Penemu Larva Trichinellosis di Indonesia. Kompas. 10 November 2015.Hal. 16

“Truchinellosis” adalah makhluk berupa larva atau hewan dalam bentuk awal yang perkembangannya secara metamorphosis, yakni mengalami perubahan fisik atau struktur setelah kelahiran atau penetasan. Keberadaan larva itu tidak berefek ketika masih bersemayam dalam tubuh hewan, seperti babi, sapi, kuda, dan sejumlah hewan liar. Namun, larva “trichinellosis” bisa menjadi sumber penyakit yang menimbulkan gangguan pernapasan, pnemumonia atau radang infeksi akut pada paru, hingga berujung kematian bagi manusia.

OLEH FRANS SARONG

            Keberadaan larva trichinellosis pada tubuh hewan beserta ancamannya itu merupakan hasil temuan ilmiah Andrijanto Haufeson Angi. Ia adalah dokter hewan yang pakar zoonosis disease, yakni infeksi yang ditularkan hewan vertebrata-hewan bertulang punggung yang mudah digerakkan-kepada manusia atau sebaliknya. Hasil temuan melalui riset tahun 2013/2014 itu sudah dipublikasikan melalui jurnal internasional dan nasional yang direkomendasikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Namun, pengukuhan hak paten atas temuannya tersebut masih harus menunggu proses karakterisasi yang adibutuhkan untuk penamaan spesies larva itu oleh penemunya.

“Berbagai pihak berkompeten dalam dan luar negeri sudah mengakui kalau saya adalah ilmuwan pertama di Indonesia sebagai penemu larva trichinellosis pada hewan beserta ancamannya terhadap kehidupan manusia. Penelitian saya sejak awal hanya afokus pada upaya menemukan jenis larvanya itu. Proses risetnya tanpa menyertakan tahapan karakaterisasi untuk penamaan spesiesnya. Tahapan itu yang masih harus di lakukan,” ujar Andrijanto Hauferson Angi yang ini Ketu Program Studi Kesehatan Hewan Politani Negeri Kupang, Nusa Tenggara Timur, di Kupang, Selasa (3/11).

Diakui, tahapan karakterisasi larva trichinellosis khas Indonesia juga merupakan bagian dari riset yang harus dijalani. Waktu pelaksanaannya bisa singkat saja, tetapi biaya yang dibutuhkan tidak ringan, setidaknya mengacu kemampuan kocek sang ilmuwan yang adalah ayah dua anak usaha kuliner dengan cita rasa khas NTT, yakni usaha masakan dengan menu se’i babi yang belakangan tumbuh marak di Kupang, bahkan NTT, yang mayoritas Kristen Katolik dan Protesetan, bagi pengunung non-Muslim, mereka umumya akrab dengan ungkapan, “Belum ke Kota Kupang tanpa menikmati gurihnya se’I babi!”

Se’I adalah untaian daging yang dimasak melalui proses pengasapan di atas arang kesambi (Schleicheraoleosa), yakni jenis kayu yang sangat padat dan keras. Berbagai pihak mengakui, pengapasan daging bersumber dari arah kayu itu meninggalkan aroma khas yang membangkitkan selera makan.

Usaha kuliner se’I babi di Kota Kupang memang berkembang pesat. Kota yang kini berpenduduk sekitar 400.000 jiwa itu memiliki setidaknya lebih dari 20 rumah makan dengan menu utama se’I babi.

Andrijanto tidak menutup mata atas menjamurnya usaha kuliner khusus itu, terutama di Kota Kupang. Namun, sebagai ilmuwan, ia merasa berkewajiban memublikasikan hasil temuannya. Modelnya tentu saja disertai beberapa tawaran sebagai langkah antisipasi. Dengan demikian, diharapkan usaha kuliner khas tersebut tidak harus gulung tikar. Sementara manusia yang mengonsumsinya tidak harus menjadi korban akibat keganasan larva trichinellosis.

Apa yang mesti dilakukan agar kuliner tersebut tetap terjaga keberlangsungannya dan pengunjung tetap tanpa rasa ragu mengonsumsi se’I babi kesukaannya?

Atas pertanyaan itu, Andrijanto menawarkan sejumlah langkah yang harus ditaati sebagai antisipasinya. Di antaranya lauk daging sebelum dihidangkan sebelum dihidangkan supaya dimasak hingga matang melakui proses pemanasan bersuhu minimal 71 derajat celcius.

Menurut catatannya, di berbagai rumah makan di Kota Kupang, daging se’I dihidangkan setelah dibakar atau diasapi di atas arang bersuhu sekitar 50 sampai 60 derajat celcius. Suhu proses pengasapan itu harus ditingkatkan sesuai dengan standarnya sehingga tidak menularkan larva trichinellosis kepada para konsumennya.

Saran lain, babi atau hewan lain yang dipotong harus dilengkapi sertifikat bebas penyakit. Sertifikat itu diterbitkan oleh laboratorium khusus dinas peternakan setempat. Agar tidak bertele-tele, penerbitan sertifikat harus oleh tim teknis khusus yang diketahui berkemampuan bekerja secara cepat.

“Juga harus gencar melakukan sosialisasi terkait ancaman penyakit yang bersumber dari penularan larva yang bersumber dadri penularan larva trichinellosis itu. Sosialisasi dimaksud harus dilakukan oleh berbagai pihak terkait, seperti dokter hewan, sarjana peternakan, dan petugas dari lembaga terkait lain,” ucap Andrijanto.

Larva trichinellosis berpotensi mengendap dalam tubuh berbagai jenis hewan, terutama babi, sapi, dan kuda. Namun, Andrijanto mengaku, secara kasatmata sulit memastikan hewan tertentu sedang dalam kondisi bebas atau mengidap larava trichinellosis. Alasannya, tampilan fisik hewan yang sedang mengida larva itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda khusus. Apalagi keberadaan larva trichinellosis bukanlah sebagai penyakit ketika sedang bersemayam dalam tubuh hewan.

Temuan Andrijanto tentang keberadaan larva trichinellosis layak diapresiasia sekaligus diharapkan menginspirasi ilmuwan lain di NTT yang terkesan senyap terkait riset ilmiah. Bagi instansi terkair, diharapkan dapat membuat langkah antisipasi agar masyarakat terhindari bahaya.

KOMPAS, SELASA, 10 NOVEMBER 2015