Mulai Mendunia lewat Sajian yang Sederhana

17 Februari 2024. Hal. 17

Destinasi di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep ini sangat pas disebut sebagai wisata alam 100 persen. Yang disajikan destinasi ini adalah panorama keindahan hamparan pantai dan pulau kecil mahakarya Sang Pencipta.

BERADA di gugusan kepulauan, wajar jika untuk bisa datang ke Pantai Gili Labak membutuhkan waktu, biaya, dan tenaga ekstra. Wisatawan harus memulai petualangannya dari Sumenep lewat dua jalur. Bisa melalui Pelabuhan Kalianget, atau berlayar melalui Pelabuhan Tanjung.

Durasi perjalanan menuju Gili Labak lewat dua jalur tersebut hampir sama. Jika cuaca normal, jarak tempuhnya satu jam. Namun, jika kondisi cuaca sebaliknya, waktu tempuhnya dua kali lipat. Moda angkutannya berupa perahu kecil.

Jika ingin bujet murah, wisatawan bisa naik perahu regulaer bertarifnya Rp 150 ribu per orang. Namun, ada batas minimal jumlah penumpangnya. Yakni, 10 orang. Jika ingin lebih instan, traveler bisa nyarter alias menyewa perahu itu. Namun, tarifnya juga menyesuaikan. Sebesar rp 1,5 juta per perahu. Keunggulannya, wisatawan bakal diantar sekaliggus ditunggu lagi hingga balik lagi ke Sumenep.

“Perjuangan” itu bakal terbayar lunas saat tiba di pulau seluas 5 hektare itu. Para traveler bakal disuguhi keindahakn lukisan alam yang begitu sempurna. Hamparan pasir maupun air laut di kawasan pantai tersebut begitu jernih dan bersih.

Panorama pulaunya juga luar biasa. Apalagi disaksikan saat mengelilinginya dengan perahu. Itu belum termasuk indahnya pemandangan bawah laut yang bisa dinikmati saat ber-snorkling atau diving.

Denyut nadi kehidupan di pulau yang masuk wilayah Desa Kombang, Kecamatan Talango, iu juga masih sangat natural dan tenang. Jumlah penduduknya hanya 105 jiwa. Mereka tinggal di 22 rumah.

“Namun, suasana ini yang menjadi daya tarik wisatawan untuk datang. Mereka ingin menikmati ketenangan serta keindahan alam. Karena itu, sejak wisata ini dibuka, banyak pengunjung yang menginap,” kata Abdul Jalil warga Gili Labak.

Bagi traveler yang ingin bermalam, warga pulau sudah menyediakan sejumlah rumah sebagai tempat menginap dengan tarif Rp 300 ribu. Biasanya, satu rumah bisa ditempati beberapa pengunjung. “Misalnya pengunjung datang rombongan, mereka cukup menyewa satu rumah,” jelasnya.

Namun, bagi yang ingin berlama-lama menyatu dengan alam, warga setempat sudah menyediakan tenda untuk berkemah. “Atau, wisatawan juga dipersilahkan membawa tenda sendiri,” katanya.

Seklias, sajian wisata yang ditawarkan Gili Labak memang sederhana. Hanya keindahan alam dan suasananya yang sangat natural. Namun, itulah yang menjadi magnet kuat wisatawan untuk datang.

Buktinya, sedikitnya ada 30 hingga 50 pengunjung yang datang tiap harinya. Pada saat week-end, jumlahnya bisa mencapai 100 orang per hari. “Di momen tertentu seperti tahun baru, bisa sampai 300-500 orang,” ucapnya.

Pengunjungnya juga dari berbagai penjuru. Bukan hanya wisatawan lokal, melainkan juga dari luar Madura. Bahkan, Pantai Gili Labak kini mulai mendunia. Turis asing mulai berdatangan. “Biasanya, sekali datang berjumlah 3-5 orang,” tandasnya.

Makin banyaknya pengunjung yang singgah ke Gili Labak juga tak terlepas dari ikhtiar warga dan pemerintah daerah setempat dalam mengembangkan potensi alam pulau tersebut.

Ya, Pantai Gili Labak memang belum lama digarap menjadi destinasi wisata. Baru dimulai pada 2015. Berawal dari inisiatif warga untuk mengembangkan dan mengelola sektor pariwisata di pulau itu.

Prosesnya juga tak rumit. Warga hanya perlu membersihkan kawasan pantai. Lalu, lewat pemasukan dari tiket pengunjung plus bantuan dana dari Pemkab Sumenep, sederet fasilitas pendukung kini bisa dibangun. Sejumlah wahana baru juga sudah bisa dinikmati. (bus/c12/ris)

Bakal Jadi Destinasi Wisata Kesehatan

POTENSI yang dimiliki Pantai Gili Labak begitu luar biasa. Karena itu, wajar jika pemerintah daerah setempat menjadikan pantai tersebut sebagai salah satu maskot pengembangan sektor pariwisata di Sumenep.

Buktinya, tidak hanya lewat promosi, sederet pengembangan dilakukan pemkab. Mulai infrastruktur pendukung hingga wahana baru. “Pengembangan ini merupakan atensi langsung dari Pak Bupati (Achmad di Fauzi Wongsojudo, Red).” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep Mohamad Iksan.

Salah satu yang sudah dibangun adalah gedung penyimpanan alat snorkeling serta diving. Dengan begitu, wisatawan yang ingin menikmati keindahan bawah laut Pulau Gili Labak bisa mendapatkan alat dengan mudah.

Selain itu, pemkab sudah memulai pembuatan jalan paving di kawasan wisata sebagai spot jogging track. Fasilitas itu dibangun untuk mendukung target bupati Sumenep yang ingin menjadikan Pantai Gili Labak sebagai destinasi wisata kesehatan. “Pemkab juga mengajak sejumlah investor untuk bisa terlibat dalam pengembangan Gili Labak,” katanya.

Di luar itu, kini wisatawan yang ingin berwisata bahari di Sumenep bisa mengeksplorasi keindahan sederet pulau lain di luar Gili Labak. Sebab, sudah tersedia paket wisata ke dua pulau lainnya. Yakni, Pantai Sembilan di Pulau Giligenting dan Wisata Oksigen di Pulau Gili Iyang. Tarifnya Rp 650 ribu per orang dengan jumlah minimal 10 penumpang.

Biasanya, perjalanan wisata dimulai dari pelabuhan Kalianget menuju Gili Iyang ke Gili Labak juga membutuhkan waktu 40 menit. “Kalau dari Gili Labak ke Pantai Sembilan, sekitar 20 menit,” pungkasnya. (bus/c12/ris)

sumber: Jawa Pos