Paolo Fazioli_Hikayat Piano yang Indah Bernyanyi. Kompas. 15 April 2017. Hal.16

Piano itu seperti “bel canto”, bisa bernyanyi dengan indah. Piano juga harus cantik ditatap mata. Begitulah Paolo Fazioli mengonsep piano. “Empu” pembuat piano Fazioli dari Italia itu datang ke Jakarta, Rabu (12/4) lalu, untuk menunjukkan betapa indahnya instrument yang disebut pianoforte itu.

Oleh Frans Sartono

Jari-jari maestro Ananda Sukarlan memainkan komposisi karya sendiri “Variations on Ibu pertiwi” dan sepotong “Clair de Lune” dari Debussy. Keindahan mengalun dari piano Fazioli berukuran panjang 3,08 meter yang menggunakan empat pedal itu.

Ananda seperti ingin membuktikan konsep bel canto seperti dimuai Paolo Fazioli. Di seberang piano itu duduk sang empu, Paolo Fazioli (73), yang membuat piano Fazioli sejak 1981. Ia datang langsung dari Italia untuk hadir di The Grand Atelier and Cultural Center, Mangga Dua, Jakarta, Rabu lalu.

“Sejak awal memutuskan untuk membuat piano, saya memang hanya ingin membuat grand piano dan grand concert piano. Artinya, itu piano professional untuk pergelaran music, bukan private piano,” kata Paolo Fazioli dalam wawancara dengan Kompas.

Piano buatannya adalah jenis piano high-end, kelas premium, yang bisa berharga sampai Rp 6 miliar untuk salah satu tipenya. Pianonya menghuni Istana Sultan Brunei. Fazioli dimainkan oleh pianis-pianis kelas dunia, termasuk pianis klasik Aldo Ciccolini, Vladimir Ashkenazy, Lazar Berman, Michel Beroff, juga Ananda Sukarlan.

Album pertama Ananda yang di buat di Belanda tahun 1993 menggunakan piano Fazioli, seniman Jazz legendaris, seperti Herbie Hancock dan Brad Mehldau, juga menggunakan Fazioli. Di Jakarta, Fazioli digunakan di Soehana Hall dan Aula Simfonia Jakarta.

Fazioli dengan pilihan berkelasnya itu ingin mengembalikan “khitah” piano sebagai macam bel canto, nyanyian indah. Ia menceritakan bagaimana instrument yang awalnya disebut pianoforte itu digagas oleh Bartolomeo Cristofori di Francesco (1965-1731). Bartolomeo yang dianggap sebagai penemu piano tidak puas dengan alat music harpsichord yang hanya bisa “berbunyi”,tetapi belum “bernyanyi”. Itu mengapa ia mengonsep pianoforte alat music yang bisa lembut (piano) selembut-lembutnya, tetapi bisa juga keras (forte) sekeras-kerasnya.

Konsep itu belum sempat dikembangkan di Italia dan piano kemudian justru banyak dibuat di luar Italia, termasuk Jerman. “Perlu waktu 300 tahun untuk mengambil kembali the sound, cita suara, milik kami itu, ha-ha-ha..,” kata Fazioli yang mendirikan perusahaan Fazilio pada 1981.

“Jadi, meski kami (Fazioli) tergolong muda, sebenarnya kami ini juga sangat tua, ha-ha-ha…,”

“Bell Canto”

Cita suara yang dimaksud Fazioli itu adalah cita suara seperti terkonsep dalam bel canto, nyanyian indah. Sebagai pembuat piano yang kebetulan juga seorang pianis-dan kebetulan pula orang Italia-Fazioli tahu benar piano apa yang diinginkan para pianis.

“Saya ingin piano yang lebih dekat dengan konsep sound Italia seperti bel canto. Suaranya mencirikan selera Italia: indah, jernih, hangat, penuh warna, elegan. Suara yang menggema (sustain), yang bisa menjangkau fortissimo (sangat keras), dan pianissimo (sangat pelan). Piano dengan jiwa mediteranian yang beratmosfer, hangat, akrab,” kata Fazioli dalam bahasa Inggris berlafal Italia.

