Lukisan Meses Karya Putu Wardhani

SURABAYA, Jawa Pos – Banyaknya tenaga kesehatan (nakes) yang gugur dalam pengabdianmerawat para pasien yang terserang Covid-19 membuat pelukis Surabaya Putu Wardhani tergerak. Dia mempersembahkan karya seni bagi mereka yang telah berpulang. Lukisan-lukisan itu berupa figure wajah yang kali ini tidak dibuat di atas kanvas. Tetapi, pria kelahiran 17 Juli 1994 itu menggunakan roti tawar sebagai media dan meses cokelat untuk warnanya. Hanya membekal cutter pen yang sudah disterilkan, Putu menyusun meses yang ukurannya sangat kecil itu satu per satu dengan sangat hati-hati.

“Tantangan terbesar memang pada proses peletakan meses di rotinya ya. Kalau kita nggak fokus sedikit saja, bisa buyar penataan lukisan yang sudah jadi,” ceritanya saat dihubungi kemarin (27/4). Staf kependidikan di Universitas Ciputra Surabaya itu menuturkan bahwa pembuatannya cukup memakan waktu.

Meski ukurannya kecil, satu lukisan dengan meses di atas roti tawar tersebut membutuhkan waktu 1-3 jam. Tentu itu tidak mudah. Banyak cerita saat pembuatannya. Antara lain, ketika lukisan ke-6 sudah hampir selesai, lalu ditinggal sebentar ke toilet. “Eh, pas balik, saya langsung lemes melihat dua kucing tante saya dengan enjoy main-main dengan lukisan meses di roti yang sudah hampir jadi itu,” tuturnya.

Kejadian tersebut, ujar dia, sempat membuat malas melanjutkan karyanya lagi. Namun, saat mengingat pengabdian para nakes dan kebetulan mempunyai waktu lebih banyak karena sedang work from home, Putu kembali melanjutkan project itu.

Total, ada 24 nakes yang dilukisnya dengan menggunakan meses di atas roti. Karya-karya tersebut ditampilkannya lewat Instagram @phewe17 dan Twitter putuwardhani. “Sampai saat ini, saya baru bisa melukis 24 dokter yang gugur dalam penanganan Covid-19. Karena sumber dan foto yang saya dapat juga masih terbatas,” ungkapnya.

Putu ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada para nakes lewat karyanya tersebut. Alumnus Universitas Brawijaya itu juga ingin generasi muda dapat menghargai para nakes. “Saya juga ingin menyadarkan bahwa tenaga kesehatan bukan garda terdepan, tapi terakhir. Kitalah yang terdepan ‘berperang’. Dengan menjaga diri tetap di rumah, menerapkan gaya hidup sehat, makan makanan bergizi, dan melakukan physical distancing, akan memudahkan para tenaga medis,” ucapnya. (ama/c20/nor)

 

 

            Sumber: Jawa Pos. 28 April 2020. Hal.23