Perkembangan Industrialisasi di Surabaya (18)

Hadirnya Transportasi Angkutan yang Lebih Modern

27 Juni 2024. Hal. 6

Seiring kian berkembangannya industri di Surabaya, yang awalnya pengangkutan bahan baku dan produk industri memanfaatkan pedati dan kereta kuda, kemudian hadir kereta api dan trem.

PEDATI dan kereta kuda mendapatkan saingan ketika hadir alat transportasi baru, yaitu kereta api dan trem uap. Rel dibangun secara bertahap pada akhir abad ke-19.

Hadirnya alat transportasi yang lebih canggih dan modern juga menjadi bukti perkembangan industry yang kian maju. Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, pembangunan rel dimulai dari jalur Surabaya-Pasuruan dan Surabaya-Malang. Proyek tersebut dilakukan oleh Perusahaan Kereta Api Negara (Stattspoorwegen), yang dimulai pada 1875.

“Pembangunan jalur kereta api tersebut merupakan keputusan parlemen dan pemerintah Belanda. Ini terjadi setelah satu dekade pembukaan jalur kereta api antara Semarang dan wilayah-wilayah kerajaan di Jawa Tengah,” katanya kepada Radar Surabaya.

Pada tahun 1878, jalan besi pertama di Jawa Timur selesai dikerjakan. Sehubungan dengan hal ini, Gubernur Jendral Johan Willem van Landberge (1875-1881) datang ke Surabaya. Seperti diabadikan dalam syair yang dimuar di Bintang Timor yang termuat pada 18 Mei 1878, Soeggoeh rameh di Surabaija; Datengnja Goebernoer Van Landberge itoe namaja; Kaja dan meskin kloewar semoenja; Kapal belaboe berboeni meriam; Tinggal kwali di atas keren; Denger djindral njang soeda dating; Masak nasi setengah mateng. 

Kedatangan gubernur jendral meresmikan jalur pertama kereta api Surabaya-Pasuruan dan pembukaan pameran pertanian. Setelah acara seremonial, gubernur jendral beserta pejabat yang hadir mengawali perjalanan kereta api dari Surabaya menuju Pasuruan pada tanggal 16 Mei 1878. Perjalanan ini merupakan momentum penting yang memberi makna bahwa kereta api sebagai angkutan penumpang jarak jauh dan distribusi hasil perkebunan.

Komoditas pertanian dan perkebunan dari pedalama terdistribusikan dengan baik, sehingga mendukung Kota Surabaya semakin kuat sebagai pusat perdagangan ekspor-impor. (bersambung/nur) Fajar Yuliyanto