Palu, kompas- pemahaman kaum ibu akan pentingnya air susu ibu meningkat seiring intensifnya penyuluhan. Air susu ibu meningkat ketahanan anak terhadap penyakit pada masa awal tumbuh dan kembang. Simpulan itu diperoleh saat berdialog dengan para ibu di pos pelayanan terpadu nusa indah II, kelurahan Ujuna kecamatan palu barat kota palu, Sulawesi tengah, kamis (18/5). 3 tahun terakhir sebanyak 30 ibu rutin mengikuti penyuluhan yang diadakan pemerintah setempat bekerja sama dengan wahana visi Indonesia.
Rohayati (42) peserta menuturkan saat anak keenamnya lahir air susu ibu (ASI) diberikan berselingan dengan susu formula. Dalam perkemabangannya, anak hanya menyukai susu formula. Saat umur 4 bulan anak terserang diare disertai demam. Sempat dibawah ke rumah sakit tetapi anaknya tak tertolong anaknya meninggal. “Itu pelajaran penting untuk saya. karena dari posyandu ini saya jadi sadar pentingnya ASI untuk ketahanan tubuh anak dari serangan penyakit,”ujarnya. Saat anak ketujuhnya lahir tahun lalu, rohyanti memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan berkat intensif mengikuti penyuluhan di posyandu. Ia baru memberikan makanan pendamping saat anaknya berumur tujuh bulan, sesuai yang disampaikan penyuluhan saat posyandu.
Saat ini anak ketujuhnya berumur delapan bulan. “ia jarang sakit. Kalaupun sakit, itu hanya yang ringan-ringan, seperti panas. Penyakit juga tidak lagi (menyerang)”katanya. Rohayati mengaku kecolongan mengurus ASI untuk anak keenamnya karena sibuk membantu suami mengurus kebutuhan keluarga waktu itu. Kelima anaknya yang lain diberi ASI eksklusif 4-5 bulan pertama.
Novita (27), peserta lainnya, menceritakan perbedaan anaknya yang pertama dan kedua karena asupan ASI. Saat anak pertama lahir, ibu rumah tangga itu hanya memberikan susu formula karena ASI tidak keluar. Hingga umur setahun, anaknya itu sering sakit. Kondisi itu berbeda dengan anak keduanya. Sejak lajir, dirinya memberikan ASI ekslusif kepada anak itu hingga umur enam bulan. ASI masih terus diberikan bersama makanan pendamping hingga satu tahun satu bulam saat ini.
Novita bergabung dengan posyandu nusa indah II pada 2015. “saya mendapat pengetahuan pentingnya menyusui sampai pada batas paling singkat di sini. Saya pun baru tahu bagaimana caranya kalau ASI tidka keluar saat kelahiran anak pertama yaitu dengan merekatkan anak di dada tanpa pakaian”ujarnya.
Ketua kader posyandu nusa indah II, hawai radi (53) mengakui pemahaman para ibu tentang pentingnya ASI meningkat. Dalam setiap pertemuan sebulan sakali peserta mengungkapkan pemberian ASI ekslusif serta makanan pendamping bergizi. Ardian batutung, fasilitator kesehatan wahana visi Indonesia sulteng, mengatakan intensifnya penyuluhan tentang ASI berangkat dari survey kecil yang mengungkapkan banyak anak berumur di bawah satu tahun diberi makanan yang tidak bergizi.
Sumber: Kompas.-19-Mei-2017.Hal_.18

