Berkat Nuhung (80), orrang-orang di berbagai belahan dunia bisa memiliki “Komodo” (“Varanus komodoensis”). Memegang, membelai, bahkan jika mau bisa menciumi kadal-kadal purba itu di negara masing-masing.

OLEH ICHWAN SUSANTI/ANTONIUS PONCO/ANGGORO/INGKI RINALDI

Tentu saja yang dimaksud bukanlah kadal raksasa purba yang menurut Caroll dalam karya Lutz & Lutz (1991) muncul dari genus awal Varanidae sekitar 70 juta tahun hingga 100 juta tahun silam. Bukan juga satwa liar dengan gigitan maut dan air liur berbakteri yang mematikan.

“Komodo” Haji Nuhung – demikian ia disapa – merupakan patung yang dibuat dari kayu pohon waru laut (Thespesia populnea) dengan tingkat ketelitian tinggi. Saking detailnya, sebagian orang bakal terkecoh dan menyangka karya Nuhung adalah seekor Komodo betulan sekalipun patung itu hanya dilihat lewat foto di layar telepon genggam.

Itu seperti dialami Kompas, Kamis (31/8), di Desa Komodo, Manggarai Bafrat, Nusa Tenggara Timur, tatkala diperlihatkan foto patung Komodo karya Nuhung. Kami hanya diperlihatkan foto karena patung-patung Komodo karya Nuhung tidak ada lagi yang disimpan di Desa Komod. Semuanya ludes dibeli orang. Sementara itu, Nuhung sudah tidak membuat lagi patung Komodo seiring dengan menurunnya kondisi kesehatan Nuhung.

Nuhung yang menunaikan ibadah haji pada 1995 itu mengajari warga desa Komodo untuk membuat patung-patung Komodo. Menempa orang-orang untuk menjadi perajin patung dan beroleh manfaat ekonomi dari aktivitas tersebut.

Hal itu seperti Nampak di Loh Liang, kamis (31/8), yang menjadi akses Kawasan Taman Nasional Komodo. Sejumlah penjual cendera mata tampak menjajakan patung-patung Komodo dengan berbagai ukuran dan pose di antara dagangan lain seperti kaus dan gantungan kunci.

Sebagian pedagang berasal dari Desa Komodo. Hardi (26) adalah salah seorang di antara mereka. Ia menjual patung-patung komodo itu bersama seorang saudaranya. Sementara kedua kakak mereka menjadi perajin patung Komodo.

Hardi mulai berjualan patung Komodo sejak 2004. Sebelumnya ia kerja sebagai nelayan. Menurunnya tangkapan ikan mendorong Hardi menjadi pedagang cendera mata. Apalagi kunjungan wisata meningkat.

Selain itu, berdagang tidak terlalu melelahkan dan relative minim risiko dibandingkan melaut. Itulah alasan sebagian warga menjadi perajin dan pedagang patung Komodo. Hardi dan saudara-saudara kandungnya merupakan cucu Nuhung dan menjadi beberapa warga Desa Komodo yang berdaya lewat karya Haji Nuhung.

Riset Komodo

Haji Nuhung nyaris tidak menyadari potensi besar Komodo untyk dijadikan patung bernilai ekonomis tinggi jika ia tidak bertemu dengan biology asal Amerika Serikat, Walter Auffenberg. Pada akhir 1960-an, Walter Bersama-sama dengan keluarganya menetap di Komodo untuk mempelajari segala sesuatu tentang kadal purba raksasa tersebut.

Pada suatu hari, Walter yang merupakan ilmuwan Universitas Florida meminta Nuhung untuk membuat patung Komodo. “Kamu bisa?” kata Nuhung, menirukan permintaan Walter kala itu.

Nuhung menyanggupi dan lantas pamit guna memotong sejenis kayu palem di sekitar Loh Liang. Kayu  itu lalu dibawanya pulang. Nuhung mulai memahat katyu itu sejak pukul 13.00 hingga malam untuk mewujudkan imajinasinya tentang bentuk Komodo.

Bentuk awal patung itu masih dibentuk dengan pahat dan parang. Sore harinya, Nuhung meminta bantuan seorang sepupu bernama Aco yang bekerja di Loh Liang, tempat Walter dan keluarganya tinggal.

Kepada Aci, Nuhung meminta bantuan agar patung itu diantarkan kepada Walter. Esoknya, sekitar pukul 05.00, Aci berlayar dari Desa Komodo menuju Loh Liang untuk menemui Walter dan menyampaikan amanah Nuhung.

Kehebohan kecil segera terjadi manakala anak-anak Walter mengetahui keberadaan patung Komodo tersebut. Tak berapa lama kemudian, Walter dan istrinya bangun dari tidur. Mereka terpana melihat karya patung Komodo buatan Nuhung.

Segera setelah itu, Nuhung memperoleh pesanan kedua dari Walter. Tak perlu menunggu lama, Walter yang selama risetnya di Komodo menghasilkan salah satu buku rujukan berjudul The Behavioral Ecology of the Komodo Monitor (1981) lantas mengundang Nuhung ke Loh Liang.

Patung Komodo dalam pose berbeda berada di dalam lubang diminta oleh Walter pada pesanan berikutnya. Nuhung menyanggupi, lantas beberapa adik, ipar, dan menantu diajarinya keterampilan serupa.

Kayu waru laut

Nuhung yang sebelumnya tukang kayu pembuat perahu dan rumah lantas direkrut Walter Ia kemudian aktif sebagai petugas koperasi Taman Nasional Komodo.

Butuh waktu sekitar satu tahun sebelum keterampilan itu bisa dikuasai secara rata-rata oleh orang lain. Disebut rata-rata karena hingga kini relatif belum ada yang bisa menandingi kualitas patung Komodo buatan Nuhung.

Ia pun butuh mencoba dua jenis kayu lain sebelum akhirnya mantap pada pilihan kayuwaru laut. Alasannya, warna dan tekstur kayu tersebut mampu menghadirkan patung Komodo dengan karakter yang mendekati Komodo asli.

Akan tetapi, kini kayu kelumpang (Sterculia foetida) cenderung menjadi pilihan karna kayu waru laut makin sulit ditemukan sejak 2010 seiring dengan makin banyaknya perajin patung Komodo yang membutuhkan kayu waru laut. Padahal, aktivitas itu sebelumnya dikenalkan kepada warga untuk mengurangi tekanan pada airan laut.

Saat ini, kayu waru laut mesti didatangkan dari Flores dengan harga relative mahal. Hal itu membuat kayu kelumpang dan kayu jadi cenderung dipakai sebagai alternatif. Namun, detail bentuk dan terutama warna serupa Komodo tidak bisa diperoleh tanpa menggunakan waru laut local.

Nuhung telah menjadi salah satu ikon pariwisata lewat karya patungnya. “Sampai sekarang, turis masih suka tanya, mana karya Haji Nuhung, dan jika ada, berapa pun harganya akan dibayar. Tapi sudah tidak ada lagi (patung karya Haji Nuhung),” ujar Guntur, salah seorang cucu Nuhung.

 

Nuhung

Lahir      : Bima, Nusa Tenggara Barat, 1 Juli 1937

Istri        : Muminah

Anak      : 13 orang

 

Sumber : Kompas. 22 November 2017. Hal 16