Sumber: https://jatim.jpnn.com/jatim-terkini/48146/o-week-2026-universitas-ciputra-bekali-mahasiswa-baru-hadapi-dunia-kerja
O-Week 2026 Universitas Ciputra Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Dunia Kerja
31 Agustus 2026
jatim.jpnn.com, SURABAYA – Universitas Ciputra (UC) Surabaya menargetkan tingkat pengangguran lulusannya bisa ditekan hingga nol persen melalui penguatan kompetensi, pengalaman industri, kewirausahaan, dan keberlanjutan bisnis keluarga.
Upaya tersebut dilakukan sejak mahasiswa memasuki awal perkuliahan. Salah satunya melalui rangkaian Orientation Week (O-Week) 2026 yang membekali mahasiswa baru dengan pemahaman dunia kerja sekaligus pemetaan potensi diri.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kesiapan Kerja, dan Kolaborasi Industri Universitas Ciputra Prof Dr Trianggoro Wiradinata mengatakan kesiapan memasuki dunia profesional tidak seharusnya baru dibangun ketika mahasiswa mendekati kelulusan.
Menurut dia, mahasiswa perlu sejak awal mengenali kekuatan diri, memahami dunia industri, serta melihat peluang karier dan bisnis yang dapat dikembangkan selama masa perkuliahan.
“Bagi kami, pendidikan tinggi bukan hanya tentang bagaimana mahasiswa menyelesaikan studi dan memperoleh gelar. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka menemukan potensinya, mengembangkan kompetensi yang relevan, serta memiliki kesiapan menghadapi perubahan dunia profesional,” kata Trianggoro.
Dia menjelaskan UC menyiapkan tiga jalur sukses bagi mahasiswa setelah lulus.
Pertama, memasuki dunia industri melalui kesiapan kerja dan pengalaman magang. Kedua, membangun startup atau usaha sendiri. Ketiga, melanjutkan dan mengembangkan bisnis keluarga.
“Tidak semua orang punya bisnis keluarga, tidak semua orang bisa startup. Karena itu, kami punya tugas besar mempersiapkan mereka untuk bisa masuk ke industri,” ujarnya.
Untuk memperkuat kesiapan kerja, UC mendorong mahasiswa memperoleh pengalaman magang dalam waktu yang lebih panjang, tidak hanya dua atau tiga bulan, tetapi jika memungkinkan selama satu hingga dua semester.
UC juga mengembangkan program get hired before graduation yang mendorong mahasiswa mendapatkan pekerjaan sebelum resmi menyandang gelar sarjana.
“Kalau bisa sebelum Anda wisuda itu sudah dapat gawean, sudah dapat kerja. Jadi, ini kami coba dorong,” tutur Trianggoro.
Menurut dia, tantangan kesiapan kerja generasi muda semakin besar seiring perubahan industri dan munculnya berbagai jenis profesi baru.
Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus mampu membaca perubahan dan menyesuaikan kompetensinya dengan kebutuhan dunia profesional.
Semangat tersebut juga tercermin dalam tema Magnify yang diusung dalam O-Week 2026 UC.
Trianggoro menjelaskan Magnify dimaknai sebagai upaya memperbesar kekuatan, potensi, dan dampak yang dimiliki mahasiswa.
Salah satunya diperkenalkan melalui sesi bersama kreator konten Edho Zell. Menurut Trianggoro, Edho Zell dipilih karena perjalanan kariernya menunjukkan bagaimana konten dapat digunakan untuk memperluas dampak sekaligus membuka peluang bisnis.
UC juga mengembangkan program get hired before graduation yang mendorong mahasiswa mendapatkan pekerjaan sebelum resmi menyandang gelar sarjana.
“Kalau bisa sebelum Anda wisuda itu sudah dapat gawean, sudah dapat kerja. Jadi, ini kami coba dorong,” tutur Trianggoro.
Menurut dia, tantangan kesiapan kerja generasi muda semakin besar seiring perubahan industri dan munculnya berbagai jenis profesi baru.
Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus mampu membaca perubahan dan menyesuaikan kompetensinya dengan kebutuhan dunia profesional.
Semangat tersebut juga tercermin dalam tema Magnify yang diusung dalam O-Week 2026 UC.
Trianggoro menjelaskan Magnify dimaknai sebagai upaya memperbesar kekuatan, potensi, dan dampak yang dimiliki mahasiswa.
Salah satunya diperkenalkan melalui sesi bersama kreator konten Edho Zell. Menurut Trianggoro, Edho Zell dipilih karena perjalanan kariernya menunjukkan bagaimana konten dapat digunakan untuk memperluas dampak sekaligus membuka peluang bisnis.
