Perkembangan Arsitektur Kolonial di Surabaya (28)

Bangunan Monumental Bergaya Art Deco

Radar Surabaya 25 Maret 2024. Hal.3

Hildan Sepka A.

Rumah sakit Darmo, bangunan cagar budaya yang saat ini masih eksis. Bahkan, mengalami pertumbuhan seiring peningkatan pelayanan kesehatan. Kendati gedung tua, bangunan itu tetap gagah berdiri.

 

Rumah Sakit Darmo memilikisejumlah keunikan. Struktur bangunannya sangat identik peninggalan kolonial. Ada pengaruh gaya arsitektur pada bangunan yang berdiri sejak 9 Juni 1897 itu. “Modern fungsional dan memiliki unsur gaya art deco,” ujar Dosen Arsitektur Universitas Ciputra Surabaya Freddy H Istanto kepada Radar Surabaya.

Rumah sakit Darmo itu merupakan karya dari arsitek Belanda. Namanya cukup tersohor saat itu, yaitu, Cosman Citroen.

Fasad gedung berbentuk segitiga. Polanya mengikuti struktur atap khas kolonial. Sementara pada puncak gevel terdapat ornamen menara kayu pendek.

Katanya, gevel menjadi ornamen yang identik saat era kolonial. Fungsinya sebagai karakter sebuah bangunan. Sekaligus, menjadi penanda sebuah permukiman dalam tiap kawasan.

“Gevel ini ada logo rumah sakit dengan tulisan berbunyi Salus Aegroti Suprema Lex Est yang artinya kesehatan orang sakit adalah hukum tertinggi,” terangnya.

Rumah Sakit Darmo memiliki selasar. Strukturnya ditandai dengan tiga kolam lengkung di bagian depan. Selain itu, akses utama pun berbentuk lengkung dengan ukuran lebih kecil. “Jika diperhatikan bangunan ini juga simetris,” ucap Freddy.

Selain struktur bangunan yang kental, rumah sakit tersebut memiliki taman. Konsep tersebut dipengaruhi perkembangan arsitektur Eropa. Gaya court yard itu cukup populer saat itu.

Menurutnya, art deco memiliki ciri khas khusus. Mulai desain, warna, hingga detail bangunan. Perkembangan gaya itu mampu menggeser tren sebelumnya. “Bangunan hotel lebih sederhana, minimalis, dan bentuk-bentuk yang lebih geometris,” imbuhnya. (bersambung/nur)