang, suasana Pasar Lama, Tangerang masih tampak hiruk pikuk. Transaksi jual beli masih terjadi di beberapa lapak. Beberapa pedagang sibuk merapikan dagangan. Di sisi lain, tampak juga mereka yang menikmati makanan siang.
Di ujung pasar, di deretan rumah toko, juga tampak seorang lelaki sedang asyik menyeduh kopi. Di kedai sederhana itu berjajar belasan stoples jumbo dari kaca berisi biji kopi. Ada kopi lampung, kopi jawa, kopi flores, kopi aceh, kopi beli, kopi toraja, bahkan kopi papua.
“Mau coba kopi apa, mbak?” ujar lelaki berkacamata dengan ramah ketika KONTAN singgah ke kedai yang bertulisan Rumah Kopi by Gouw itu.
“Mau coba Kpi Gouw?” ujar lelaki bernama Hendra Gunawan, yang juga sang pemilik kedai ini. Sambil menanti kopi diracik, Hendra langsung membuka obrolan seputar pengolahan kopi hingga menjadi kopi enak. Sesekali, mantan pegawai bank itu menyapa pembeli lain atau orang yang lewat di depan kedainya.
Sekitar lima menit menunggu, secangkir kopi berlabel Kopi Gouw tersaji di meja. Aroma khas kopi pun menyeruak. Ketika diseruput, citarasanya seperti kopi saset yang ada di pasaran. Rasa Kopinya tak begitu kuat, dan masih ada buliran kasar ampas kopinya.
“Rasanya seperti kopi saset ya? Tapi itu bukan saset tapi racikan saya,” ujar Hendra. Dia mengatakan, Kopi Gouw racikannya memang bukan murni kopi, tetapi ada campuran jagung sekitar 10%. Selain itu, kopi yang dia olah pun bukan kualitas yang bagus. Biji kopi yang dia pakai adalah kopi reject alias kopi yang bijinya sudah tak utuh.
“Saya sengaja meracik dari kopi reject dan menambahkan jagung. Ini kopi untuk pemula yang ingin beralih dari saset ke kopi murni, atau buat mereka yang baru belajar ngopi. Kami mengenalkan dengan kopi yang ringann-ringan dulu,” ujar mantan pengusaha karpet itu.
Bila ingin manis, Kopi Guow tinggal ditambahi creamer dan gula. Lagi-lagi rasanya seperti kopi saset. Gurih dan manis.
Hendra juga kerap menyajikan kopi ini kepada pengemudi ojek online yang membelanjakan pesanan kopi melalui aplikasi Go-Food di kedainya. “Kopi Gouw ini kalau disajikan ke pengemudi ojek online namanya kopi kabel alias kagak beli,” katanya seraya terbahak.
Sejian kopi bercitarasa kopi saset plus kopi gratis ini menjadi senjata ampuh Hendra untuk menarik pembeli menjadi pelanggan. Hingga pada akhirnya para pelanggan ini akan tertarik mencicipi kopi murnis.
“Saya sudah terbiasa minum yang saset, nah pas tahu ada kedai ini mulai menjajal kopi murni. Dan saya sekarang sudah tak minum saset lagi,” ujar Erik, salah satu seorang pelanggan kopi di Rumah Kopi. Erik selalu memesan kopi toraja. Baginya sensasi rasa asam pada kopi robusta pada kopi toraja memiliki kenikmatan bagi dirinya.
Bila Anda ingin merasakan sensasi kopi yang lebih’nendang’, silahkan cicipi kopi papua di kedai ini. Citarasanya tak pahit sekalipun, tanpa gula.
Kopu papua terasa kental, tapi tidak meninggalkan jejak pekat di tenggorokan. Nah, yang menarik adalah adanya sensasi after taste di sekitar mulut. Ada sensasi fruity alias rasa buah.
Proses dan Bahan Baku
“Kami sangat memperhatikan air, suhu saat penyajian. Karena itu menjadi kunci kenikmatan kopi,” kata Hendra.
