Majalah Fotune edisi Asia Pasific bulan September 2017 merilis daftar 56 perusahaan yang telah “mengubah dunia” (The Change the World list).
Adapun 56 perusahaan tersebut terdiri dari 50 perusahaan tersebut terdiri dari 50 perusahaan mapan dengan pendapatan pertahun lebih dari US $ 1 milliar. Indonesia pantas berbangga, karena perusahaan karya anak bangsa, Gojek, menduduki peringkat ke – 17 di antara perusahaan – perusahaan raksasa ternama tersebut. Peringkat Gojek bahkan lebih tinggi daripada nama – nama besar seperti Unilever (21), Microsoft (25) dan IBM (35).
Penyususnan daftar ini dimaksud untuk mengapresiasi perusahaan – perusahaan yang telah mendatangkan dampak positif kepada masyarakat luas, melalui inisiatif – inisiatif yang terintegrasi kuat kuat dengan strategi perusahaan. Dengan kata lain, kontribusi publik yang dihadirkan oleh perusahaan, tak sekadar merupakan aktivitas corporate social responsibilities yang dilakukan secara terpisah dari agenda bisnis perusahaan. Sebaliknya, aktivitas itu merupakan bagian darinya.
Fortune sendiri menentukan peringkat 56 perusahaan tersebut berdasarkan tiga faktor evaluas, yakni: (1) dampak sosial yang dihadirkan, dengan mempertimbangkan jangkauan dan keberlangsungan dari kontribusi perusahaan dalam mengatasi persoalan masyarakat secara spesifik; (2) manfaat bisnis (seperti: nilai keuntungan perusahaan dan kontribusinya kepada peningkatan nilai saham) dari inisiatif – inisiatif yang berdampak sosial tersebut; dan (3) inovasi, yakni seberapa inovatif inisiatif perusahaan tersebut dibandingkan dengan perusahaan – perusahaan lain dalam industri yang sejenis.
Pemilihan dan pemeringkatan perusahaan pengubah dunia (change the world) bisa dikatakan sebuah terobosan baru dalam melihat entitas bisnis. Sebuah perusahaan ditantang merumuskan dirinya tak melulu sebagai entitas yang memburu keuntungan dan kemajuan (profit and growth) untuk dirinya sendiri, namun juga untuk kemanfaatan dan kemaslahatan masyarakat secara luas.
Lebih jauh, konsep perusahaan pengubah dunia berusaha untuk memadukan dua cita – cita yang selama ini tampak “berlainan” (jika tak ingin dikatakan “berseberangan”), yakni cita – cita: keuntungan bagi diri sendiri dan kemaslahatan bagi masyarakat banyak. Bukankah kita sering mendengar celotehan canda, “perusahaan, ya, memang tempatnya untuk mencari untung. Kalau mau memberikan sumbangsih kepada publik ya… bikinlah yayasan sosial!”.
Di atas kertas, integrasi kedua cita – cita tersebut tampak sederhana dan mudah dijalankan, namun tak demikian halnya dengan dunia nyata. Paul Polman, CEO Unilever, salah satu perusahaan pengubah dunia, pun mengakui hal ini.
Tidak Mudah
Unilever terpilih sebagai peringkat 21 perusahaan pengubah dunia berkat cetak – biru strategis perusahaan yang dinamakan The Sustainable Living Plan. Strategi besar perusahaan ini dirujukan untuk pertumbuhan bisnis, sekaligus juga untuk agenda pengurangan pemakaian air dan energi, pembatasan limbah, pengadaan bahan baku yang lebih cerdas dan bersahabat, pemberdayaan petani lokal dan agenda pelestarian lingkungan lainnya.
Beranjak dari pegangan strategis tersebut, Unilever berhasil mencetak angka – angka pencapaian bisnis yang membanggakan. Semester pertama 2017, mereka membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 5,5% menjadi US $ 30 miliar, lebih baik daripada pertumbuhan rata – rata pesaing. Nilai earnings per share – nya jugameningkat 24% dari tahun sebelumnya.
Walaupun demikian, Polman mengakui tetap tak mudah menjelaskan “gagasan besar sosial kemasyarakatan” The Sustainable Living Plan kepada para pemegang saham. Namun, katanya lebih lanjut “ullimately the people that you employ – or the people you are able to attract – is actually the backbone of your success”.
Asal diketahui saja, ada sekitar 1,8 juta orang (terutama dari generasi milenial) yang setiap tahunnya melamar pekerjaan di perusahaan bauran Inggris – Jerman tersebut. Jumlah yang luar biasa, jika dibanding dengan kesempatan kerja yang tersedia.
Menarik untuk dicari tahu, apa yang membuat jutaan orang muda mengirimkan lamaran pekerjaan setiap tahun.
Ternyata, sekitar 60% pelamar menunjukan ketertarikan kepada perusahaan karena adanya Sustainable Living Plan tersebut; sebuah cetakbiru bisnis yang melampaui perkara komersial seperti : angka penjualan, keberuntungan, pertumbuhan.
Saya juga teringat dengan testimoni Nadiem Makarim, pendiri Gojek (peringkat 17 perusahaan pengubah dunia), yang awalnya membangun perusahaan semata – mata untuk mempertemukan “kepentingan” para konsumen dan pengendara ojek, yang jumlahnya begitu banyak di republik ini.
Konsumen seringkali kesulitan untuk mencari kendaraan ojek, sementara itu masih banyak pengemudi ojek yang ongkang kaki “ngetem” di pangkalan. Lewat aplikasi, kedua pihak dipertemukan untuk medatangkan kemaslahatan bersama. Cita – cita sederhana, namun mulia. Inilah yang mengantar perusahaan menjadi organisasi pengubah dunia. Bukan sekadar entitas pemburu laba.
Sumber: Tabloid-Kontan.9-15-Oktober-2017.Hal_.29

