Remaja, khususnya laki-laki adalah menantang diri. Mencoba segala termasuk hal-hal yang menyerempet Penaklukan atas tantangan itulah membuat mereka percaya diri dan merasa dihargai orang lain.
Oleh M Zaid Wahyudi
Dua pekan terakhir, dunia media sosial digegerkan soal permainan skip chalnge (SC). Permainan fisik yang dimainkan para remaja itu menantang mereka untuk merasakan sensasi pingsan sesat setelah bagian dada ditekan keras.
Meski ramai dimedia sosial, besarnya kewaspadaan banyak pihak yang mengingatkan bahayanya membuat SC ini tak populer dikehidupan nyata.
“Tak ada teman disekolah atau sekitar rumah yang memainkannya,” kata Ade Firdaus Almauladi (17), siswa kelas XII SMAN 1 Waringin Kurung, Serang, Banten, Rabu (15/3)
Ade malah mengunggah foto parodi SC di akun Instagramnya. Dalam SC sesungguhnya, seseorang akan ditekan dadanya hingga pingsan atau kejang. Namun, dalam parodi itu, yang menekan dada pingsan dan kejang terlebih dulu.
Respons pun bermunculan, mulai yang ikut tertawa hingga mengolok-olok, “Padahal itu hanya parodi untuk mengingatkan bahayanya SC,”ujarnya.
Data Google Trends menunjukan, SC hanya ramai dibicarakan di media sosial Indonesia. Di negara tetangga, seperti Brunei, Malaysia, dan Singapura, permainan ini tidak terlalu banyak dibahas.
Secara spesifik, daerah yang banyak mengunggah kata SC pada ketenarannya pada 10-14 Maret antara lain Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Banten dan Jawa Tengah.
SC diperkirakan sudah lama dikenal di Indonesia, bahkan di beberapa negara lainm walau variasi bentuk dan namanya berbeda. Namun, semua permainan itu punya kesamaan, yakni bertujuan menghambat aliran darah dan oksigen ke orak sehinga menimbulkan sesasi kepala ringan atau perasaan “high” secara cepat.
Di Inggris, permainan serupa dinamai pass out challenge yang dilakukan dengan menunduk dan bernapas dalam-dalam selama beberapa detik dan kemudian berdiri dengan cepat. Sementara di Amerika Serikat dikenal permainan choking game (CG), yakni mencekik diri menggunakan tangan sendiri atau alat bantu.
Di AS, CG sudah ada dipertengahan 1990-an dan masih ditemukan hingga kini. Data pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menyebutkan, selama 1995-2007 ada 82 orang berumur 6-19 tahun yang tewas akibat memainkan CG. Sebagaian besar di antaranya laki-laki.
Hipoksia
Ketua Kardiologi Non-invasif Ekokardiografi dan Treadmill Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta BRM Ario Soeryo Kuncoro, yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan tekanan pada dada bisa menghambat aliran darah ke otak. Bahkan, aliran darah bisa terhenti sama sekali, tergantung dari besar kecilnya tekanan.
Jantung bekerta memompa darah kaya oksigen ke seluruh tubuh dan memompa darah kaya karbon dioksida ke paru-paru
Saat memainkan SC, tekanan pada dada akan menekan jantung bagian kanan (serambi kanan dan bilik kanan). Akibatnya, aliran darah yang kaya karbon dioksida dari bagian kanan jantung menuju paru-paru terganggu, bahkan bisa berhenti sejenak. Konsekuensinya, pertukaran karbon dioksida-oksigen di paru-paru ikut terhambat.
Dari paru-paru, darah akan mengalir ke bagian kiri jantung (serambi kiri dan bilik kiri). Dalam kondisi normal, darah pada tahap ini kaya oksigen dan akan dipompa keseluruh tubuh. Namun, karena sejak awal aliran dan karbon dioksida-oksigennya tergangu, darah yang diedarkan keseluruh tubuh jadi terganggu, bahkan sampai ke otak.”Kurangnya aliran darah dan oksigen ke otak itu bisa memicu hipoksida,”Katanya.