Ia menggunakan air nonmineral. Sebab kopi matang harus diseduh dengan suhu 100 derajat. Sementara jika menggunakan air mineral, maka ketika dipanaskan dalam suhu 100 derajat akan pecah dan mempengaruhi citarasa kopi.
Katika menuangkan air dalam kopi pun harus bertahap. Dan pastikan ketika diseduh, keluar warna krem yang kuning keemasan. “Ddengan teknik yang tepat, sekalipun manual, gas-gas kopi akan keluar saat diseduh sehingga yang meminumnya juga tidak akan merasa kembung,” ujar Hendra.
Memang menikmati minuman kopi itu menyangkut selera. Untuk itu kedai Kopi by Gouw, menyediakan jenis kopi robusta maupun arabika dari berbagai daerah di Indonesia. Ada 24 jenis kopi nusantara yang ditawarkan kedai ini. Selain robusta dan arabica, Hendra punya racikan yang isinya pejawat alias pencampuran kopi jawa dan kopi batak. “Saya hanya menjual kopi nusantara,” katanya.
Di kedai yang akan berganti nama menjadi Roemah Kopi, Cofee by Goaw setiap bulan mampu menghabiskan 120 kiligrant (kg) biji kopi roasting.
Kedai kopi ini bisa menampung puluhan pembeli. “Sekarang pembeli tak perlu duduk di teras. Sudah tertampung semua di dalam kedai,” ujar Hendra mamperluas kedainya menjadi 4×6 meter. Sebelumnya hanya berukuran 3×3 meter.
Segelas kopi di kedai ini dibanderol mulai Rp 4.000 sampai Rp 15.000. sebagai pendamping minuman kopi, Anda bisa memesan pisang goreng nan manis dan legit. Kalau masih lapas, bisa makan nasi uduk. Sebab, sejak dua bulan ini, Hendra menambahkan menu sarapan dan makan siang di kedainya.
Kedai ini buka mulai 7 pagi sampai 4 sore mengikuti jam pasar. Tapi catat, mereka libur di hari senin.
Gandeng Mitra Agar Tumbuh Cepat
Hendra Gunawan, pemilik kedai kopi di kawasan Pasar Lama, Tangerang mempunyai target untuk membesarkan nama Roemah Kopi, Cofee by Gouw dengan cepat. Selama satu setengah tahun beroperasi, Roemah Kopi memiliki empat cabang. Antara lain di Green Lake City, Pluit, dan Ubud Lippo Karawaci Tangerang.
Nah Hendra berencana merangkul calon mitra yang agar mempercepat realisasi pembukaan kedai baru. “Tahun ini targetnya bisa nembah 10 Cabang,” ujar Hendra.
Lelaki kelahiran 10 Agustus 1964 ini mengaku sudah mendapatkan enam mitra untuk bekerjasama. Dalam kerjasama itu, ia mengusung konsep kedai kopi sederhana, dengan tujuan menjangkau konsumen kelas menengah. “Karena saya menawarkan kopi bukan menawarkan tempat nongkrong seperti kafe-kafe kopi. Jadi, orang datang benar-benar untuk ngopi,” katanya bersemangat.
Investasi untuk per cabang tak butuh banyak modal. Hendra akan menawarkan kedai dengan kelas ruko dan kelas emperan. Di kedua kelas ini, nantinya si mitra wajb menjual minimal 12 varian kopi.
Selain itu, Hendra juga menawarkan kerjasama dengan konsep kedai yang hanya menawarkan satu jenis kopi yang spesial. “Target pasar saya di pasar-pasar modern. Modal buka kedai minimal Rp 10 juta, itu di luar sewa. Kalau sehari omzetnya Rp 500.000, menurut hitungan saya, dalam waktu tiga bulan sudah bisa break even point alias balik modal,” kata bapak tiga anak ini.
Sumber : Tabloid-Kontan.5-Febuari-2018.Hal.40
