Surabaya – Revolusi Industri 4.0 tampak memudahkan segala aspek kehidupan manusia. Namun disisi lain, itu bisa berdampak negative bagi keberlangsungan hidup masyarakat, bangsa, dan negara. “Pendidik, guru, maupun dosen harus memiliki kemampuan literasi yang tinggi agar bisa meluruskan apa yang ada ditengah masyarakat,” ujar Jakob Samuel Hamoloan Lumban Tobing dihadapan para dosen muda dalam acara induksi Kebangsaan Dosen bertajuk The Battle of Ideal in Industrial Revolution 4.0 di ruang teater Universitas Ciputra (UC) kemarin (6/5).

Menurut pria yang akrab disapa Jakob Tobing itu, sekarang hampir semua orang tidak ingin ketinggalan zaman. Jika ada teknologi terbaru, ramai-ramai memburunya. Jika ada rillis film baru, berebut beli tiketnya. Demikian pula teknologi terbaru smartphone.

“lewat smartphone dan fasilitas internet didalamnya, siapa pun bisa memperoleh informasi,” katanya. Namun karena masyarakat kurang kritis, lanjut dia, terlebih kaum milenial yang cenderung instan, informasi tersebut bisa ditelan begitu saja tanpa disaring.

“sehingga kita gampang diprovakasi, gampang diadu domba. Akhirnya, terjadi konflik di Media social dan berimbas pada perseteruan didunia nyata,” jelas anggota MPR periode 1999-2003 itu. “itu bisa merusak pemahaman kebangsaan kita, merusak persatuan dan tatanan masyarakat kita,” tambahnya.

Karena itu, agar generasi milenial memiliki kesadaran diri yang tinggi tentang posisi dan potensi mereka serta masyarakat punya daya kritis yang mendorong terus berkarya, literasi perlu diawali dari lembaga pendidikan. “pendidik atau dosen yang muda-muda inilah harus berliterasi dan kita bekali dengan wawasan industry 4.0, tantangan dan peluangnya,” kata Jakob.

 

Sumber: Jawa Pos. 7 Mei 2019