Dihantam Corona, Kurs Rupiah Jebol Rp 16.000 per USD. Menkeu Sri Mulyani yang Sempat Diisukan Mundur, Sebut Skenario Terburuk, Pertumbuhan Ekonomi 0%

 

SURABAYA PAGI, Surabaya – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati kembali dihantam kritik, menyusul kurs rupiah yang melemah menjadi Rp 16.170 per Dolar AS, Jumat (20/3/2020). Pelemahan kurs rupiah dipicu kepanikan investor akibat wabah virus Corona (Covid-19) di Indonesia yang terus meningkat. Apalagi Sri Mulyani mengungkap skenario terburuk pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terdampak Corona, bisa di level 2,5-0%. Sejumlah pihak mendesak agar Sri Mulyani mundur dari Menkeu. padahal, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu termasuk Tim Ekonomi Jokowi yang diandalkan.

Imron Mawardi, pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair) mengakui Menkeu Sri Mulyani sempat Diisukan mundur. Tapi sudah di klarifikasi dan kabar mundur itu hoax (berita bohong). Meski begitu, menurut Imron, Sri Mulyani tetap harus bertanggung jawab sebagai Menkeu, menyusul hantaman kurs rupiah yang jebol di level Rp16.000 per dolar AS.

“Memang tidak mudah menjadi Menteri Keuangan di tengah kondisi pasar yang seperti ini. Namun jika nantinya Sri Mulyani benar-benar akan mundur maka dia harus memberikan solusi untuk perekonomian Indonesia saat ini,” Imron Mawardi dihubungi Surabaya Pagi, Jumat (20/03/2020).

Jika nantinya Sri Mulyani mundur, menurut Imron, penyebabnya adalah ketidakpercayaan pasar terhadap kebijakan yang dibuatnya. “Ya semoga saja pengunduran diri itu tidak terjadi,” cetus mantan wartawan ini.

Jamhadi, pengusaha yang juga Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim ini berharap Sri Mulyani tak mundur. “Seorang negarawan harus berani melakukan terobosan di tengah pandemi seperti ini, jangan malah mengundurkan diri,” ujar Jamhadi dihubungi terpisah.

“Jika nantinya mundur pun saya rasa itu tidak memberi solusi untuk memperbaiki perekonomian Indonesia kedepannya,”  imbuh Jamhadi. Menurut Jamhadi, harusnya saat ini yang harus dilakukan Sri Mulyani adalah saling terbuka dan duduk bersama dengan para ahli yang dirasa mumpuni untuk membicarakan mengenai masalah perekonomian Indonesia yang diterpa Covid-19.

Ekonomi Kian Suram

Teddy Saputra, Head of Family Business Center dan Dosen Fakultas Manajemen & Bisnis Universitas Ciputra, mengungkapkan hal sama. saat ini belum ada sosok seperti Sri Mulyani di Indonesia. “ Kebetulan saya juga mengikuti perkembangan ekonomi, menurut saya Sri Mulyani merupakan sosok yang cepat bertindak. kalau mundur saya belum melihat sosok yang dapat menggantikan Sri Mulyani,” katanya.

Mengenai kurs Rupiah yang melemah, Teddy mengatakan naik-turunnya kurs hal biasa. Namun situasi saat sulit diprediksi. “Karena kenaikan dolar akan memukul beberapa usaha. Terutama pelaku usaha ekspor impor. Kalau cuma naik turunnya dolar bisa kita antisipasi. Namun yang menjadi masalah ketika tidak bisa diprediksi. itu yang terjadi sekarang” ungkapnya.

Mengenai pertumbuhan ekonomi yang suram sebagai dampak Corona, menurut Teddy, pemerintah memprediksi dampak itu hingga Mei 2020. Namun kalangan usaha dan perusahaan swasta berbasis di luar negeri memprediksi dampaknya justru masih 6 sampai 8 bulan kedepan. “Sebetulnya ada masalah lain seperti sengketa Saudi dengan Rusia yang membuat anjlok harga minyak mentah dan perang dagang. Namun yang membuat cukup parah adalah Covid-19 di Indonesia,” ungkapnya.

Dampak Pasar

Gigih Prihantono, Pengamat Ekonomi Unair mengatakan, Pelemahan kurs rupiah hingga Rp16.000 ke Dolar AS tak lepas dari telatnya Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga di tengah pandemi Covid-19. “Intervensi di dalam BI terlambat. Kan baru kemarin (19/3/2020) BI menurunkan suku bunga 25 BPS (menjadi 4,5 persen). Harusnya dia sudah ancang-ancang menurunkan suku bunga ketika Indonesia masih dalam taraf kosong ( kasus Covid-19). Ketika kemarin, kita akhirnya terlambat,” papar Gigih.

