Pada 1 Januari 2000, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendorong masyarakat internasional untuk memperingati Hari Perdamaian Dunia sebagai permulaan dari Dekade Internasional untuk Perdamaian dan Anti-Kekerasan untuk Anak-anak Sedunia.
Oleh Dewa Gde Satrya (Dosen International Hospitality & Tourism Business, Universitas Ciputra)
Sebanyak seribu organisasi dari sekitar 140 negara berpartisipasi dalam peluncuran Hari Perdamaian Dunia ini. Pada November 2001, PBB mengundang negara-negara dunia untuk memperingati Hari Perdamaian Dunia pada setiap 1 Januari.
Sebagai salah satu sektor kehidupan, kepariwisataan di Tanah Air dapat diujicobakan terus menerus daya ampuhnya guna mengatasi kemiskinan sebagai dampak pengangguran-kaum muda khususnya- yang berpotensi mengancam keharmonisan hidup bersama.
Perihal tujuan kepariwisataan sendiri yang diatur dalam UU 10/2009 tentang Kepariwisataan dengan jelas mengamanatkan hal itu.
Disebutkan dalam UU tersebut, kepariwisataan bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi; meningkatkan kesejahteraan rakyat; menghapus kemiskinan; mengatasi pengangguran; melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya.
Selain itu memajukan kebudayaan; mengangkat citra bangsa; memupuk rasa cinta Tanah Air; memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa dan mempererat persahabatan antarbangsa.
Dengan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, seperti 17.504 pulau, 491 grup etnik, serta 764 bahasa, ditambah lagi pengakuan Indonesia sebagai destinasi wisata termurah di dunia pada 2007, seharusnya kepariwisataan di Tanah Air dapat menjadi pilar perekonomian bangsa yang nyata.
Pada peringatan hari pariwisata sedunia 27 September 2011 misalnya, diangkat tema Tourism Linkage Culture. Logikanya sederhana, pariwisata mendorong perjalanan jutaan umat manusia di dunia untuk bertatap muka dan berinteraksi langsung lintas kebudayaan menapaki relung kekayaan dunia yang beragam etnis, agama dan kebudayaan dari Sang Pencipta. Karena itu, mestinya perdamaian dan pariwisata berhimpit, satu sama lain saling memengaruhi.
Dalam pidato menandai Hari Lahir NU ke-85 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada 17 Juli 2011, Presiden SBY memuji komitmen Nahdlatul Ulama dalam menegakkan pluralime di Indonesia, di tengah ancaman kekerasan teror atas nama agama dan keinginan menciptakan negara Islam.
NU antikekerasan, antiterorisme, dan antiseparatisme, sikap itu jelas sangat diperlukan untuk keamanan rakyat dari ancaman terorisme.
Pluralitas masyarakat, adat-istiadat, seni-budaya, dan kearifan-kearifan lokal, perlulah semakin didorong dengan sentuhan dan kemasan turisme agar benar-benar bermakna positif, lebih-lebih dalam hal mendatangkan kesejahteraan sosial.
Keberagaman mestinya menjadi anugerah, bukan sumber konflik sebagaimana ditampakkan pada teror bom Solo.
Dimensi pariwisata pun menganggap justru pluralitas itu menjadi daya tarik wisata manakala dikelola dengan baik.
Keanekaragaman merupakan salah satu daya pacu di balik kepariwisataan dan dapat mendorong semua negara untuk berbagi kebersamaan yang saling menguntungkan dengan membangun ikatan yang lebih kuat satu sama lain.
PARIWISATA INDONESIA
UN-World Tourism Organization menginterpretasikan kerinduan umat manusia bahwa lalu lintas manusia di muka bumi untuk kepentingan pariwisata merupakan sarana atau katalisator untuk membangun pemahaman, mendorong diperkirakan bisa meraih kunjungan wisman sebanyak 20 juta dengan perolehan devisa senilai US$20 miliar.
Untuk menuju ke sana, perlu melalui tahapan-tahapan dengan menetapkan target pertumbuhan yang signifikan, sebagaimana untuk tahun 2013 senilai 9 juta kemudian naik menjadi 10 juta wisman pada 2014.
Dalam skala domestik, pembelajaran lintas suku-budaya dan religiusitas mengandaikan perjalanan wisata wisatawan domestik dari satu kota ke kota lain, dari satu suku ke suku yang lain, dan dari satu kepulauan ke kepulauan yang lain.
Akses transportasi dan paket wisata inbound berperan penting dalam ‘muhibah’ kebudayaan wisatawan domestik ini.
Perdamaian menciptakan situasi yang aman yang merupakan pilar penting bagi pariwisata. Dengan rasa aman itu, seluruh warga negara dapat melakukan perjalanan wisata ke suatu daerah tanpa merasa terancam dan tertekan.
Melalui perjumpaan dan interaksi antar suku dan bangsa melalui media pariwisata, perdamaian kian dipupuk, diperdalam dan diperkuat. Karena itu, akselerasi antara perdamaian dan pariwisata berjalan beriringan.
Akhirnya, kekayaan kebudayaan yang dimiliki negeri ini tidak berfaedah tanpa sentuhan inovasi dan kreativitas. Diperlukan inovasi radikal untuk mengangkat martabat kebudayaan bangsa di antara pergaulan bangsa-bangsa di dunia dan memberi kebahagiaan nyata bagi masyarakat.
Sebagai ruh dari inovasi radikal tersebut, tak melepaskan kegelisahan kolektif sebagai bangsa, utamanya sebagai antitesa dari radikalitas berbasis agama, terkait dengan fakta keanekaragamaan masyarakat.
Diyakini bahwa inovasi radikal menjadi jawaban atas kegelisahan itu, di satu sisi menghadirkan sesuatu yang baru yang memberikan kemanfaatan optimal bagi umat manusia, atau secara bisnis diterima dengan baik di pasaran.
Sedangkan di sisi lain membuka kesadaran publik bahwa kekayaan etnik, budaya dan agama adalah warisan yang tak ternilai yang bermanfaat positif.
- Akselerasi antara perdamaian dan pariwisata berjalan beriringan.
- Kekayaan kebudayaan tidak akan berfaedah tanpa sentuhan inovasi dan kreativitas.
Sumber: Kontan-3-januari-2014.Hal_.2

