Peran Ortu Menjaga Mental Anak Pejuang kanker.

Hindari Menunjukkan Emosi Negatif atau Mengeluh di Depan Anak

Jawa Pos. 18 Februari 2024. Hal.20

International Childhood Cancer day atau Hari Kanker Anak Sedunia pada 15 Februari merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kanker pada anak serta support bagi anak dan remaja pejuang kanker, penyintas, dan keluarga mereka.

Andrew belum genap 8 tahun ketika didiagnosis menderita kanker darah atau leukimia. Berat badannya turun drastis. Tiap empat jam sekali menggigil. Tanpa tahu sakit apa dia sebenarnya. Di rumah sakit, Andrew hanya mendengar kata “kanker” dan “leukimia”.

“Kami tidak memberi tahu kalaui itu penyakit yang berisiko mengancam jiwa. Kami hanya beri tahu protokol pengobatannya panjang sekali, tapi setelah itu tidak ada pengobatan lagi,” cerita sang mama, Tania Mursalim, kepada Jawa Pos.

Tania berusaha membuat putranya nyaman selama menjalani kemoterapi dan rawat inap. Meski, hatinya sendiri hancur melihat Andrew harus berkali-kali ditusuk jarum, cek laboratorium, pasang infus, hingga efek kemoterapi. Dia takut Andrew trauma.

“Sempat Andrew kejang 4 jam karena efek kemoterapi. Kritis, masuk PICU 7 hari, pembuluh darah di kepalanya pecah. Kami nggak nutupin kalau memang sedih dan nangis, tapi kami tidak mengeluh,” bebernya.

Dalam perjalanan kemoterapi rawat inap sepekan sekali selama kurang lebih 6 bulan, dia membawa berbagai perlengkapan yang bisa membuat Andrew nyaman. Mulai selimut, bantal, hingga mainan kesukaan Andrew.

“Tapi yang terpenting, kami selalu bilang bahwa mama-papa sayang banget sama Andrew. Kita akan melewati ini semua sama-sama. Dan, jangan pernah ngeluh di depan anaknya,” lanjut Tania. Peran dokter yang merawat dengan sangat care juga membuat prosesnya makin nyaman dijalani Andrew. Salah satunya, dr Haridini Intan Setiawati Mahdi SpA(K) dari RS Kanker Dharmais, Jakarta.

Menurut dia, keputusan ada di tangan ortu. Dalam kondisi seperti itu, anak menggantungkan hidupnya kepada ortu. Karena itu, ortu harus kuat. Sebagai caregiver kanker, Tania hanya memfokuskan diri untuk mengurus keperluan pengobatan Andrew. Semua rasa lelah, stress, sedih, dan takut dia singkirkan dulu.

“Saya hanya bisa terus berdoa dan belajar segala hal yang berkaitan dengan leukimia dan kanker. Ikut gabung parents club Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI). Kami hanya ingin Andrew sembuh,” ungkapnya.

Psikolog Astriani Dwi Aryaningtyas membenarkan tindakan Tania. Ortu dengan anak kanker perlu bijak mengelola emosinya di depan anak. Sebagai gantinya, ortu bisa meluapkan emosi negatif di tempat lain. Sebab, peran ortu sangat penting untuk menjaga kestabilan fisik dan mental anak.

“Umumnya, pejuang kanker anak akan mengalami kelelahan mental, kecemasan, dan kebosanan akibat bolak-balik faskes. Belum lagi efek terapi yang bikin mual, muntah, takut. Hal itu bisa menghambat pemulihan,” ucap Astriani Dwi Aryaningtyas SPsi MA.

Selama masa pengobatan, aktivitas anak seperti bersekolah atau bermain akan terganggu. Ortu bisa menguatkan mental anak dengan memberikan sudut pandang bahwa kondisinya spesial. Namun, yakin kan tidak ada yang berbeda dengan anak lain. Astriani juga mengatakan bahwa ortu tidak perlu membatasi aktivitas anak jika memang tidak dilarang ahlinya.

“Memberikan aktivitas yang anak suka atau rindukan bisa menghilangkan kebosanannya. aktivitas fisik yang ringan masih diperkenankan asal mengetahui batas kemampuan. Jika dirasa lelah, bisa istirahat,” imbuh Health Psychology Counselor-Patient Advocate itu.

Family time, lanjut Astriani, akan meningkatkan bonding dan perasaan bahagia. hal itu baik untuk menunjang kesehatan anak. Perlahan, mental anak akan terbentuk lebih kuat untuk berjuang melawan penyakitnya. Tania dan Andrew sudah membuktikan. Setelah dua tahun berjuang, Andrew berhasil lepas dari leukemia. (lai/c7/nor)