Jaga Citra Baik Komunitas Motor

Patuhi Briefing dan Santun Berkendara, Tertib di Pemberhentian

21 Desember 2024. Hal.19

Kegiatan konvoi dan touring motor sering kali menjadi ajang untuk bersenang-senang dengan sesama bikers. Namun, kegiatan itu harus dilakukan dengan memperhatikan keselamatan dan kenyamanan diri sendiri maupun orang lain.

DI balik keberadaannya sebagai komunitas hobi, klub motor tak jarang dipandang negatif. Kasus pelanggaran lalu lintas yang dilakukan sebagian anggota klub motor membuat citra komunitas menjadi buruk. Belum lagi munculnya kasus sebuah klub motor di Nganjuk yang mengganggu kenyamanan di fasilitas umum minimarket.

Bagaimana cara mengubah persepsi masyarakat tentang komunitas motor? Salah satunya adalah dengan menunjukkan sikap yang bertanggungjawab dan menjunjung tinggi etika, baik saat berkendara maupun di pemberhentian.

Etika Berkendara 

Ketika melakukan konvoi, bikers harus menerapkan etika berlalu lintas guna menjaga keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lain. Apa saja?

  • Bertoleransi dengan pengguna jalan lainnya.
  • Menaati rambu lalu lintas serta arahan petugas lalu lintas.
  • Berperilaku sopan dalam berkendara. Kontrol emosi dan jauhkan aksi arogan yang bisa memicu perselisihan dengan pengendara lain atau bahkan memicu kecelakaan.
  • Berkomunikasi dengan pengguna jalan lain. Bisa dengan isyarat gerakan tangan atau lampu dan klakson. Ketika konvoi ke daerah yang berbeda kultur, pelajari karakter dan budaya setempat agar tidak miskomunikasi.

Sosialisasi dan Briefing sebelum Konvoi

Sebelum konvoi, wajib melakukan sosialisasi dan briefing. Tujuannya menyamakan persepsi dalam membaca rambu dan isyarat bagi sesama anggota. Sebab, karakter jalan provinsi di tiap daerah maupun karakter pengguna jalan beragam. Untuk menghindari risiko yang membahayakan, dibutuhkan manuver lewat kode-kode. Misalnya, kode tangan dari road captain yang menginformasikan bahaya seperti adanya obstacle, kendaraan yang berlawanan, orang menyeberang, berbelok, atau berhenti, dan sebagainya. Bisa pula lewat lampu yang ada pada motor sebagai sign.

Pengaturan Formasi 

Formasi konvoi perlu diatur sedemikian rupa. Misalnya, dengan membagi rombongan menjadi kecil atau yang dinamai “duster convoy”. Masing-masing cluster bisa terdiri atas 5-10 motor, bergantung pada cc dan besar motornya. Tiap cluster memiliki road captain. Bikers berjalan dengan format bersilangan antara motor satu dan lainnya untuk mempersingkat jarak motor. Kecepatan road captain maksimal 60 km/jam atau disesuaikan dengan aturan dan kondisi lalu lintas. Kecepatan motor anggotanya menyesuaikan. Motor dengan spesifikasi terendah atau paling standar sebaiknya ditempatkan pada posisi paling depan sehingga motor dengan spek lebih tinggi yang berada di posisi belakang lebih mudah menyesuaikan.

Jaga Ketertiban di Tempat Umum 

Berkendara saat konvoi lebih melelahkan daripada solo riding. Sebab, konvoi menuntut bikers ekstrafokus sepanjang perjalanan. Untuk itu, istirahat menjadi menu wajib setelah 2-3 jam perjalanan. Tempat beristirahat disesuaikan dengan kebutuhan bikers.Namun, utamakan sisi keamanannya. Idealnya sudah diset lokasinya saat mendesain journey management. Ketika memilih tempat umum untuk beristirahat, tetap jaga etika demi kenyamanan bersama. Mengingat konvoi diikuti banyak biker, pilihlah lokasi istirahat yang luas sehingga tidak mengganggu sekitar. Tetap berlaku santun, tertib, dan jangan sampai merusak fasilitas umum.

Apabila etika ketika berkendara maupun di lokasi rehat dijalankan, dampak negatif yang timbul dapat diminimalkan. Konflik antar pengguna jalan, kecemburuan sosial di mata masyarakat, pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas, kerusakan, hingga ketidaknyamanan di sekitar dapat dihindarkan. Dengan begitu, citra klub motor pun akan positif di mata masyarakat. (*/lai/c6/nor)