Novel Fantasi Asli Surabaya, Warisan Dua Dunia, Sajian Akulturasi Budaya Tionghoa-Indonesia dalam Alur yang Apik
MANGALOKA.com – Di tengah maraknya cerita fiksi modern, hadir sebuah karya yang tidak hanya menawarkan imajinasi, tetapi juga menggali akar budaya dalam balutan kisah penuh makna.
Novel “Warisan Dua Dunia”, karya terbaru dari Dr. Shienny Megawati Sutanto, menjadi jembatan yang menghubungkan warisan budaya Tionghoa-Indonesia dengan dunia fantasi yang kaya akan nilai estetika dan sejarah.
Berprofesi sebagai dosen Desain Komunikasi Visual di Universitas Ciputra (UC), Shienny menciptakan novel ini bukan sekadar untuk dibaca, tetapi juga sebagai bagian penting dari disertasinya di program doktoral yang dimulainya sejak tahun 2022.
Inilah perpaduan unik antara seni, budaya, dan akademisi yang jarang ditemukan dalam sebuah karya literasi.
Mengangkat tradisi Lontong Cap Go Meh sebagai benang merah budaya, Warisan Dua Dunia mengajak pembaca menyelami kisah tokoh utama yang tumbuh dalam ragam identitas budaya peranakan.
Inspirasi kuat dari masa kecil Shienny di sekitar Klenteng Hok An Kiong Surabaya menjadi latar cerita yang kuat dan autentik.
“Dulu saya sering menemani mama ke situ (Klenteng Hok An Kiong). Itu saya gunakan untuk tokoh utama dan latarnya,” ungkap Shienny.
Menariknya, novel ini juga dilengkapi dengan 18 ilustrasi karya tangan langsung sang penulis, termasuk penggambaran 12 shio dan elemen arsitektur klenteng yang memperkuat suasana cerita.
Visual ini bukan hanya pelengkap, melainkan representasi penting dari usaha menyatukan narasi dengan kekayaan budaya visual.
Namun, menyatukan budaya dalam cerita fiksi tentu tidak mudah. Shienny mengakui bahwa tantangan terbesar adalah membuat unsur budaya terasa alami dan tidak menggurui, sehingga tetap menyatu dalam alur cerita yang dinamis dan menyenangkan.
“Saya ingin budaya bisa terasa dekat dengan generasi muda melalui cerita fantasi, bukan lewat ceramah,” kata Shienny.
Dengan rilisnya Warisan Dua Dunia, Shienny memberikan hadiah berharga bagi generasi saat ini, sebuah jendela baru untuk memahami dan mencintai warisan budaya Tionghoa-Indonesia melalui medium kreatif dan relevan.
Warisan Dua Dunia bukan sekadar novel, melainkan cermin peradaban dalam bentuk cerita, yang menggugah imajinasi sekaligus mengedukasi tanpa terasa menggurui.
Sebuah karya yang layak menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin menyelami budaya dengan cara yang seru dan berbeda.***

