PERUBAHAN IKLIM, PAGEBLUK, DAN BENCANA KEMANUSIAAN

Sangat rentan dengan cuaca.  Saya teringat kembali tentang sejawat arah wabah yang berjangkit di Eropa sekitar abad ke-13.  Arkeolog menemukan permakaman massal di London.  Mereka menduga tulang belulang itu akibat pagebluk kare na bencana iklim pada 1258.

Para peneliti beragam disiplin ilmu dari Universitas Durham di Irggris Raya menyingkap misteri pemicunya.  Mereka meryelidiki adaya interaksi antara letusan Samalas pada 1257 terhadap respon iklim dan potensi berjangkitnya Black Death, pagebluk di Eropa. Erupsi Samalas menyebabkan perubahan iklim yang cepat.  Eropa pun diterpa musim dingin yang hebat.  Kelaparan dan wabah penyakit menggilas Eropa.

Erupsi Gunung Samalias di Lombok itu meruntuhkan badannya sendiri.  Kini kita hanya menjumpai jejak kalderanya nan indah. Kita berada di negeri gunung api, yang kedahsyatan erupsi pernah mengaduk-aduk cuaca global.

Alam begitu berkuasa meng- ubah segalanya. Namun, hari ini kuasa manusia pun berkemampuan merusak alam.  Kegandrungan kita dalam mengonsumsi bahan bakar selama ini menjadi penyebab utama terjadinya perubaban iklim. Ketika iklim global menghangat, ada banyak perkara yang menghadang peradaban manusia. Lapisan kutub mencair, laut meluap, bakteri-bakteri tersingkap, dan potensi munculnya penyakit dan pagebluk baru.

Kemunculan pagebluk Corona baleh jadi salah satunya diakibatkan oleh iklim yang berubah. Semua orang tahu, virus ini mematikan, Namun, saya menganggap juga bahwa manajemen bencana.  Saat saudara kita berhasil dievakuasi dari Tiongkok dan tiba dengan selamat di Natuna, mereka menolak diterima. Prasangka ras yang berlebihan pun terjadi di berbagai negara.  Bahkan, ada juga orang- orang yang mengutuk mereka yang terkena musibah.

Celakanya, sejarah virus ini belum selesai diungkap dan saat saya melaporkan pengantar edisi ini.  Angka korbannya menembus lebih dari dua ribu.  Ia masih menghantui kita.