PERKEMBANGAN transportasi di Kota Surabaya pada zaman Hindia Belanda (1800-1942) menunjukkan perubahan dari kota tradisional menjadi kota modern.

Sejarawan Kota Surabaya Aminudin Kasdi mengatakan, transportasi modern oleh pemerintah kolonial Belanda itu bukanlah satu-satunya sebagai faktor yang menyebabkan perkembangan kota Surabaya. Melainkan peristiwa tersebut tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sejarah perekonomian di Indonesin pada umumnya dan di Jawa Timur utamanya. Dimana saat itu pihak pemerintah kolonial Belanda tengah menikmati masa keemasan setelah dilaksanakannya cultuurstelsel atau tanam paksa (1830-1870) dan Opendeur Policy atau kebijakan keimigrasian (1871 dan seterusnya).

“Faktor eksternalnya ialah pada periode yang sama terjadinya revolusi industri di Eropa mencapai klimaksnya pada pertengahan abad ke-19,” ujarnya. Sementara itu pemerhati sejarah Kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, jalan pos besar yang dibangun Daendels mulai Anyer hingga Banyuwangi menjadi hubungan baik antara Surabaya dan Batavia. Selain itu, perjalanan melalui darat menjadi singkat.

Chris mengatakan, sebelum kedatangan Daendels, telah ada jalan bagus (rel) Surabaya Pasuruan yang dibuka oleh Kapten Hasselaar. Sehingga muncul ide membangun jalan serupa di sepanjang Jawa.

Setelah berkembangnya zaman, didatangkan lokomobil dari Inggris. Kereta dengan menggunakan mesin ini bisa mengangkut 250 orang dan hasil perkebu nan ini. “Inilah cikal bakal adanya kereta api di Surabaya,” tuturnya.

Menurutnya, Surabaya dan Jawa Timur mempunyai sejarah besar dalam dunia otomotif di Indonesia. Jejak mobil-mobil bermutu di dunia sempat hadir ketika Jatim menjadi pusat industri dan perdagangan di zaman kolonial. (mus/nur)