Panggil Aku Dedi Penyu.Kompas.9 Februari 2016.Hal.16

Kecintaan Murniadi Haryono kepada penyu telah mandarah daging.Saat di tanya nama lengkapnya,dengan bangga dia menjawab,Panggil saja Dedi Penyu.” Ada alasan tersendiri mengapa dia lebih senang dipanggil Dedi Penyu daripada nama lahir pemberian orangtuanya.

 

OLEH ZULKARNAINI

Itu kampanye gratis .Saat orang memanggil saya Dedi Penyu ,lama-kelamaan orang itu akan merasakan dekat dengan penyu ,”kata Dedi menjelaskan nama panggilan nya pada suatu sore di akhir Januari di Pantai Panga,Aceh Jaya,Aceh.

 

Sejak empat tahun lalu,Dedi memutuskan menjadi  “induk” penyu.Dia bertekad menyelamatkan penyu dari kepunahan.Malalui komunitas Konservasi Penyu Aroen Meubanja yang dibentuk pada 2012 , mimpi itu di wujudkan .

 

Kisah “cinta” ayah satu anak itu kepada penyu seperti drama.Dulu dia adalah predator telur penyu.Saban malam pada Agustus hingga Februari di bawah terang bulan ,dia menyususri garis pantai untuk berburu telur penyu .Telur penyu yang ia dapat lalu  di jual,sebagian dibawa pulang untuk di makan .Sekarang,dia berada di garda terdepan utnuk melindungi hewan vertebrata yang kian terancam Karena pemburuan itu.

 

Dedi berubah setelah mengikuti sosialisasi tentang hewan lindung oleh lembaga swadaya masyarakat Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh.” Saat itu mereka bilang apabila terus di buru,suatu saat penyu akan musnah,lalu anak cucu kita tidak akan kenal dengan penyu,seperti kita tidak pernah melihat dinosaurus,”cerita Dedi.

 

Sepulang dari acara sosialisasi,Dedi mulai merenungi perbuatannya mengambil telur-telur penyu.Dia merasa bersalah.Toh, uang yang didapat dari menjual telur penyu ternyata tak seberapa.Satu telur di jual dengan harga Rp.3.000.Jika beruntung,dia mendapat 100 telur , pendapatan hanya Rp.300.000.Namun,tidak jarang ia begadang hingga pagi dan tak satu telur pun didapat.

 

Swadaya anggota

 Dedi akhirnya insaf , Dia berjanji tidak akan mengambil telur-telur penyu lagi. Tidak hanya itu,ia kemudian membentuk komunitas konservasi.Lewat komunitas itu,dia mengajak warga lain untuk menangkar penyu.

 

Semula hanya tujuh orang yang mau bergabung dengan komunitas .Akan tetapi , di awal-awal , mereka pun tidak bersedia menyerahkan telur penyu hasil berburu untuk ditetaskan.Sebagian tetap saja di bawa dan menjadi hak milik penemu.

 

“Ya, kecintaan itu akan tumbuh seiring waktu.Biarkan saja dulu dia mengambil sebagian daripada dulu semuanya diambil,” kata Dedi.Terkadang Dedi membeli telur penyu dari penemu untuk ditangkarkan.

 

Biaya penangkaran sepenuhnya di tanggung anggota tim konservasi.Meraka pada umumnya petani dan nelayan. Dengan penghasilan pas-pas an mereka harus patungan untuk mencukupi pengadaan peralatan.seperti senter dan jas hujan,serta membangun pos pemantauan.

 

Dedi juga seorang nelayan sungai dan petani .Penghasilannya sehari hanya Rp.50.000 – Rp.200.000 . Tak jarang uang yang didapat dari menjual kepiting dia pakai untuk biaya peralatan penyu di penangkaran.

 

“Istri saya sudah paham,dia tidak marah kalo uang hasil mencari kepiting saya pakai untuk merawat penyu.Istri saya punya usaha,jualan kue basah,” kata Dedi.

 

Saat ini jumlah anggota konservasi belipat tiga menjadi 22 orang.Mereka terdiri atas warga dari tiga desa,yakni Desa Keude Panga,Kuta Tuha dan Keude Bieng,Garis pantai sejauh 7 kilometer yang berada di tida desa itu ditetapkan menjadi wilayah konservasi penyu.

 

Di pantai yang agak tinggi , sarang-sarang penangkaran digali.Lokasi sarang dipagar dengan kayu.Selama proses pengeraman berlangsung ,Dedi dan anggota tim secara bergantian menjaga sarang itu .Setelah menunggu 80 hari, telur penyu itu akan menetas.Anak-anak penyu yang mungil itu kemudian di lepas ke laut.

 

Sejak 2012 hingga 2016 sudah lima kali pelepasan anak penyu atau tukik dilakukan.Sekali pelepasan mencapai 700 tukik.Saat pelepasan pada akhir Januari lalu,Dedi tak kuasa menahan air mata bahagiadan terharu bercampur menjadi satu.

 

“Tidak tahu mau bilang apa.Berpisah dengan tukik-tukik itu rasanya berat sekali,”kata Dedi.

Kearifan lokal

Dedi bukan sarjana lingkungan.Dia hanya tamatan sekolah menengah pertama.Dia bekerja atas dasar kecintaan dan sedikit pengetahuan yang dia dapat dari teman-teman LSM local. Dia mengaku tidak mengerti betul mengenai aturan hewan lindung.

Dalam melakukan kampanye penyelamatan penyu dia menggunkan pendekatan kearifan local yang di wariskan nenek moyang .” Ada hukum tak tertulis yang diwariskan oleh pendahulu kita . Asoe laot yang ta pinjam beuta pulang keu eneuk cuco(isi laut yang kita pinjam harus kita kembalikan kepada anak cucu),” ujar Dedi mengutip petuah bijak itu.

Menurut Dedi.dulu nenek moyang mereka saat menemukan telur penyu tidak semua diambil , separuhnya di sisakan dai sarang agar penyu tetap ada.Namun,belakangan orang-orang semakin rakus.Ajaran pendahulu pun di tepiskan.

Dedi ingin ajaran nenek moyang mereka di kuatkan kembali.Menurut rencana , nilai-nilai kearifan local itu akan di kumpulkan untuk di tulis sebagai bahan sosialisasi pelestarian penyu .Ia pikir dengan cara itu sosialisasi akan lebih mengena dan mudah di terima masyarakat lokal.

MURNIADI HARYONO
ALIAS DEDI PENYU

  • Lahir : Teunom,Aceh Jaya, 21 Maret 1971
  • Riwayat Pendidikan :
    – SD Keude Panga Aceh Jaya
    – SMP Keude Panga Aceh Jaya
    – SMA Kuala Kreung Sabee(tidak tamat)
  • Pekerjaan : nelayan dan petani
  • Aktivitas : Ketua Konservasi Penyu Aroen Meubanja,Aceh Jaya,Aceh
  • Istri : Swarnita

Anak : Dewiyanda

 

UC LIB-COLLECT
KOMPAS , SELASA 9 FEBRUARI 2016