Pria bersahaja itu duduk tenang dipojok sebuah resto di pusat perbelanjaan dijakarta selatan, awal maret 2015. Di hadapannya, segelas the tawar masih mengeluarkan uap panas. Dia sang maestro lukis, Sidik W Martowidjojo (78) atau Ma Yong Qiang. Pelukis “shu fa” atau kaligrafi Tiongkok itu pada Desember 2014 mendapat penghargaan emas untuk karya lukisnya berjudul “jalan” pada pameran lukis louvre International Art di Carrousel du Louvre, Paris, Perancis.
OLEH IMAM PRIHADIYOKO
Bukan hanya penghargaan itu yang membanggakan, tetapi ia juga menjadi seniman Indonesia pertama yang berperan di Louvre.
“ketika itu, saya yang pertama kalinya ikut di Louvre bisa menampilkan 21 karya dan mendapat ruang khusus, padahal, pelukis dari 40 negara lain hanya boleh menampilkan satu karyanya,” ujar Sidik, yang mulai belajar melukis sejak usia Sembilan tahun.
Dalam pameran itu, Sidik mengambil tema “Pencerahan dari Timur” dan menampilkan karya yang dia buat sejak tahun 2004. Pencerahaan itu ibarat batin yang bersinar kebaikan. Dengan sinar ini, ketika menuangkan ide di shien zhe, kertas khusu untuk kanvas melukis, dia selalu mendapat bimbingan.
“Apalagi, dalam setiap melukis saya tidak boleh salah karena kertas yang digunakan untuk melukis itu amat mahal dan diimport dari tiongkok,” ujar Sidik dengan dialek Jawa yang kental.
Langkah Sidik untuk eksis didunia seni cukup panjang. Namun, tonggak pentingnya terjadi ketika Presiden Abdurrahman wahid mengeluarkan keputusan Presiden No 6 tahun 2000 tentang Pencabutan Intruksi Presiden No 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.
Sejak usia Sembilan tahun, Sidik sedah belajar melukis, sebelumnya ketika masih berusia empat tahun, ia belajar kaligrafi pada Xau Bexin (alm), seorang kepala Sekolah Rakyat Khusus Tionghoa di Malang.
Selanjutnya, dia otodidak belajar sastra dari ayahnya, Phe Hwie Kwan, yang mengenalkannya pada buku-buku karya pelukis maestro Tiongkok, Qi Baishi dan Zhang Daqian, Zhao Wuji dan Zhu Dequn, namun, dia juga berguru pada tokoh seni rupa Handrio Widayat, S Sudjojono, dan Hendra Gunwan.
Namun, banyak koleksi lukisannya dibakar ibunya pada tahun 1967. Ketika itu, situasi politik diindonesia menimbulkan kekhawatiran terhadap orang tua Sidik, dan menekan kecintaanya untuk melukis, meski demikian Sidik tida menghentikan hobi melukisnya.
Ia baru berani memamerkan lukisannya secara terbuka sejak keputusan strategis yang diambil Abdurahman Wahid tersebut. Sebelumnya sejak tahun 1967, segala hal yang berhubungan dengan ekspresi kebudayaan berwarna TIonghoa dilarang ditampilkan diindonesia.
Sejak larangan itu dicabut, Sidikpun mengelar pameran seni di Indonesia. Ia pun mengawali pameran lukis dikota tempat tinggalnya Yohyakarta, tahun 1998. Selanjutnya pameran demi pameran mulai bergulir. Beberapa kali ia menggelar pameran di Gedung WTC Jakarta (2003): LanggengGallery di Magelang Jawa Tengah, (2004): Gallery Nasional Jakarta (2005).
Selain di Indonesia. Sidik juga menggelar pameran di Tiongkok.
“Saat berpameran tunggal digaleri besar di Beijing, The China Millennium Monument tahun 2006, mendapat sambutan kritikus seni di Beijing dan guru besar perguruan tinggi seni rupa di Tiongkok,” ujar Sidik.
SIDIK W MARTOWIDJOJO
- Lahir: Malang, Jawa Timur, 24 September 1937
- Pekerjaan:
- Dosen tamu di Eastern International Art Collage of hengzhou Unversity (2007)
- Peneliti pada Pusat Penelitian Seni Republik Rakyat Tiongkok (2010)
- Penghargaan:
- Bunga Phoenix (media cat hitam putih) sebagai Lukisan Tiongkok Mutu Terbaik dalam kompetensi seni lukis dan kaligrafi Tiongkok sedunia di Beijing (2001) dan Nanjing (2002)
- Piagam penghormatan 10 Besar Seni Budayawan dari Pusat PEmuda Partai Tiongkok (2006)
- Penghargaan emas untuk karya lukisnya berjalan “jalan” pada pameran lukis Louvre International Art di Carrousel du Louvre Paris, perancis (2014)
Tahun berikutnya, dia diundang ber-solo exhibition di galeri paling bergangsi di Tiongkok, tempat para maestro menggelar karyanya, yaitu di National Art Museum of China atau Zhong Guo Meishuguan, Beijing.
KREATIF
Sidik yang menjalani hidup sebagai pelukis dan akrab dengan dunia kreatif tetap berharap pemerintahan mau peduli dengan seni dan budaya yang hidup diinodnesia.
“Kepedulian itu bukan hanya bilang saya peduli, tetapi dukungan nyatanya yang dinantikan. Misalnya, pemerintahan menyediakan dana untuk pameran seni dan mendorong produk kreatif,” ujar Sidik, yang sekarang juga menjadi penasihat Dewan Kreatif Rakyat.
Ia meyakini, dunia kreatif dapat menghidupi rakyat Indonesia. Ia mencotohkan maraknya batu akik saat ini. Sepintas tidak ada kaitannya dengan dunia seni dan kreatif, tetapi kalau mau melihat lebih dekat orang-orang yang terlibat dalam aktivitas pemolesan batu, dan pembuatan cicinnya, maka pada tataran tertentu telah memperlihatkan kreatifitas.
“Nilai uangnya tidak kecil dari aktivitas yang dilahirkan dari kecendrungan batu akik ini. Apalagi, sebagai kolektor batu akik dan giok sejak tahun 1960-an, gambar yang dimunculkan dalam batu-batu itu punya nilai seni yang luar biasa,” ujar Sidik, yang mengatakan memiliki koleksi lebih dari 500 batu akik.
Namun yang pasti, Sidik meyakini, dunia seni dapat menyejahterakan jika rakyat juga peduli dengan seni dan mau kreatif mengembangkan kemampuan diri.
Sumber: KOMPAS, SENIN, 23 MARET 2015

