Oleh Prita H. Ghozie (Founder & CEO ZAP Finance, www.zapfinance.co.id, @PritaGhozie)

 

Tidak ada orang yang ingin sakit. Namun, jika hal itu terjadi, pastinya akan berdampak pada kehidupan seseorang maupun keluarganya. Selain bakal mengalami kesulitan secara fisik dan mental, tidak sedikit juga berdampak ke situasi keuangan.

Saat tulisan ini dibuat pun nenek tercinta saya yang berusia 88 tahun sedang dirawat di rumah sakit. Belum ada satu minggu, biaya perawatan sudah mencapai puluhan juta rupiah. Dengan tingginya biaya kesehatan, maka menjadi sangat penting bagi setiap keluarga untuk memiliki dana kesehatan. Setidaknya, ada beberapa langkah yang dapat diambil.

Pertama, membuat dana darurat kesehatan. Di saat keadaan darurat seperti ini, dana darurat menunjukkan keperkasaannya. Musibah sakit bisa menimpa siapa saja dan biaya yang diperlukan bisa luar biasa besar. Bila tidak punya dana darurat, saya pastikan solusi Anda: menggerus penghasilan bulan itu atau pada akhirnya berhutang dengan pinjaman dana tunai atau kartu kredit.

Jumlah yang sebaiknya dipersiapkan untuk dana darurat kesehatan adalah jumlah anggota keluarga dikalikan Rp 10 juta. Misalkan, anggota keluarga ada empat orang, maka saaldo yang perlu disiapkan adalah Rp 40 juta. Jumlah ini akan digabuung dengan dana darurat umum dan bisa ditempatkan di tabungan atau deposito bank. Jika jumlahnya sudah melebihi ideal, maka selebihnya bisa disimpan dalam bentuk reksadana pasar uang atau logam mulia.

Kedua, BPJS Kesehatan. Selain diatur dalam perundangan, saya juga sangat menyarankan setiap masyarakat untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan. Mungkin tidak semua keinginan setiap individu bisa dipenuhi secara maksimal. Tapi setidaknnya, BPJS Kesehatan menjamin layan fasilitas kesehatan bagi setiap anggota keluarga.

Ketiga, asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan rawat inap akan memberikan penggantian biaya kesehatan kalau dirawat di rumah sakit akibat terkena penyakit ataupun kecelakaan. Jumlah penggantian tergaantung dari kontrak kesehatan yang di ambil, umumnya dengan acuan biaya kamar rawat inap.

Asuransi kesehatan berbeda dengan asuransi penyakit kritis. Biasanya, fitur asuransi kesehatam memberi penggantian sesuai tagihan rumah sakit. Sedang asuransi penyakit kritis memberi santunan uang tunai bila jenis penyakit yang diderita sesuai kriteria yang di maksud dalam daftar polis.

Maksimal 5%

Berbeda halnya dengan asuransi jiwa dan asuransi kesehatan, seseorang mungkin tidak bisa mengukur berapa jumlah nilai pertanggungan penyakit kritis yang ideal untuk masing-masing . Anda bisa saja menyiapkan pertanggungan Rp 1 milyar, tetap tidak cukup. Bisa juga hanya Rp 250 juta, namun tidak terpakai sama sekali.

Pahamilah, kriteria yang diberikan cukup rumit, sehingga Anda disarankan konsultasi dengan dokter pribadi mengenai resiko terkena penyakit yang dimaksud. Premi asuransi penyakit kritis cukup mahal, sehingga Anda wajib mematuhi batasan kemampuan untuk premi.

Alokasi pos pengeluaran premi asuransi, jumlahnya maksimal 5% dari penghasilan bulanan. Misalnya, gaji Anda adalah Rp 10 juta per bulan. Maka, jumlahkan semua premi asuransi yang wajib Anda bayar setiap bulan-asuransi jiwa murni, asuransi kendaraan, dan lainnya-pastikan nilainya tidak lebih dari Rp 500.000. Anda masih harus mengalokasikan gaji untuk hidup rutin, tabungan dana darurat, investasi.

Keempat, membuat tabungan, membuat tabungan kesehatan. Berbeda dengan dana darurat, tabungan kesehatan ditujukan lebih untuk masa pensiun. Masa di mana Anda mungkin sudah tidak bekerja kantoran, sehingga tak ada fasilitas bantuan kesehatan, juga simpanan yang ada mulai dipergunakan untuk membiayai hidup. Ingatlah, semakin banyak usia, resiko sakit juga lebih besar. Sebab itu, penting bagi setiap orang untuk menjaga kesehatan dengan minum vitamin, rajin kontrol ke dokter, dan melakukan cek kesehatan.

“Sehat bukan segalanya, namun tanpa kesehatan, segalanya menjadi tak berarti. Di masa kini, menjaga agar tetap sehat dan memulihkan keadaan sakit menjadi sehat kembali, kadang memerlukan uang yang tak sedikit. Anda wajib mengatur keuangan keluarga masing-masing sehingga Anda senatiasa siap menghadapi keadaan darurat kesehatan yang sewaktu-waktu dapat menimpa. Sehatkanlah keuangan Anda demi masa depan kehidupan yang indah, sehat, dan sejahtera”. Ini adalah kutipan kata pengantar dari Endang R. Sedyaningsih–2010 di buku pertama karya Prita Gozie: Menjadi Cantik, Gaya, & Tetap Kaya.

Live a Beautiful Life!

 

Sumber: Kontan.5-11-Februari-2018.Hal_.11