Kekurangan oksigen itu juga bisa merusak berbagai organ tubuh dan berakibat fatal. Kurang oksigwn berat pada otot jantung sama saja dengan menghentikan aliran darah ke jantung. Konsekuensinya, bisa muncul serangan jantung yang bisa membawa kematian. Kondisi itu akan lebih parah pada mereka yang punya masalah jantung.
Ario menambahkan, tekanan yang besar bisa membuat memar otot jantung. Kondisi ini akan menimbulkan gangguan irama fibrilasi ventrikel atau denyutan jantung yang sangat cepat. Dampaknya, pompaan darah menuju paru dan seluruh tubuh pun ikut terganggu hingga menurunkan tekanan darah. Gangguan irama jantung selama beberapa detik saja bisa membuat korban tak sadarkan diri.
Ahli neuroanatomi dab neurosains, yang juga Kepala Bagian Anatomi Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulani Manado, Taufiq Pasiak, menambahkan, hipoksia adalah kondisi fatal. Sary detik saja otak kekurangan oksigen, bisa memivu hipoksia. Jika kondisi ini berlangsung lebih dari 5 detik, seseorang akan koma dan mengalami kerusakan otak permanen.
Dibandingkan dengan semua organ tubuh manusia, otak menerima oksigen, gula, dan darah paling banyak, masing-masing sekitar 20 persen dari seluruh tubuh. Otak memiliki fungsi vital untuk mempertahankan kondisi sadar. Otak juga menentukan keberlangsungan hidup seseorang karena denyut jantung, kemampuan bernapas, dan suhu tubuh dikendalikan di batang otak.
Jika bagian otak depan yang kekuarangan oksigen, penderitanya akan pingsan dan terganggu fungsi eksekutifnya sampai kemampuan berpikirnya, termasuk dalam membuat rencana ata mengambil keputusan, hingga memicu gangguan kepribadian.
Sementara jika yang terganggu adalah otak bagian belakang akan mengganggu fungsi keseimbangan tubuh dan fungsi fisualnya. Namun, jika yang terganggu adalah batang otak, bisa menimbulkan kematian.
Taufiq menambahkan sensasi “hig” saat memainkan SC juga tak bisa disamakan dengan kondisi “high” saat mengonsumsi obat terlarang karena proses keduanya berbeda di otak. “SC membuat hipoksia, sedangkan konsumsi obat terlarang memengarugi keseimbangan kimiawi otak,”ujarnya.
Pribadi Unik
Namun, remaja tetaplah remaja. Sebagian dari mereka memainkan permainan berbahaya, termasuk SC, karena tak tahu bahayanya. Namun, banyak juga remaja yang melakukan permainan menantang bahaya karena didorong rasa ingin tahu atau takut tekanan sosial, seperti takut diangap “cemen” atau tak populer.
“Sikap membangkang itu khas remaja,” kata psikolog anak dan keluarga di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI, Anna Surti Ariani. Remaja, khususnya laki-laki, suka tantangan yang nyerempet bahaya. Tantangan menjadikan mereka merasa hidup, keren, berani, dan lebih diperhatikan orang lain.
Sementara disisi perkembangan otaknya, sistem li- yang mengelola emosi pada remaja lebih berkembang ketimbang korteks prefrontal di bagian otak deoan yang mengelola nalar atau logika.
Karena itu, lanjut Anna, dilarang remaja melakukan mainan berbahaya tak bisa sekedar melarang “pokoknya tidak boleh”, apalagi memainkan dia. Remaja perlu dibangun pemahamannya melalui diskusi dan memberi mereka pertanyaan-pertanyaan untung menggali serta pola berpikirnya.
Sumber: Kompas. 19 Maret 2017. Hal. 5

