Pelantun-Kidung-Sunda-dari-Sungai-Citanduy.-Kompas.5-Juni-2015.Hal.16

Di sela-sela melantunkan kidung Sunda, ia menyela, “Maaf, nama saya ujungnya P, ‘peuyeum’, bukan filter,” ujar Bah Latip (59) sambil menunjuk tulisan pada buku catatan kecil yang dipegang “Kompas”. Juru kunci makan petilasan Ratu Galuh Sanghyang Prabu Cipta Permana di Dusun Tunggal Rahayu, Desa/Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, lalu meneruskan kidungnya. “Urang Sunda geus sawawa, geura hudang tur areling…”

OLEH DEDI MUHTADI

Selain gemercik aliran Sungai Cintanduy, musik pengiring kidung itu adalah banbaraan, yakni alat musik sederhana yang terbuat dari sebilah bambu kecil mirip potongan untuk rangkaian bambu angklung. Selain bangbaraan, bambu yang berfungsi sebagai “melodi”, juga ada cemplung indung dan cemplung anak sebagai bas besar dan kecil atau gong. Di samping itu, ada musik pelengkap berupa kempringan dan kecrek.

Melodi bangbaraan suaranya mirip dangungan kumbang besar berwarna hitam (Sunda : bangbara) yang biasa mengisap bunga-bunga tanaman. Alat musik ini memang dibuat untuk menirukan suara kumbang karena merupakan simbol penyerbukan pada bunga tanaman. “Saat kumbang itu mengisap madu bunga tanaman, ia pun melakukan penyerbukan sehingga tanaman itu berbuah,” papar Bah Latip.

Buah-buah tanaman itu merupakan kebutuhan pangan, baik bagi hewan maupun manusia penghuni alam, yang membentuk suatu ekosistem kehidupan berkelanjutan. Menurut Bah Latip, musik pengiring siloka (simbol) ini dibuat secara turun-temurun oleh leluhur Galuh sebagai pesan pelestarian dan keserasian pada kehidupan manusia (sun, ingsun) dan alam (da) yang secara umum terangkai dalam kata Sunda.

Mengapa terbuat dari bambu? Tangkal awi ahur (bambu) merupakan tanaman multiguna yang mampu berfungsi secara ekologi, ekonomi, dan sosial. Pohon bambu mampu menjaga lingkungan/tebing-tebing dari bahaya banjir dan longsir sekaligus menjadi sumber air pada areal tangkapan air. Pohon-pohon bambu juga mampu menyebarkan suhu yang sejuk pada lingkungan sekitar.

Karena itu, leluhur Sunda Galuh meminta keturunannya melestarikan alam melalui pepatah lamping gancang awian  (tebing cepat tanami bambu). Bambu juga bisa digunakan untuk bahan bangunan dan keperluan lain, mulai alat minum hingga alat musik seperti angklung. Di zaman dahulu, bambu merupakan bahan pembuatan galah dan rakit yang menjadi alat trasnportasi di sungai-sungai.

 

Pepeling

Filosofi alat musik tradisional bambu ini serasi dengan kidung yang dilantunkannya, yakni berisi pepatah (pepeling) terhadap keturunan Sunda Galuh untuk membangun kehidupan yang sejahtera lahir batin. Tatanan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, subur makmur kerta raharja, bru di juru, bro dina panto ngalayah di tengah imah (sejahtera lahir batin).

Seperti pantun yang dilantunkannya di atas, “urang Sunda geus sawawa, geura harudang tur areling,” mengingatkan kepada keturunan Sunda kini sudah dewasa, banyak yang pintar, dan mampu mengolah negara. Karena itu, segeralah bangun (geura harudang) dan sadar (areling), jangan terlena bahwa mengolah zaman (politik, ekonomi, sosial, dan lain-lain) memerlukan kerja keras  dan cerdas.

Kidung buhun pepeling (pepatah) itu makin relevan dengan kondisi kekinian urang Sunda. Setelah berpuluh tahun merdeka dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), urang Sunda yang tinggalnya paling dekat dengan pusat kekuasaan, DKI Jakarta justru termarjinalisasi dalam setiap aspek pembangunan.