Ia mengatakan, kenaikan suku bunga ini perlu diikuti dengan kenaikan suku bunga kredit. Sebab, saat ini Indonesia sedang mengalami perlambatan perekonomian. Jika BI tepat dalam mengambil kebijakan, ia memprediksi rupiah bisa menguat di angka  Rp15.000 sampai Rp14.000 per Dolar Amerika Serikat.

Ia mengatakan, selain wabah virus Corona, Indonesia juga dihantam oleh harga minyak dunia yang terlalu rendah yakni 20-an dolar Amerika Serikat perbarel. Kondisi ini berdampak pada komoditas Indonesia seperti Sawit dan Batu Bara.

Melemahnya rupiah bisa berdampak pada naiknya harga-harga barang di pasaran. Sebab, saat ini kebutuhan impor Indonesia masih besar.

“Nilai tukar turun, kita akan kekurangan dolar. Bagaimanapun impor kita besar, bahan baku beberapa masih impor. Sehingga harga-harga lebih mahal,” terang dia.

Skenario Terburuk

            Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani member skenario terburuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah penyebaran virus Corona (COVID-19). Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa di level 2,5-0%. Banyak lembaga internasional yang sudah membuat skenario pelemahan pertumbuhan ekonomi global gara-gara Corona. “Di Kemenkeu buat beberapa skenario, katakan jika skenario durasi covid berapa lama, berapa bulan, dan kemungkinan terjadi pergerakan yang dipersempit dan jika terjadi lockdown,” kata Sri Mulyani usai hasil rapat terbatas (ratas) mengenai kebijakan moneter dan fiskal menghadapi dampak ekonomi pandemi global covid-19 melalui video conference, Jumat (20/3/2020).

Skenario yang dibuat kementerian keuangan juga memasukkan aspek seperti perdagangan internasional, penurunan harga minta mentah dunia, penerbangan, okupansi kamar hotel, ketersediaan bahan pokok dan kesehatan, hingga terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK), serta terjadi lockdown.

            Menurut dia kalau semua aspek terjadi, maka pertumbuhan perekonomian Indonesia akan berada di level 2,5% bahkan di level 0%. Skenario pedagang antar internasional dengan China dan negara lain, dan penerbangan dan hotel dan konsumsi RT dan terutama konsumsi bahan pokok dan kesehatan. Kemungkinan terjadi disrupsi tenaga kerja dan pengurangan tenaga kerja.

“Jika masalah jauh lebih berat dan durasi COVID lebih dari 3-6 bulan dan terjadi lockdown dan perdagangan internasional drop di bawah 30%, sampai dengan tadi beberapa penerbangan drop 75% hingga 100%, maka skenario bisa menjadi lebih dalam pertumbuhan ekonomi bisa 2,5-0%,” jelas Sri Mulyani.

Meski demikian, Sri Mulyani mengaku belum bisa menyampaikan secara pasti skenario yang pas untuk mengatasi kondisi virus Corona saat ini seperti apa. Menurut dia, pemerintah masih tetap akan menjaga pertumbuhan ekonomi diatas 4% melalui stimulus yang sudah diterbitkan, baik dari fiskal, moneter, maupun sektor keuangan.

“Kami nggak berharap itu terjadi makanya safety nett dan mendukung sektor usaha berjalan harus dilakukan. ini fokus yang kami lakukan dengan Menko, BI, OJK untuk bisa membantu maksimal ke mereka,” ungkapnya.

Sudah Diingatkan Lama

            Sebelumnya, ekonomi senior DR. Rizal Ramli yang sejak 1,5 tahun selalu sudah mewanti-wanti akan datangnya krisis langsung angkat bicara. menurutnya, tim ekonomi Yang dimiliki Presiden Joko Widodo saat ini memang benar-benar raya dan hanya bisa memberi bisikan angin surga. “ sudah diingatkan potensi krisis sejak 1,5 tahun yang lalu dan alternatif-alternatif juga solusi, tapi keminter dan jumawa.” ujarnya, Kamis (19/3).

“Padahal (tim ekonomi Jokowi) tidak punya track record “turn around” makro ataupun korporasi. Yang ada pembisik-pembisik angin surga,” sambung Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu.

Dia mengurai bahwa rupiah jebol karena komponen impor terlalu besar untuk kebutuhan dalam negeri, harga kebutuhan rakyat naik dan adanya panic buying. N byt/adt/jkl

            Sumber: Surabaya Pagi. 21 Maret 2020. Hal.1,4