Perkembangan Industrialisasi di Surabaya (8)

Era Pesatnya Industri dan Dampak Perang di Eropa

11 Juni 2024. Hal. 6

Dari banyak pabrik mesin lainnya yang dibuka di Surabaya selama beberapa tahun diantaranya L.G. van Lakerveld en Com C.F. Huijsdens di Kalisosok II, Ameijden van Dujin di Kalisosok II, J. Barfield di Dapuan dan A. Wijkman di Kalimas.

PABRIK – pabrik tersebut kinerjanya cukup bagus memebrikan keuntungan besar kepada para pemiliknya. Akan tetapi sering berganti pemilik, karena pemilik adalah orang Eropa shingga harus kemabli ke tanah asal.

Tetapi para pekerja dan pengecor ini juga menghadapi masa-masa sulit, khususnya antara tahun 1865 sampai 1870. Misalnya pada tahun 1867 kondisi perdagangan yang menekan, sedikitnya kegairahan dalam industri gula. Kurangnya kepercayaan pada transaksi dan banyak lainnya.

“Hal itu disebabkan pecahnya perang di Eropa dan merugikan bagi industri pada umumnya dan terutama pada kompleks besar,” kata Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Katika kepada Radar Surabaya.

Lebih lanjut Chrisyandi menjelaskan, tidak ada pemesanan lain yang dilakuakn. Karena pabrik-pabrik mesin ini harus bekerja dengan modal besar dan wajib untuk merawat sejumlah besar pegawai permanen. Kemudia di tahun 1868 persaingan bagi industri logam, dalam kondisi leih menguntungkan jelas tidak mau mengerjakan proyek kecil demikian.

Lal pembuatan kapal sebaliknya masih memberikan keutungan memadai meskipun ada zaman buruk. Karena pelabuhan Surabaya lebih banyak dipilih daripada pelabuhan lain di timur jauh yang harus menjalani beberapa perbaikan.

“Semua lembaga industri dan juga pabrik gula serta penggilingan di Ketabang, Gubeng, Bagong, Jagir, Kara, Dadongan, Darmo, dan Patemon di kota utama dan sekitar kota, sera perusahaan galangan swasta yang memerlukan banyak tenaga kerja bumiputera telah menciptakan peluang kerja yang besar,” jelasnya.

Untuk kondisi industri di Surabaya kala itu, pekerja bekerja setiap hari, salah satunya demi kepentingan proyek pemerintah. Untuk memenuhi permintaan pabrik selalu membutuhkan ratusan tenaga kerja. (bersambung/nur)