Perjalanan Fashion tanpa Batas. Jawa Pos. 30 April 2015.Hal.27,37

SFP 2015 Dimulai

SURABAYA- Gelaran fashion terbesar di Jawa Timur kembali dihelat. Moment bertajuk Surabaya Fashion Parade (SFP) itu sudah bisa dinikmati pecinta fashion mulai tadi malam (29/4) hingga Minggu (3/5) di Convention Center Tunjungan Plaza Surabaya. Acara yang sudah menjadi agenda tahunan Kota Surabaya itu kali ini bertema infinite Voyage.

Suasana hati pertama terasa special. Sebanyak 13 desainer dari Asosiasi Perancangan dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) memamerkan karya terbaik mereka di runway yang tersedia.

Tiap Desainer Hadirkan Delapan Karya

Dian Apriliana Dewi, promotion manager Tunjungan Plaza Surabaya, mengatakan, perkembangan fashion tidak pernah berhenti, taka da batasnya. Style era ’60, ’70, dan ’80 bisa dijadikan inspirasi dan diaplikan dalam item terkini. Para praktisi bisa berkreasi. “Itulah alasan tema infinite Voyage yang kami pilih,” jelas Dian.

Ketua APPMI Denny Djoewardi mengatakan, tiap desainer menampilkan delapan karya. Modelnya bermacam-macam sesuai dengan kekhasan tiap desainer. “Ada tema masing-masing, tapi garis merahnya tetap infinite Voyage,” jelasnya.

Salah satunya karya Geraldus Sugeng yang kali ini mengangkat tema Spiky Rockstar. Busana yang merupakan perpaduan karakter punk dan rock dalam music era’80 itu dibuat karena pengaruh gaya Grace Jones. Dia adalah penyanyi ternama Jamaika masa itu. Dia juga model yang terkenal dengan gaya edgy. Kesan glamor, seksi, dan maskulin berpadu tanpa meninggalkan didi feminim.

Busana tersebut menggunakan baha duches, organza, lasser cutting leather, creative fabric, gliter spandex, 3D brokat tribal, 3D brokat wavy, dan fiber tulle. “Menambah kesan mewah dari rock star,” ungkap Geraldus.

Lain halnya dengan delapan busana karya Elok Re Napio yang bertema De Mousse. Busana yang terinspirasi dari lumut di Hutan Singgalang, Sumatera Barat, tersebut memberikan ruang bagi Elok untuk berkreasi tanpa batas. Menggunakan tenun silungkang, tenun pandaisikek, dan tenun kubang yang merupakan kain tradisional Sumatera Barat, busana rancangan Elok terasa begitu Indonesia. “Tribal look dari Nias juga saya aplikasikan pada seluruh koleksi busana ini,” ujar Elok.

Hari ini penonton SEP dimanjakan parade busana dari brand-brand established pilihan dengan masing-masing koleksinya.

Sumber : Jawa-Pos.-30-April-2015.Hal_.2737