Perkembangan Industrialisasi di Surabaya (10)
Pabrik Rum Mulai Muncul Tahun 1855
13 Juni 2024. Hal. 6
Pada pertengahan abad kedua banyak muncul pabrik-pabrik baru yaitu penyulingan rum, arak dan minuman keras.
KARENA pada saat iitu di Hindia Belanda permintaan akan rum atau minuman berakohol ini sangat besar. Salah satunya penyulingan tertua dan paling terkenal adalah milik Mac Gillavry dna pengulingan beras milis Van Hogendorp,” kata pustakawan Sejarah Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.
Banyakknya orang Eropa yang tinggal di Hindia Belanda memang masih terbiasa dengan kebiasaan mereka mengkonsumi minuman berakohol. Oleh sebab itu permintaan akan minuman berakohol dilihat sebagai peluang yang menjanjikan oleh beberapa pengusaha. Belum lagi potensi ekspornya.
“Tak hanya penyulingan rum milik J.H. Levert saja, di tahun kemudian juga muncul pabrik bir yang lebih besar dan modern,” jelasnya.
Tahun 1929, pabrik pembuatan bir yang didirikan dikawan yang berdekatan dengan sungai Jagir Wonokromo dan jalu kereta api, yakni di kawasan Ngagel.
“Pada tahun 1931 bir buatan lokal tersebut mulia dipasarkan, tepatnya tanggal 21 November,” ujar Chrisyandi.
Produksi bir semula untuk kepentingan sendiri. Dan berjalan dengan lancar. Apalagi, sejak diberlakukannya Undang-Undang Agraria tahun 1870 kaum kapitalis mendapatkan kesempatan secara bebas menanam modal di Indonesai.
Makin banyaknya pengusaha orang-orang Eropa di Indonesia, kebutuhan akan kehidupan barat makin dirasakan. Kemudian tahun 1929 Biro Hindia Belanda yang tergabung dalam kelompok pengusaha bir yangdiberi nama Nederlandsh Indivisiche Bier Brouwerij N.V.
“Kelompok pengusaha itu rata-rata berkebangsaan Belgia. Mereka memberi nama COBRA yang akhirnya mendirikan pabrik bir di Surabaya,” tuturnya.
Pabrik ini juga memproduksi bir merk Heineken Java Bier dan Java Bouker. (bersambung/nur) Fajar Yuliyanto