Tidak hanya di bidang infrastruktur, sumber daya manusia, atau sosial ekonomi di lemah cai (provinsi), urang  Sunda justru tertinggal dibandingkan dengan provinsi lain yang letaknya jauh dari Ibu Kota. Sebagian besar industri manufaktur (54 persen) nasional berada di Tatar Sunda, tetapi jumlah penduduk miskin paling banyak juga berada di provinsi ini.

Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional, Tatar Sunda juga pemasok tenaga kerja ke luar negeri paling banyak. Kondisi pendidikan juga sangat memprihatinkan. Peringkat pendidikan di Tatar Sunda (Jawa Barat), seperti SMP dan SMA, masih di bawah 10 besar dari 34 provinsi di Indonesia.

Malah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh pernah menyebutkan, untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia terkait pendidikan di Jawa Barat lebih sulit dibandingkan dengan Papua. Benar-benar ironis.

 

Sejuk

Petilasan karuhun Sunda Galuh seluas satu hektar itu terletak persis di pinggir Citanduy, sungai sepanjang 150 kilometer yang bermuara di Laguna Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah. Di petilasan yang dinyatakan sebagai situs purbakala itu, Abdul Latip Adiwijaya, nama lengkapnya, membuat padepokan seni. Di padepokan sederhana itu ia membuat alat musik bangbaraan sekaligus melestarikan seni Sunda lewat kelompok Seni Banda Haur.

Sepenggal hutan di sisi Citanduy itu merupakan petilasan dan makan Keturunan Raja Galuh, yakni Prabu Cipta Permana. Menurut penyusun buku Kerajaan Galuh, Djadja Sukardja (1999), Prabu Cipta Permana (1595-1618) merupakan Ratu Galuh yang pertama masuk Islam karena Sang Prabu menikah dengan Tanduran Tanjung, putri Maharaja Mahadikusumah, penguasa di Kawali.

Sekitar 1570 Masehi, Kerajaan Sunda Galuh di Kawali di bawah Cirebon. Sebelum 1569, Kesultanan Cirebon belum terikat dengan Kerajaan Mataram. Bahkan, daerah Ciamisutara, yakni di utara Sungai Citanduy, sudah di bawah kekuasaan Cirebon, termasuk Panjalu. Baru setelah 1618, Mataram menjajah Galuh yang dimulai dengan gelar raja yang tadinya bergelar ratu atau sanghyang diganti dengan gelar adipati, yaitu bupati di bawah jajahan Mataram.

Petilasan Prabu Cipta yang terletak sekitar 10 kilometer timur kota Ciamis disebut juga Situs Salawe Galuh Gara Tengah. Di tengah rimbunan pepohonan bambu yang sejuk terdapat struktur petilasan keraton dengan empat gerbangm lengkap dengan singgasana raja yang terbuat dari susunan batu. Pohon besar yang berusia ratusan tahun masih tumbuh. Ada juga yang sudah tumbang dan dibiarkan tergeletak.

“Tempat ini sudah dinyatakan sebagai cagar budaya sehingga benda-benda yang ada disini tidak boleh dipindah,” ujar Bah Latip.

Seni Buhun yang dilestarikan Bah Latip, selain tampil pada acara-acara ritual, juga pernah tampil pada pergerlaran seni tradisi di Bali tahun lalu. Kelompok seni yang dipimpinnya itu juga suka tampil pada upacara hari jadi Kabupaten Ciamis.

Senin (25/5), suhu udara di kota Ciamis terasa panas menyengat. Namun, begitu sampai ke Situs Salawe, suasana dingin sejuk terasa menyegarkan. Di tengah kesunyian yang damai itulah Bah Latip menyepi seraya menjalankan nilai-nilai tradisi luhur leluhur Sunda Galuh.

 

ABDUL LATIP ADIWIJAYA

▪ Lahir : Ciamis, 4 Juli 1956

▪ Istri : Hj Masitoh

▪ Anak : Isdianto T

▪ Pendidikan :

  • SD Cimaragas, Ciamis (1969)
  • SMP Banjar (1972)
  • SMEA Ciamis (1975)
  • Akademi Ilmu Keuangan dan Perbankan Tasikmalaya (1979)

▪ Pekerjaan : Juru Kunci Situs Salawe Galuh Gara Tengah, Ciamis

 

UC Lib-Collect

Kompas. Jumat. 5 Juni 2015. Hal. 16