Di luar hal utama, yaitu keindahan cita suara, Fazioli juga mempertimbangkan unsur estetika, keindahan fisik pianonya. Salah satu tipe piano Fazioli, yaitu tipe Liminal, misalnya, dirancang dengan inspirasi bentuk kapal. Gagasan desain berasal dari seorang arsitek Perancis.

Semua Fazioli ragu untuk menerima gagasan desain menyerupai kapal yang hanya menggunakan satu kaki sebagai penopang badan piano.

Ternyata, dengan ukuran yang relastif lebih kecil dari grand piano, tipe Liminal justru mampu memproyeksikan suara secara lebih besar. Tipe inilah yang berharga Rp 6 miliar dan hanya dibuat sebanyak 10 “biji”. Yang ke-9 menurut Helen Gumanti dari The Grand Atelier and Cultural Center, ada di Jakarta.

PAOLO FAZIOLI

Lahir : Roma, Italia, 1944

Pendidikan  :

  • Teknik Mekanika Univaersitas Roma, 1969
  • Jurusan Piano di Konservatori Rossini, 1971
  • Program Master untuk Komposisi di Akademi St. Cecilia, 1971

Profesi        :

  • Pembuat piano
  • Pendiri perusahaan piano Fazioli di Sacile, dekat Venice, 1981

Tukang Kayu

Fazioli menyebut piano buatannya berorientasi pada kualitas. Ia menggunakan kayu dari pohon dan hutan yang sama seperti digunakan dalam pembuatan biola stadivarius, yaitu dari hutan di bagian barat pegunungan Alpe, Italia.

Kayu ini digunakan untuk bagian soundboard, papan untuk dawai-dawai pada piano. Bagian ini sering disebut sebagai jantungnya piano karena dari papan inilah keindahan piano ditentukan. “Saya adalah pembuat piano pertama yang menggunakan jenis kayu dari hutan itu. Ini memang semacam eksperimen.”

Sebagai anak tukang kayu pembuat mebel di sekitar Roma, Fazioli tahu benar kualitas kayu terbaik yang cocok untuk piano. Meski menggunakan piano dari jenis pohon yang sama pula, bahkan dari hutan yang sama, setiap kayu mempunyai kondisi dan karakter yang berbeda. Itu mengapa piano mempunyai karakter personal.

Setiap piano bagaikan suatu individu dan persona tersendiri. Fazioli mengenali benar setiap karakter piano bikinannya karena ia mencoba setiap keluaran Fazioli. “Setiap piano itu seperti anak-anak saya. Kami menyiapkannya selangkah demi selangkah. Ia menjadi karya seni tersendiri.”

Pengenalan secara personal pada piano buatannya itu dimungkinkan karena piano Fazioli tidak dibuat secara massal. Dalam setahun Fazioli membuat “hanya” sekitar 140 piano. Ia melibatkan 50 pekerja dan sebagian besar pekerjaannya dilakukan secara manual, handmade. “Setiap piano merupakan hasil dari keterampilan setiap pekerja kami. Setiap bagian dibuat satu per satu, tidak massal.”

Sebagai anak tukang kayu pembuat mebel, Paolo Fazioli termasuk menyempal dari tradisi keluarga. Namun, toh ia tetap tidak jauh dari kayu sebagai bahan utama piano. “Karena piano itu menjadi impian saya sejak kecil. Saya lebih cinta piano daripada bikin mebel, ha-ha-ha…”

Fazioli kuliah di politeknik, Universitas Roma, tetapi juga belajar piano di Konservatori Musik Pesaro serta belajar komposisi di Akademi Musik Roma. Fazioli pernah tiga tahun bekerja di perusahaan mebel, namun hastrat jiwa (passion) membawanya pada piano. “Saya memilih menjadi pembuat piano karena itulah yang saya inginkan dalam hidup. Apa yang saya lakukan itu adalah jalan hidup saya.”

Karena piano menjadi jalan hidup, piano bikinan Fazioli terus tumbuh, berkembang seturut dinamika hidup. Ia terus bekerja menciptakan piano-piano dengan cita suara yang lebih ideal. “Setiap piano yang rampung saya bikin itu bukan piano terakhir. Piano telah menjadi bagian dari diri saya sendiri.”

Sumber : Kompas. 15 April 2017. Hal 16