Penjaga Napas Batik Ciwaringin. Kompas.21 Oktober 2016.Hal.16

Sekitar dua dekade yang lalu, usaha batik tulis di Ciwaringin mengalami lesu darah. Para perajinnya yang sebagian besar perempuan berbondong-bondong terbang ke Timur Tengah untuk mencari nafkah. Di tengah kelesuan itu, pasangan suami-istri Nursalim dan Iim Rohimah memilih tetap bertahan di desa dan berusaha memperpanjang napas batik  ciwaringin yang tersisa.

OLEH BUDI SUWARNA

Ciwaringin adalah sebuah desa di Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Desa itu bisa ditempuh dalam satu jam perjalanan dengan mobil dari pusat Kota Cirebon. Di Desa itu, tradisi membatik telah lama ada.

“Saya tidak tahu kapan mulainya, yang jelas neneknya nenek kami dulu sudah membatik. Mungkin kami ini pembatik Ciwaringin generasi keempat atau kelima,” ujar Nursalim, akhir September di rumahnya.

Seingat laki-laki berusia 41 tahun itu, awal 1980-an, hampir semua perempuan dewasa di Ciwaringin membatik, termasuk nenek dan ibunya. Batik tulis buatan mereka dijual ke sentra-sentra batik di Kota Cirebon.

Memasuki tahun 1990-an, usaha batik tulis ciwaringin mulai surut lantaran dihantam batik printing yang harganya lebih murah. Usaha batik tulis tidak lagi menghasilkan uang.

Di tengah situasi sulit, agen-agen pencari tenaga kerja Indonesia (TKI) masuk ke ciwaringin. Mereka membujuk warga, terutama perempuan, untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di Timur Tengah dengan iming-iming gaji jutaan rupiah. Tawaran itu seperti sodoran air segar di tengah musim kemarau. Maka berbondong-bondonglah ratusan perempuan ciwaringin menjadi TKI.

Ketika gelombang TKI pertama pulang kampung, mereka tampak seperti rombongan orang kaya. Mereka dating dengan dandanan dan perhiasan yang wah. Sebagian lantas membangun rumah dan membeli tanah di desa.

Melihat kesuksesan mereka, semakin banyak perempuan Ciwaringin yang berangkat ke Arab Saudi. Bekerja sebagai TKI di negeri itu dianggap pilihan paling mudah untuk melawan kemiskinan. Apapun dilakukan warga agar bisa bekerja di ana. Mereka yang masih bocah di katrol usianya dan disulap menjadi “perempuan dewasa”.

“Hampir setiap keluarga ada saja anggotanya yang jadi TKI. Mungkin hanya beberapa orangtua yang melarang anak perempuannya jadi TKI, termasuk ayah saya,” kenang Iim yang kini berusia 31 tahun.

Ketika animo menjadi TKI kian menjulang, lanjut Iim, tradisi membatik di Ciwaringin berangsur sirna dan nyaris dilupakan.

Problem sosial

Uang yang dibawa pulang para TKI memang bisa memperbaiki perekonomian desa. Rumah-rumah yang tadinya reyot, misalnya, dibangun ulang, oleh para TKI menjadi mentereng. Namun, ada harga sosial yang mesti dibayar untuk semua “kemajuan” itu. Kisah perselingkuhan, perceraian, dan anak-anak yang terlantar mulai bermunculan. “Itu sudah jadi cerita biasa di Ciwaringin. Banyak orang punya duit, tapi keluarganya amburadul,” ujar Nursalim.

Saat itu, awal 1990-an, Nursalim baru saja menyelesaikan pendidikan di pesantren. Ia sedih melihat kondisi masyarakat Ciwaringin yang karur-marut. Ia pun mulai berkeliling kampung untuk mengingatkan bahwa bekerja sebagai TKI lebih banyak mendatangkan mudarat ketimbang manfaat.

Namun, warga tidak mau mendengar ocehan Nursalim yang dianggap masih anak ingusan. Nursalim geram dan mulai mengambil langkah lebih keras. Ia membuat poster dan artikel yang menyatakan menjadi TKI dan mengabaikan keluarga dalah haram. :Eh, saya malah di-musuhin orang sekampung. Mereka bilang,’baru lulus dari pesantren saja sudah sok pintar’.”

Penolakan warga membuat Nursalim sadar bahwa dakwah dengan pendekatan keras ternyata tidak pas. Apalagi, Nursalim tidak menyodorkan solusi apapun. “Ini nggak akan berhasil sebab orang perlu duit untuk tetap hidup. Saya kemudian coba beralih ke pendekatan yang lebih lunak, yakni lewat batik,” katanya.

