Pepaya tak Bikin Payah.Jawa Pos.4 Maret 2014.Hal.40

SURABAYA – Tumor yang diderita beberapa tahun silam adalah pelajaran berharga bagi Max Gahara, general manager incharge Garden Palace Hotel (GPH) Surabaya. KIni dia lebih selektif memilih asupan makanan untuk tubuihnya. Dengan sembarang mengonsumsi aneka menu, akibatnya bisa fatal. Penyakit tidak sembuh, tetapi malah terus berkembang. Aktivia di berbagai organisasi social itu mengaku lebih banyak mengonsumsi buah dan salad sayur. “sudah dua tahun tidak makan makanan yang digoreng atau mengandung banyak penyedap,” katanya. Awalnya tentu ada rasa tidak nyaman di lidah. Sebab, sebelumnya dikatakan Max adalah raja kuliner. Makanan berbahan apa pun tidak ragu disantapnya. “Bahkan, kalau lagi makan sop buntut, whaa bisa loupe itu buntut sapi keberapa yang saya habiskan,” candanya.

Dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan bagi ayah dua anak itu untuk beradaptasi dengan pola makan baru yang mayoritas direbuaatau steam. Sebagai pelengkap alias cemilan, Max memilih buiah-buahan.

Awalnya tentu terasa lemas dan hambar. Namun, setelah kontinu menerapkan gaya makan seperti itu, pria yang memiliki ide untuk membuka pusat kuliner megah di sepanjang Kalimas tersebut mengaku merasakan perubahan pada tubuhnya. Selain lebih sehat, penyakitnya berangsur hilang.

Nah, untuk melawan rasa lemas, Max punya satu rahasia. Yakni, rutin mengonsumsi papaya. Pepaya ternyata punya kashiat yang luar biasa. Tidak hanya mengatasi payah di tubuh, tetapi secara tidak langsung juga mampu membuat system imun, “Karena itu kan kaya serat, jadi mampu memperlancar pencernaan. Oteomatis, kalau seperti itu, racun-racun yang tidak berguna bisa ikut terbuang,” katanya.

Kini dalam sehari Max mengaku bisa menghabiuskan dua buah papaya sekaligus. Itu dibaginya untuk tiga kali waktu makan. Buah-buahan lain tetap dikonsumsi. Namun, jumlahnya terbatas. (nji/c6/dos)

 

Sumber : Jawa Pos 4 Maret 2014. Hal. 40