“Magnify itu seperti memperbesar pengaruh. Ketika ada konten, dampaknya bisa menjadi lebih luas,” jelasnya.
Dia mencontohkan seorang dokter yang membagikan pengetahuan melalui konten digital. Jika pengetahuan tersebut hanya disampaikan kepada orang-orang di lingkungan terdekat, manfaatnya terbatas.
Namun, ketika dikemas menjadi konten digital, informasi tersebut dapat menjangkau masyarakat yang jauh lebih luas.
Edho Zell sendiri saat ini banyak bergerak dalam pengembangan konten untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperluas pemasaran produknya.
Menurut Trianggoro, kemampuan membuat konten menjadi salah satu kompetensi penting di era creator economy. Konten tidak lagi sebatas hiburan, tetapi juga dapat digunakan untuk membangun personal branding, memperluas pasar, hingga menciptakan peluang usaha.
“Pelaku UMKM kadang sudah fokus mengembangkan produknya, tetapi tidak semuanya punya pengalaman membuat konten. Akhirnya penjualannya begitu-begitu saja. Di sinilah konten bisa membantu memperbesar dampak,” katanya.
Upaya tersebut sejalan dengan target UC memastikan lulusannya memiliki aktivitas produktif setelah menyelesaikan pendidikan.
Trianggoro menyebut berdasarkan tracer study, sekitar 90 persen lulusan UC telah mendapatkan pekerjaan, membangun usaha sendiri, atau melanjutkan bisnis keluarga.
Data tersebut dihitung sekitar tiga bulan setelah mahasiswa menjalani yudisium. UC menargetkan angka tersebut terus meningkat hingga mendekati 100 persen.
“Kami kepengin banget nilai pengangguran lulusan Ciputra itu nol. Unemployment-nya kita kepengin nol, sebisa mungkin,” tuturnya.
Trianggoro mengatakan UC kini memasuki tahun ke-20 sejak berdiri pada 2006. Dalam perjalanan tersebut, kampus terus memperkuat ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga kesiapan mahasiswa menghadapi dunia profesional.
“Indikator keberhasilan itu dalam satu tahun mereka sudah mendapatkan pekerjaan, mendirikan usaha sendiri, atau melanjutkan bisnis keluarga. Kami berharap angkanya terus naik dan kalau bisa 100 persen,” pungkasnya.
Sementara itu, Dosen Pendamping Pelaksana O-Week 2026 Universitas Ciputra Louisa Christina Hartanto mengatakan terdapat dua hal penting yang diterapkan dalam O-Week, yakni industry visit dan strength-based competency mapping.
Industry visit telah berlangsung pada 24–27 Agustus 2026.
“Industry visit membuat adik-adik yang sebelumnya di level SMA terbiasa dengan pembelajaran di dalam kelas, kemudian diberi kesempatan melihat bagaimana situasi di industri dan perusahaan. Mereka juga berkenalan langsung dengan para praktisi,” kata Louisa.
Menurut dia, pengalaman tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai kompetensi yang dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja.
Melalui industry visit, mahasiswa baru mengunjungi perusahaan dan institusi yang relevan dengan bidang studi masing-masing. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung lingkungan profesional yang nantinya mereka masuki.
“Dengan begitu, mereka sudah langsung terpapar bahwa nanti kalau saya lulus, saya harus bersiap sesuai dengan yang dibutuhkan oleh industri,” ujarnya.
Selain mengenalkan dunia industri, UC membekali mahasiswa dengan strength-based competency mapping.
Louisa menjelaskan pemetaan tersebut dilakukan untuk membantu mahasiswa mengenali bakat dan kekuatan masing-masing.
“Kami mewajibkan semua mahasiswa baru untuk mengikuti tes strength 30. Dari 30 kekuatan atau bakat mereka, kita tahu kita harus mengarahkan mereka ke mana,” jelasnya.
Menurut Louisa, setiap mahasiswa memiliki kekuatan yang berbeda. Ada yang kuat dalam ideasi dan menghasilkan berbagai gagasan, sementara mahasiswa lainnya memiliki kemampuan eksekusi yang lebih menonjol.
Karena itu, pemetaan tersebut tidak hanya bertujuan mengetahui kelebihan mahasiswa, tetapi juga membantu mereka mengenali kelemahan yang perlu dikembangkan.
“Bukan hanya tahu kekuatan, tetapi mereka juga tahu kelemahannya supaya bisa menutup dan mengembangkan diri sehingga kelemahan mereka semakin mengecil,” ujarnya.
Hasil pemetaan kekuatan tersebut kemudian diarahkan sesuai minat dan tujuan karier mahasiswa, termasuk dikaitkan dengan dream company atau industri yang ingin mereka masuki setelah menyelesaikan pendidikan. (mcr12/jpnn)
