Di mana ada kemauan Dmaka di situ pula ada untuk sukses terus dipelihara dan diperjuangkan, maka kesuksesan pun akan segera hadir.

Meski tidak memiliki pendidikan tinggi, bermodalkan keinginan kuat dan ketekunan, banyak contoh orang yang berhasil menemukan kesuksesan dalam berbisnis.

Kisah Saiful Anam salah satunya. Pria berusia 44 tahun asal Kabupaten Lamongan, Jawa Timur ini mampu mengubah hidupnya menjadi seorang miliuner.

Saiful adalah lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia tidak punya keinginan sekolah tinggi, namun punya cita-cita menjadi pengusaha sukses.

Lulus SMP tahun 1992, ia mengadu nasib ke Ibukota Jakarta dengan modal ongkos seadanya dari sang nenek. Tidak punya keahlian apa pun, Saiful bekerja sebagai pencuci piring di sebuah warung pecel lele yang masih milik keluarga bapaknya.

Dua tahun menjalani profesi sebagai pencuci piring, Saiful punya ide untuk membuka warung pecel lele kaki lima. Namun, saat itu ia tidak punya modal sama sekali.

Dari situ ia bertekad untuk mengumpulkan modal. Maka, ia pun mencoba membantu sebuah warung pecel lele di kawasan Jakarta Timur. Karena dikenal sebagai pemuda jujur dan pekerja keras, sang pemilik menawarkan modal kepada Saiful untuk membuka bisnis sendiri dengan sistem bagi hasil.

Tanpa pikir panjang, pria yang kini mempunyai dua orang anak ini langsung menerima tawaran sang bos. Namun di pertengahan jalan, mereka berpisah. Saiful merasa percaya diri bisa mengembangkan usaha dengan resep sendiri.

la pun mencari tempat di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sayang, di tempat itu ia berkali-kali harus pindah lapak karena kena gusur. Bahkan di tahun pertama bisnis sendiri, Saiful harus berpindah tempat hingga enam kali. “Saat itu saya sempat ingin menyerah dan balik kampung saja,” kenangnya. Baru di tahun 1997, usaha pecel lelenya aman dari gangguan pihak keamanan. Bisnis lelenya kian diminati banyak konsumen. Namun, saat itu Saiful mulai kepikiran menambah lagi pemasukan dengan menjual sepatu.

Ceritanya berawal dari konsumen warungnya yang menceritakan peluang berbisnis sepatu. Tertarik dengan kisah itu, Saiful pun memanfaatkan tempat di depan warungnya sebagai lapak sepatu. Ia mengambil sepatu dari Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Hampir lima tahun menjalani jualan sepatu, otak bisnis Saiful kian terasah. Ia meyakini, peluang bisnis sepatu lebih menjanjikan daripada jualan pecel lele. Namun, tentu saja Saiful tidak melepas bisnisnya warungnya, ia menitipkan ke sang istri.

Untuk mendapatkan harga lebih murah dengan kualitas bersaing, Saiful memberanikan diri berangkat langsung ke China pada tahun 2002. Kebetulan di sana ada salah seorang rekan bisnisnya.

Di Negeri Tirai Bambu itu, Saiful membelanjakan hingga Rp 10 juta untuk belanja. la membeli aneka sepatu, kaos, tas, souvenir dan pernak-pernik fesyen anak muda.

Sepulang dari sana, Saiful langsung menjajakan produknya di sebuah kios yang ia sewa di daerah Jakarta. Aktivitas tersebut ia jalan hingga tiga tahun.

Sempat kena tipu

Namun musibah datang di tahun 2008 saat jualan sepatunya mengalami kerugian hingga nyaris bangkrut. Saat itu, ia ditipu konsumen yang membeli dalam partai besar dengan jumlah kerugian mencapai Rp 30 juta.

Ditambah lagi penjualan sepatunya mulai stagnan karena mulai banyak pesaing. Terlebih kompetitor Saiful memiliki modal lebih kuat, sehingga mampu menjual dengan harga lebih murah. Kondisi itu membuat nya sulit bersaing, sehingga sepatu dagangannya mulai jarang yang melirik.

Saat itu, saking depresinya, Saiful memutuskan untuk rehat sejenak dari bisnis sepatu. Ia pun memilih untuk kembali menkuni bisnis warung pecel lelenya.

Namun di pertengahan tahun 2010, Saiful bertemu dengan kenalan lamanya yang menekuni usaha ekspor impor tekstil. Kebetulan rekannya itu juga punya bisnis garmen di Bandung.

Setelah ber diskusi panjang lebar, Saiful kembali memiliki semangat untuk bangkit dan menjalani kembali bisnis sepatu nya. “Saya banyak mendapatkan pelajaran terkait bagaimana membangun dan mengatur produksi barang,” tegasnya.

Satu hal yang pasti, ketika mampu mengatur produksi barang, maka cuan yang akan hadir pun jauh lebih besar di bandingkan hanya sebagai penjual.

Dari situ ia bertekad untuk tidak sedekar jadi pedagang sepatu, tapi juga menjadi produsen yang memproduki sepatu.

 

Sumber: Kontan Mingguan. 12 Juli 2021. Hal. 22