Kembali membatik

Setelah keluar dari pesantren, Nursalim bekerja serabutan. Pada 2003, ia menikah dengan Iim Rohimah yang juga berasal dari keluarga pebatik. Untuk menghidupi keluarga, ia bekerja serabutan dan berdagang. Sementara itu, Iim menekuni usaha batik dengan hasil pas-pasan.

Pada 2009, Dinas Koperasi Kabupaten Cirebon berinisiatif menghidupkan lagi usaha batik Ciwaringin. Dinas menggandeng Iim dan sejumlah pebatik yang tersisa membentuk Usaha Kecil dan MenengaH (UKM) Sapu Jagat. “Saat itu ada 15 pebatik yang ikut. Kami dilatih manajemen produksi, diberi peralatan kerja dan bahan baku, serta modal Rp 15 juta untuk 15-20 pebatik,” cerita Iim.

Hasilnya, produksi batik Ciwaringin mulai berdenyut lagi. Namun, keuntungannya sangat minim. Selembar kain batik tulis dengan pewarna alami hanya bisa dijual Rp 35.000. Untungnya Cuma Rp 5.000-Rp 10.000, padahal satu lembar kain batik harus dikerjakan sekitar empat hari. Makanya, tidak banyak warga yang mau terjun lagi membuat batik,” kata Nursalim.

Meski begitu, Nursalim dan Iim tetap mengusahakan batik. Mereka berdua percaya suatu ketika batik ciwaringin akan berkibar lagi. Momen itu akhirnya muncul pada 2011. Awalnya para pebatik ditawari bantuan pemasaran dan pelatihan manajemen dari program tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) Indocement. Mereka juga mendapat pinjaman bergulir Rp 20 juta untuk tiap UKM batik beranggotakan 6-7 orang.

“Kami diikutkan dalam banyak pameran, 5-6 kali setahun, dibanyak kota. Dari situ, kami mendapat banyak pesanan dengan harga jual lebih tinggi,” kata Nursalim.

Selembar kain batik tulis dengan pewarna alami bisa dijual Rp 150.000-Rp 400.000. “Kalau dulu keuntungannya hanya Rp 5.000-Rp 10.000 per lembar kain, sejak 2011 keuntungannya bisa lebih dari Rp 100.000,” ujar Nursalim.

Nursalim dan Iim kian giat merangkul kaum perempuan untuk menekuni kembali batik. “Kami bilang kepada mereka, daripada jadi TKI dan keluarga berantakan, lebih baik jadi pebatik lagi,” kata Nursalim.

Usaha mereka akhirnya membuahkan hasil. Satu demi satu, para mantan TKI terjun lagi ke bisnis batik. Saat ini, jumlah mereka sudah sekitar 100 orang. Setiap orang rata-rata bisa membuat 10-15 lembar batik tulis per bulan. Batik buatan mereka sebagian besar dijajakan melalui  belasan akun facebook. Sebagian lagi lewat pameran.

Setelah usaha batik bersinar lagi, para perempuan Ciwaringin mulai meninggalkan jalan hidup sebagai TKI. “Saat ini nyaris tidak ada perempuan Ciwaringin yang tertarik jadi TKI lagi. Yang masih bertahan di Arab Saudi paling tinggal 10 orang,” ujar Nursalim.

Kami berkunjung ke Ciwaringin akhir September dan menemukan para peremuan mantan TKI, tua dan muda, bergairah mengangkat canting dan melukis motif-motif khas batik ciwaringin, seperti pecutan, ganggengan, pring sedapur, tebu sakeret, ceker ayam, sapu jagat, dan kapal kandas, si atas mori putih.

Di antara mereka ada Ida, Rohma, dan Alifa. Mereka bilang, masa-masa menjadi TKI sudah berlalu. Sekarang mereka memilih menggantungkan masa depan pada batik tulis ciwaringin yang indah.

NURSALIM

  • Lahir: Cirebon, 25 Agustus 1975
  • Pendidikan:
  • SDN Ciwaringin I
  • MTs Pesantren Babakan
  • Madrasah Aliyah Pesantren Babakan
  • Diploma 1 STAIMA Babakan

IIM ROHIMAH

  • Lahir: Cirebon, 2 Mei 1985
  • Pendidikan:
  • SDN Ciwaringin I
  • MTs Negeri Babakan

 

Sumber: Kompas.21-Oktober-2016.Hal_.16